Neraca Dagang RI bakal Surplus Lagi Setelah Pelemahan Harga Minyak
Vito July 03, 2026 11:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pemerintah optimistis neraca perdagangan Indonesia akan kembali mencatatkan surplus dalam beberapa bulan ke depan setelah sempat mengalami defisit pada Mei 2026.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, defisit yang terjadi lebih disebabkan tingginya impor minyak dan gas (migas), sementara neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus.

"Sehingga hitungan kami sih di bulan-bulan depan seharusnya bisa balik lagi ke surplus. Seharusnya ya, karena harga minyaknya sudah mulai turun," katanya, kepada wartawan di Kemenko Perekonomian, Jumat (3/7).

Menurut dia, defisit neraca perdagangan pada Juni mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Ia menyebut, penyebab utama adalah defisit neraca migas yang mencapai sekitar 3,7 miliar dolar AS, sedangkan neraca nonmigas masih mencatatkan surplus sekitar 2 miliar dolar AS.

Susiwijono menyatakan, meski harga minyak dunia kini telah turun ke kisaran 73 dolar AS per barel, impor migas yang tercatat pada Juni masih menggunakan kontrak dengan harga bulan sebelumnya yang lebih tinggi.

Akibatnya, nilai impor migas masih besar, sehingga menekan neraca perdagangan secara keseluruhan.

"Dengan impor migas yang tinggi kemarin akhirnya defisitnya migas jauh lebih tinggi daripada surplusnya non-migas. Sehingga kemarin defisit," ucapnya.

"Nah, ke depan mudah-mudahan kan ini harga minyaknya akan turun, sehingga defisit migasnya mudah-mudahan mulai berkurang," tukasnya. 

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026.

Kondisi itu berbalik dari neraca perdagangan di April 2026 yang masih mencatat surplus sebesar 89,1 juta dolar AS. 
Defisit itu menjadi yang pertama setelah Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut atau 6 tahun.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama dipicu besarnya defisit pada sektor migas. 

"Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan komoditas migas yang mencatat defisit sebesar 3,76 miliar dolar AS. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," katanya, dalam konferensi pers, Rabu (1/7). 

Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar 2,15 miliar dolar AS. Surplus itu terutama ditopang komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan maupun nabati, serta besi dan baja. 

Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 23,20 miliar dolar AS atau turun 5,73 persen dari periode sama tahun lalu (year on year/yoy). 

Dari sisi impor, BPS mencatat nilai impor Indonesia mencapai 24,82 miliar dolar AS pada Mei 2026 atau meningkat 22,16 persen dari periode sama tahun lalu. (Tribunnews/Nitis Hawaroh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.