IFBC 2026 Yogyakarta Perbesar Peluang Produk Lokal Bersaing di Pasar Internasional
Yoseph Hary W July 04, 2026 01:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ratusan masyarakat berbondong-bondong memadati hall Jogja Expo Center (JEC) untuk memperdalam perluang bisnis di tengah fluktuasi mata uang.

Mereka percaya peluang usaha kembali terbuka dengan hadirnya Info Franchise & Business Concept Expo (IFBC) 2026, di JEC, selama tiga hari mulai Jumat (3/7/2026) sampai Minggu (5/7/2026). 

IFBC 2026 menjadi ruang terbuka yang menghadirkan ratusan peluang bisnis, kemitraan, dan waralaba dari berbagai sektor industri yang tengah berkembang.

Mengangkat tema “Grow Beyond Boundaries,” penyelenggaraan IFBC 2026 Yogyakarta mencerminkan optimisme dunia usaha dalam menghadapi perubahan pasar sekaligus memperkuat daya saing melalui inovasi dan kolaborasi. 

Buka akses luas untuk masyarakat

Pameran ini dirancang untuk memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat dalam mengenal berbagai model bisnis yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

Ratusan peluang usaha dari berbagai sektor industri yang siap menjadi referensi bisnis bagi masyarakat Yogyakarta, Jawa Tengah, dan sekitarnya. 

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Temmy Satya Permana mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat ruang kolaborasi untuk melahirkan berbagai terobosan produk lokal yang mampu menguasai pasar domestik. 

Menurutnya, penguatan UMKM tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi, tetapi juga pada keberpihakan masyarakat dalam memilih produk buatan Indonesia. 

Temmy mengaku prihatin karena berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri masih didominasi barang impor. 

Berdasarkan hasil survei terhadap sejumlah kategori produk lokal, mulai dari pakaian, celana, hingga pakaian dalam, Indonesia dinilai memiliki kemampuan memproduksi sendiri, namun pangsa pasarnya masih banyak dikuasai produk dari luar negeri.

"Kita memiliki kemampuan untuk memproduksi berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun yang terjadi justru banyak produk impor yang menguasai pasar. Padahal barang-barang seperti baju, celana, hingga pakaian dalam sebenarnya bisa dibuat oleh pelaku usaha kita sendiri," kata Temmy.

Dia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan UMKM. 

Terlebih, pertumbuhan belanja melalui platform daring membuat produk impor semakin mudah masuk ke pasar Indonesia dengan harga yang sangat murah.

"UMKM saat ini tidak baik-baik saja. Belanja online berkembang luar biasa, sementara banyak produk dari luar negeri dijual dengan harga sangat murah, bahkan hanya Rp3.000 sampai Rp5.000. Kondisi ini tentu memberikan tekanan besar bagi produk lokal," ujarnya.

Dukung Produk Lokal

Menurut Temmy, pemerintah telah berupaya memberikan perlindungan terhadap produk dalam negeri. 

Salah satunya melalui revisi kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan yang mewajibkan pencantuman negara asal produk sehingga konsumen dapat mengetahui apakah barang yang dibeli merupakan produk lokal atau impor.

"Salah satu revisi dari Kementerian Perdagangan adalah kewajiban mencantumkan negara asal barang. Dengan begitu masyarakat mengetahui produk yang mereka beli berasal dari Indonesia atau dari luar negeri," jelasnya.

Meski demikian, Temmy menilai regulasi saja tidak cukup tanpa didasari kesadaran masyarakat untuk membeli produk lokal.

"Kalau kita tidak membangun kebanggaan terhadap produk bangsa sendiri, negara kita hanya akan menjadi pasar bagi negara lain. Banyak masyarakat yang belum peduli apakah produk yang dibeli lokal atau impor," ungkapnya.

Temmy juga menyoroti masih rendahnya dominasi produk lokal di platform perdagangan digital. 

Dari jutaan produk yang beredar di marketplace, proporsi produk dalam negeri dinilai masih sangat kecil, sementara produk impor terus mendominasi berbagai kategori.

Karena itu, Kementerian UMKM terus mendorong lahirnya kolaborasi yang mempertemukan calon pengusaha, pelaku usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan agar tercipta produk-produk inovatif yang mampu bersaing di pasar.

Produk lokal bersaing di internasional

Dewan Penasihat Asosiasi Franchise Indonesia, Jahja B. Soenarjo menilai dengan agenda IFBC 2026 mampu membangun semangat kewirausahaan UMKM. 

Menurutnya UMKM menjadi tulang punggung yang kuat, termasuk dalam kondisi ekonomi yang berat.

Selain itu, Jahja juga menilai bahwa produk UMKM dalam negeri mampu bersaing dengan produk luar negeri. 

“Jika bisa bersinergi akan bisa merambah industri global. Mengangkat waralaba UMKM di negeri sendiri dan internasional,” kata Jahja.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, Anang Sukandar yang menilai bahwa produk dalam negeri mampu bersaing dengan berbagai produk luar negeri. 

Menurutnya sejumlah produk dalam negeri pernah berjaya mencapai pasar global.

IFBC 2026 tidak hanya menghadirkan peluang usaha, tetapi juga menyuguhkan berbagai program edukatif dan inspiratif selama tiga hari penyelenggaraan. 

Beragam seminar, talkshow, dan sesi berbagi pengalaman bisnis akan dihadirkan untuk memberikan wawasan praktis kepada pengunjung mengenai strategi membangun usaha yang berkelanjutan. (hda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.