Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Peneliti Utama Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Siti Zuhro mengatakan bahwa desa yang inovatif menjadi pondasi demi mewujudkan Kabupaten Lumajang berdaya saing

"Desa yang mampu mengembangkan potensi lokal melalui berbagai inovasi akan menjadi pondasi penting bagi terwujudnya kabupaten yang lebih maju, adaptif, dan memiliki daya saing," katanya dalam kegiatan Semeru Corpu Lumajang Series 6 di Kantor Bupati Lumajang, Jumat.

Apabila Lumajang menjadi kabupaten inovatif, maka desa-desa juga harus menjadi desa yang inovatif, sehingga pembangunan desa akan lebih optimal apabila didukung kepemimpinan yang mampu menjadi penggerak perubahan.

Ia menjelaskan bahwa keberhasilan daerah tidak diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari kemampuan mengelola potensi daerah menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

"Inovasi perlu menjadi budaya dalam penyelenggaraan pemerintahan dengan mengedepankan kolaborasi, tata kelola yang adaptif, serta pemanfaatan potensi lokal sebagai penggerak pembangunan," katanya.

Melalui pendekatan tersebut, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperkuat perekonomian lokal, serta menghadirkan pelayanan publik yang semakin berkualitas.

Sementara itu, Pemkab Lumajang terus memperkuat budaya inovasi di lingkungan aparatur sipil negara (ASN) sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik yang lebih cepat, mudah, transparan, dan berdampak bagi masyarakat.

"Inovasi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Meningkatnya ekspektasi masyarakat harus dijawab dengan birokrasi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi," kata Bupati Lumajang Indah Amperawati.

Ia menjelaskan, inovasi tidak selalu identik dengan menciptakan sesuatu yang baru. Penyederhanaan proses kerja, percepatan pelayanan, peningkatan transparansi, dan penguatan akuntabilitas merupakan bentuk inovasi yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.