TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Perjuangan berat harus dirasakan oleh para sopir truk angkutan barang di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, demi bisa mengais rezeki untuk keluarga tercinta.
Demi memastikan armada mereka bisa berjalan mencari nafkah, para sopir ini harus rela mengorbankan waktu berjam-jam hanya untuk mengantre bahan bakar.
Pemandangan melelahkan ini salah satunya terlihat jelas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pisang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Sabtu (4/7/2026) pagi.
Sejak pagi hari, puluhan truk berukuran besar sudah berbaris rapi dan mengular panjang hingga meluber ke bahu jalan di sekitar area SPBU tersebut.
Satu di antara sekian banyak sopir yang harus bersusah payah berdiri di dalam antrean panjang tersebut adalah pria bernama Wandre.
Baca juga: Sopir Truk Rela Mengantre H-1 demi Siasati Antrean Solar di Padang: Takut Kehabisan Stok
Pria berusia 34 tahun ini mengaku, dirinya sudah tertahan di dalam barisan antrean sejak setengah jam yang lalu demi bisa mendekati dispenser pengisian Solar.
Bagi Wandre, menghabiskan waktu produktif di atas aspal SPBU seperti ini merupakan potret buram yang harus ia hadapi hampir setiap kali ingin berangkat bekerja.
Ia menceritakan bahwa proses pengisian bahan bakar jenis Solar memang jarang bisa berlangsung cepat lantaran banyaknya truk-truk berukuran besar yang mengantre.
Kondisi ini diperparah karena mayoritas pengemudi armada logistik rata-rata memilih untuk mengisi tangki kendaraan mereka hingga penuh atau full tank.
"Antrean solar ini sudah biasa jarang yang cepat, karena banyak yang isi full tank lalu truk-truk besar yang mengantre juga sangat banyak," keluh Wandre saat ditemui TribunPadang.com di lokasi, Sabtu (4/7/2026).
Baca juga: Cuaca Mentawai Sabtu 4 Juli 2026 Berpotensi Hujan Ringan sejak Siang, BMKG Minta Warga Waspada
Nasib serupa juga harus dirasakan oleh Bagus, pengemudi armada truk lainnya yang posisinya tepat mengantre di belakang kendaraan milik Wandre.
Bagus yang juga sudah terjebak selama hampir tiga puluh menit di dalam antrean, hanya bisa pasrah melihat lambatnya pergerakan kendaraan di depannya.
Ia mengungkapkan bahwa bagi kalangan sopir jalanan seperti dirinya, rutinitas mengantre berjam-jam ini sudah dianggap sebagai makanan sehari-hari.
Bagus menuturkan, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain memupuk rasa sabar yang ekstra demi bisa mengamankan pasokan bahan bakar untuk perjalanan jauh.
"Kita harus bersabar untuk mengisi full tank, jadi saat perjalanan nanti semuanya aman dan terkendali tanpa takut mogok," ungkap Bagus dengan nada tegar.
Bagi para sopir truk ini, perjuangan menguras waktu dan tenaga di SPBU merupakan satu-satunya cara agar roda perekonomian keluarga mereka bisa terus berputar. (*)