Tradisi Kebur Ubalan Kediri Sedot Ribuan Pengunjung, Gunungan 5 Meter Jadi Rebutan
Rendy Nicko July 04, 2026 12:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Tradisi Kebur Ubalan kembali menjadi magnet bagi ribuan warga di kawasan Wisata Sumber Ubalan Desa Jarak Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Sabtu (4/7/2026). Ritual yang digelar setiap Bulan Suro itu tak hanya menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga terus menguatkan daya tarik wisata budaya dan alam di Kabupaten Kediri.

Sejak pukul 08.00 WIB, kawasan Sumber Ubalan telah dipenuhi masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Mereka rela menunggu prosesi adat dimulai untuk menyaksikan kirab gunungan hingga tradisi berebut hasil bumi yang menjadi puncak acara.

Seperti tahun sebelumnya, panitia menyiapkan lima gunungan hasil bumi. Empat gunungan berukuran sedang dikirab mengelilingi desa hingga bermuara di kawasan titik awal sumber mata air. Sementara satu gunungan utama setinggi sekitar lima meter berdiri megah di area wisata Sumber Ubalan.

Gunungan tersebut dihiasi beragam hasil pertanian khas Desa Jarak mulai dari jagung, kubis, cabai, kacang panjang, bawang merah, terong hingga nanas. Seluruh isi gunungan berasal dari hasil panen warga sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.

Baca juga: Agungkan Bulan Suro, Dua Pusaka Presiden Soekarno Dijamas di Situs Ndalem Pojok Kediri

Prosesi kirab berlangsung meriah dengan iringan musik tradisional serta warga yang mengenakan pakaian adat. Untuk menghindari kepadatan lalu lintas, rombongan mengambil rute melalui jalan lingkungan hingga akhirnya berkumpul di kawasan Sumber Ubalan.

Sebelum gunungan diperebutkan, para sesepuh desa memimpin doa bersama. Tujuh kendi berisi air dari sumber mata air Ubalan kemudian dituangkan ke kolam sebagai simbol harapan agar hujan turun, hasil pertanian melimpah, dan masyarakat dijauhkan dari berbagai bencana.

Begitu doa selesai dipanjatkan, ribuan warga langsung berlarian menuju gunungan. Suasana berubah riuh ketika masyarakat berebut hasil bumi yang dipercaya membawa berkah bagi keluarga maupun usaha mereka.

Kepala Desa Jarak, Mohamad Toha menjelaskan rangkaian Kebur Ubalan diawali dengan sedekah leluhur yang dilaksanakan di Balai Desa Jarak dan kawasan Sumber Ubalan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri desa.

Menurutnya, empat gunungan dikirab menuju kawasan sumber, sedangkan satu gunungan utama disiapkan di lokasi acara. Seluruh gunungan merupakan hasil gotong royong RT, RW dan masyarakat Desa Jarak.

Toha mengatakan ritual di Sumber Ubalan memiliki makna khusus sebagai doa bersama agar musim tanam berjalan baik dan para petani dijauhkan dari gangguan hama maupun kekeringan.

"Harapannya petani aman dari hama, hasil panennya melimpah, sehingga kesejahteraan warga Desa Jarak bisa terus meningkat," jelasnya.

Selain pembagian hasil bumi, panitia juga membagikan lebih dari seribu porsi dawet, kopi, dan nasi pecel secara gratis kepada pengunjung. Tradisi tersebut menjadi pelengkap kemeriahan acara yang setiap tahunnya selalu dinantikan masyarakat.

Toha memperkirakan jumlah pengunjung yang hadir mencapai sekitar 10 ribu orang. Menurutnya, Kebur Ubalan kini tak hanya menarik perhatian warga Kabupaten Kediri, tetapi juga pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang untuk menyaksikan tradisi tersebut.

Dia berharap keberadaan wisata Sumber Ubalan semakin dikenal luas melalui penyelenggaraan tradisi tahunan tersebut. Menurutnya, pelaksanaan Kebur Ubalan merupakan swadaya masyarakat, sedangkan pengelolaan kawasan wisata berada di bawah Pemerintah Kabupaten Kediri.

"Semuanya gotong royong dari masyarakat Desa Jarak," ungkapnya. 

Dukungan terhadap pelestarian tradisi itu juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Mustika Adi Prayitno melalui sambutan yang dibacakan Ahmad Kudhori.

Anda bisa menambahkan bagian ini setelah paragraf yang menjelaskan dukungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Adi Prayitno, dalam sambutan yang dibacakan Staf Bidang Museum dan Purbakala Ahmad Kudhori. menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Desa Jarak dalam menjaga tradisi Kebut Ubalan.

Menurutnya, Sedekah Bumi yang diramaikan dengan pembagian 1.000 gelas dawet, 1.000 cangkir kopi, serta nasi pecel gratis menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya lokal dapat dikemas menjadi daya tarik wisata yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

Mustika menilai, tradisi tersebut tidak hanya mempererat silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan potensi Wisata Sumber Ubalan kepada masyarakat yang lebih luas.

Wisata berbasis kearifan lokal seperti Kebur Ubalan, menurutnya, perlu terus didorong agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat desa sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Kediri.

"Acara ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi warga, tetapi juga menjadi magnet pariwisata untuk mengenalkan potensi Wisata Sumber Ubalan kepada masyarakat luas," jelasnya. 

Pihaknya berharap tradisi Kebur Ubalan terus berkembang sebagai agenda budaya tahunan yang semakin dikenal luas.

Dengan pengemasan yang baik, potensi wisata alam dan budaya di Sumber Ubalan diyakini mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat Desa Jarak.

"Potensi budaya yang dimiliki Sumber Ubalan layak terus dikembangkan agar semakin banyak wisatawan datang ke Kabupaten Kediri," tandasnya. 

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.