Cerita Angela, Penyandang Tunanetra yang Berhasil Taklukkan Ujian SNBT UGM
Hari Susmayanti July 04, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keterbatasan fisik tak pernah menyurutkan langkah Angela Electra Vega Suseno (17).

Di balik indra penglihatannya yang tak lagi mampu menangkap cahaya, gadis penyandang tunanetra total sejak kecil ini justru berhasil melihat masa depannya dengan sangat benderang.

Lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) yang ketat, Angel, sapaan akrabnya, baru saja merengkuh kursi mahasiswa baru Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Keberhasilan Angel bukanlah sebuah kebetulan yang lahir semalam, melainkan buah dari ekosistem keluarga yang berlimpah cinta.

Ia tumbuh di tengah keluarga yang tak hanya menerima kondisinya tanpa syarat, tetapi juga menjadi penuntun langkah paling setia.

Kasih sayang itu terekam jelas dalam ingatannya, terutama ketika sang kakak rela mendampinginya penuh di dalam kelas saat Angel masih duduk di bangku SMP, membagi waktu dengan jadwal perkuliahan sang kakak kala itu.

Kini, lolosnya Angel ke UGM tak sekadar pencapaian akademis personal, tetapi juga momen emosional yang melengkapi kepingan teka-teki keluarganya.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini resmi menjadi pewaris sah tradisi akademik di rumahnya, menyusul jejak kedua orang tua dan kakak-kakaknya yang seluruhnya merupakan alumnus Kampus Biru.

“Ayah alumni Teknik Elektro, Mama dari MIPA Ilmu Komputer, kakak D4 Teknologi Rekayasa Internet, dan FKKMK. UGM ini juga mimpi sejak SMP,” sebut Angel, mengisahkan motivasi terbesarnya untuk berjuang di jalur masuk perguruan tinggi negeri.

Transisi terbesar Angel menuju kemandirian diuji saat ia memasuki jenjang SMA di BOPKRI 2 Yogyakarta.

Jika sejak SD hingga SMP ia selalu dibersamai oleh pendamping, bangku SMA menjadi titik tolak baginya untuk berinteraksi dan belajar secara mandiri.

Beruntung, ia berada di lingkungan yang inklusif. Teman-teman sebayanya menyambut hangat, membantunya berdinamika dan meruntuhkan sekat-sekat perbedaan di sekolah.

Baca juga: BREAKING NEWS : Pengemudi Becak Motor Ditemukan Meninggal Saat Beristirahat di Kawasan Ngampilan

Teknologi menjadi "mata" kedua bagi Angel.

Dalam proses belajar mengajar, ia mengandalkan fitur screen reader (pembaca layar) pada gawainya untuk mengakses literatur akademik.

Kesadaran para pendidik di sekolahnya juga memegang peranan krusial dalam adaptasi ini.

“Biasanya guru akan mengirim materi dulu dalam bentuk PDF sehingga memudahkan untuk ikut belajar bersama teman-teman lainnya,” ujarnya.

Dukungan sosiologis dari lingkungan inilah yang diakui Angel memberikan ketenangan mental.

“Sehingga saya enggak merasa kesulitan sama sekali untuk mengikuti sampai lulus, terus tenang,” ucapnya.

Ujian tulis berbasis komputer untuk SNBT jelas menghadirkan teror tersendiri, apalagi bagi peserta tunanetra yang harus bersaing dengan ratusan ribu peserta reguler.

Sadar akan tantangan tersebut, Angel mempersiapkan diri jauh hari. Ia mengikuti les privat dan membedah materi kajian lewat YouTube.

Baginya, kanal YouTube seperti "Laksana Rangkuman Audio UTBK" menjadi senjata ampuh karena formatnya yang berbasis audio sangat ramah bagi penyandang disabilitas netra.

Hari ujian tiba dan membawa ketegangan baru. Itu adalah kali pertama Angel benar-benar menjamah perangkat komputer untuk ujian formal berskala nasional.

Sebagai panduan, pengawas memberikan kisi-kisi shortcut pada keyboard, seperti kombinasi tombol Alt+A untuk kembali ke soal sebelumnya, dan penggunaan kursor untuk mengarahkan pilihan jawaban.

“Dan untungnya bisa beradaptasi dengan cepat. Jadi kepanikan itu tidak mengganggu dalam mengerjakan,” jelasnya, mengenang momen menegangkan di balik layar monitor ujian.

Baca juga: Buntut Aksi Ugal-ugalan dan Gesek Standar Motor di Dlingo, 11 Remaja Diamankan Polisi

Menatap Riset Sosiologi

Pilihan Angel jatuh pada Sosiologi bukan tanpa alasan. Berawal dari rekomendasi seorang guru yang jeli melihat potensinya, Angel mulai menyelami seluk-beluk ilmu kemasyarakatan tersebut dan menemukan panggilannya di sana.

“Setelah saya baca-baca lagi itu ternyata sosiologi menarik banget karena di situ ada penelitian-penelitian. Sebelumnya pernah ikut lomba-lomba esai, tetapi belum pernah menang. Jadi pengen coba lagi di kuliah,” ungkap peraih Juara Harapan 2 Lomba Mendongeng Bahasa Jawa tingkat Kabupaten Bantul dan Juara 2 Speech Contest on Global Friendship di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ini.

Menjelang bergulirnya tahun ajaran baru, Angel menyadari bahwa dunia kampus akan menuntut resiliensi yang lebih tinggi.

Khawatir akan proses adaptasi dari bangku sekolah menengah ke ekosistem kampus yang plural, ia telah menyusun strategi.

Angel berencana segera bergabung dengan organisasi Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, serta mencari komunitas berbasis penelitian untuk mengasah potensinya.

Dari balik kegelapan yang mengiringi langkahnya sejak kecil, Angel menitipkan secercah cahaya bagi siapa saja yang tengah berjuang melawan keterbatasan.

“Buat teman-teman tetap semangat karena kita enggak tahu rencana Tuhan tuh indah buat kita. Apapun jalan yang kita pilih selama itu baik, tetap diperjuangkan sampai kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan,” ungkapnya, menutup kisah dengan sebuah pesan yang melampaui batas ruang kelas. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.