Sosok MAN, Wanita Cirebon Ngaku Disiksa Oknum Polisi Bertahun-tahun hingga Minta Disuntik Mati
Musahadah July 04, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID – Ini lah sosok MAN (inisial) (30), seorang ibu di CIrebon, Jawa Barat yang diduga menjadi korban penyiksaan oknum polisi. 

MAN mengaku disiksa oknum polisi itu sejak tahun 2023. 

Kasus ini sudah dilaporkan MAN ke Bareskrim Polri pada Kamis (2/7/2026) lalu didampingi tim hukum dari Hotman 911.   

DIkutip dari Tribun Jabar, MAN menceritakan nasib pilu yang dialami saat ditemui di kantor perwakilan Hotman 911 di kawasan Pancuran, Kota Cirebon, Jawa Barat, pada Jumat (3/7/2024).   

Dengan suara bergetar, MAN mengawali ceritanya tentang dugaan kekerasan yang menurut pengakuannya terjadi selama menjalin hubungan dengan seorang anggota polisi berinisial Aiptu N.

Baca juga: Kondisi Terkini YTR Korban Penyekapan dan Penganiayaan Taufik Hidayat, Disterilkan Jelang Operasi

"Kejadiannya ya yang aku alami, aku mengalami penyiksaan, terus sampai penyiraman air keras," ujar MAN, saat diwawancarai media, Jumat (3/7/2026).

Menurut pengakuannya, perkenalan dengan terlapor bermula dari seorang teman pada pertengahan 2023.

Namun sejak awal hubungan tersebut, ia mengaku sudah mengalami perlakuan yang tidak semestinya.

 "Awal mula aku dikenalin oleh teman. Di awal pertama kenal juga udah dicekokin narkotika," ucapnya.

Selain itu, ia juga mengaku beberapa kali mengalami kekerasan fisik.

"Ya, pernah dipukul," jelas dia, singkat sebelum terdiam.

MAN bahkan disiram air keras pada September 2025. 

Selama menjalani hubungan tersebut, MAN mengaku hidup dalam ketakutan.

Ia mengklaim menerima intimidasi dan ancaman yang membuatnya memilih diam selama bertahun-tahun.

"Lebih ke penyiksaan, pemukulan, terus juga akan disebari video asusila," katanya, saat ditanya mengenai ancaman yang paling membuatnya takut.

Disiksa Depan Anak

Bagian paling menyakitkan dari kisah yang disampaikannya bukanlah soal luka fisik.

Air mata MAN kembali pecah ketika menceritakan nasib anaknya yang disebut ikut menyaksikan dugaan penyiksaan tersebut.

Saat ditanya apakah anaknya melihat langsung kejadian yang dialaminya, MAN menjawab singkat.

"Menyaksikan," ucap MAN.

Tak lama kemudian, tangisnya pecah.

Ia mengaku anaknya yang saat itu masih berusia sekitar dua tahun berada di lokasi ketika dugaan kekerasan terjadi.

"Iya, dulu menyaksikan penyiksaan," jelas dia, sambil menangis.

MAN kemudian mengungkap pengakuan yang membuat suasana wawancara berubah haru.

Menurutnya, anaknya bukan hanya melihat dugaan penyiksaan yang dialaminya, tetapi juga menyaksikan berbagai peristiwa penyimpangan seksual yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya.

Ia juga mengaku anaknya pernah diperlihatkan konten yang tidak pantas.

"Sampai anak aku pernah pinjam HP beliau, ditontonin video asusila. Itu anak umur 2 tahun!" ujarnya, sambil menangis histeris.

Beban yang dipendam selama ini, kata MAN, membuat dirinya hidup dalam ketakutan berkepanjangan.

Ia mengaku bukan hanya menanggung luka fisik, tetapi juga trauma yang terus menghantuinya.

"Aku takut, aku makanya enggak berani selama ini. Karena udah banyak tekanan. Aku bukan cuman luka bakaran yang dialami, luka batin juga, kan. Selama ini aku pendam," ucap MAN, sembari menangis.

Kini, setelah memilih menempuh jalur hukum, MAN berharap kasus yang dilaporkannya dapat diproses secara adil.

"Harapannya semoga dihukum seberat-beratnya sesuai perbuatannya," jelas dia.

Minta Disuntik Mati Ibunya

SH, ibu MAN tidak pernah membayangkan putrinya, MAN (30), sampai kehilangan semangat hidup karena diduga mengalami serangkaian kekerasan selama bertahun-tahun.

SH pun membawa putrinya ke kantor kuasa hukum perwakilan Hotman 911 di kawasan Pancuran, Kota Cirebon, Jumat (3/7/2026) petang. Di tempat ini, SH tak mampu menahan air mata saat menceritakan kondisi psikologis anaknya.

Di hadapan petugas kantor dan wartawan, SH memaparkan kisah putrinya tersebut. Menurut Sri, putrinya pernah menyampaikan kalimat yang membuat hatinya hancur.

"Dia tuh sampai pernah ngomong gini sama saya. 'Mama...' Saya bilang, 'Apa, Nduk?' Terus dia bilang, 'Mama punya suntikan buat MAN aja? Buat suntikan mati'," ujar SH sambil menahan tangis.

Mendengar ucapan tersebut, SH mengaku berusaha menguatkan putrinya agar tetap bertahan demi anak semata wayangnya yang masih berusia empat tahun.

"Saya bilang, 'Kamu enggak kasihan sama (anak kamu)? (Dia) tuh masih ingin sesosok seorang ibu. Kalau enggak ada kamu sama siapa? Mama udah tua, kasihan, anak harus sama mamanya'," ucapnya.

Tangis SH kembali pecah ketika mengingat kondisi putrinya saat pertama kali melihat langsung luka yang dialami MAN.

Ia mengaku hampir pingsan karena tidak sanggup melihat kondisi anaknya saat itu.

 "Ya Allah, saya tuh enggak tega melihat. Saya udah pengen pingsan. Enggak menyangka. Bajunya nempel ke kulit. Telanjang, Mas. Telanjang," jelas dia, dengan suara bergetar.

SH mengatakan, saat itu dirinya hanya bisa menangis melihat putrinya datang ke rumahnya dalam kondisi memprihatinkan.

"Dia bilang, 'Mama jangan menangis.' Ya menangis, anak saya kayak gini masa enggak menangis," katanya.

Sebagai seorang ibu, SH mengaku tidak pernah menyangka putrinya akan mengalami kondisi seperti sekarang.

Apalagi, selama ini MAN dikenal sebagai sosok yang sehat dan ceria.

"Saya enggak menyangka, Mas. Masa anak saya begini saya enggak mau. Sakit hatinya. Mending badan ibu dipukuli ketimbang hati. Enggak bisa dijelaskan sakitnya," ujarnya, sambil terisak.

Lalu, siapakah oknum polisi tersebut?

Terlapor merupakan anggota aktif Polres Tegal Kota berinisial Aiptu N.

Saat ini proses pidana ditangani Bareskrim Polri, sementara pemeriksaan etik dan disiplin dilakukan oleh Bidang Propam Polda Jawa Tengah.

Polda Jawa Tengah juga telah menahan Aiptu N untuk kepentingan pemeriksaan.

SH mengaku sempat memiliki firasat ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan putrinya dengan pria yang kini dilaporkan ke polisi.

Namun saat itu ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Menurutnya, ketika beberapa kali berada di Tegal, pria tersebut justru sering menghindari pertemuan dengannya.

"Kalau ke rumah saya tuh enggak sering tatapan muka. Menghindar terus. Kalau saya tidur dia baru pulang. Kalau saya bangun dia sudah enggak ada. Jadi kayak siluman," ucap SH.

Ia juga mengaku terkejut saat mengetahui putrinya disebut menjalani pernikahan siri tanpa sepengetahuan keluarga.

"Enggak ada yang tahu satu pun dari keluarga. Yang tahu cuma teman-temannya dia (terduga pelaku) saja," jelas dia.

Kini, SH berharap proses hukum yang sedang berjalan dapat memberikan keadilan bagi putrinya.

Ia mengaku tidak ingin ada korban lain yang mengalami nasib serupa.

"Setimpal hukumannya lah. Lihat anak saya begini ya dia harus rasain juga. Seberat-beratnya. Karena anak saya yang tidak bersalah jadi korban," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.