Kesehatan usus berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Karena itu, menjaga kondisi usus tetap sehat menjadi salah satu langkah penting untuk mempertahankan kesehatan.
Dikutip dari Eat This, Not That, penelitian menunjukkan kesehatan usus berperan dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Bahkan, beberapa studi menemukan ketidakseimbangan mikrobioma usus yang terjadi terus-menerus dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit autoimun.
Tak hanya itu, penelitian juga menunjukkan bahwa mikrobioma usus dapat memengaruhi sistem saraf pusat yang mengatur fungsi otak. Karena itulah, para ahli menganjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mendukung kesehatan usus sekaligus membatasi minuman tertentu yang dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma.
Mengonsumsi jenis minuman yang kurang tepat berpotensi mengganggu kesehatan usus. Umumnya, minuman tersebut mengandung gula tinggi, pemanis buatan, tingkat keasaman yang tinggi, atau bahan lain yang dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma dan proses pencernaan.
Minuman yang Bisa Merusak Usus
Meski demikian, bukan berarti semua minuman tersebut harus dihindari sepenuhnya. Sebagian besar masih dapat dikonsumsi dalam jumlah wajar tanpa menimbulkan efek samping.
Selain itu, reaksi yang muncul setelah mengonsumsinya bisa berbeda pada setiap orang dan lebih sering terjadi pada individu yang sensitif terhadap kandungan tertentu. Jika merasa suatu minuman memicu keluhan pencernaan atau mengganggu kesehatan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.
1. Minuman Tinggi Gula
Ahli gizi Toby Amidor, MS, RD, CDN, FAND, mengatakan salah satu minuman yang kurang baik untuk kesehatan usus adalah minuman dengan tambahan gula tinggi, seperti lemon tea manis dan es teh manis.
Menurutnya, penelitian yang dipublikasikan pada 2020 menunjukkan pola makan tinggi gula dapat memicu peradangan dan mengganggu keseimbangan bakteri baik serta bakteri jahat di usus. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Ia juga mengingatkan agar membatasi konsumsi minuman sari buah yang mengandung banyak gula tambahan tetapi minim nilai gizi.
Jika menginginkan minuman yang manis dan menyegarkan, Amidor menyarankan memilih jus buah 100 persen tanpa tambahan gula.
"Minuman yang sebagian besar terdiri dari gula tambahan tanpa nilai gizi dapat mengubah keseimbangan mikrobioma usus sehingga bakteri jahat menjadi lebih dominan," katanya.
"Jika ingin minum jus, pilihlah jus buah atau sayuran 100 persen karena tetap mengandung vitamin, mineral, dan fitonutrien."
Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), konsumsi gula harian diatur oleh Permenkes Nomor 30 Tahun 2013. Aturan tersebut mengatur tentang pencantuman informasi kandungan gula, garam dan lemak serta pesan kesehatan pada pangan siap saji dan pangan olahan.
Menurut Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10 persen dari total energi (200kkal). Konsumsi tersebut setara dengan gula 4 sendok makan per orang per hari atau 50 gram per orang per hari.
Adapun konsumsi gula yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan obesitas. Asupan gula tambahan, terutama dari minuman berpemanis seperti teh kemasan, soda, sirup, atau kopi dengan kandunga gula yang banyak. Begitu juga makanan manis seperti kue, permen, dan cokelat. Pola konsumsi ini terbukti meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2.
2. Minuman Berenergi
Jika sering mengandalkan minuman berenergi untuk mengatasi rasa lelah, sebaiknya mulai membatasi konsumsinya.
Menurut ahli gizi Lauren Harris-Pincus, minuman berenergi dengan kandungan kafein tinggi dapat memicu gastritis, peradangan, meningkatkan pergerakan usus, hingga menyebabkan diare.
"Minuman berenergi dengan kandungan kafein tinggi dapat menyebabkan gastritis, peradangan, peningkatan motilitas usus, dan diare," ujarnya.
Pincus menjelaskan, kelebihan kafein dapat merangsang lambung memproduksi lebih banyak asam daripada biasanya sehingga memperburuk gejala refluks asam lambung.
"Kafein juga dapat menyebabkan tubuh gemetar () dan meningkatkan kecemasan, yang dapat memperburuk gejala pada penderita irritable bowel syndrome (IBS)," tambahnya.
Adapun minuman energi juga mengandung kafein dan gula yang tinggi. Dikutip dari laman (FDA), bagi kebanyakan orang dewasa, FDA menetapkan batas konsumsi kafein sebesar 400 miligram per hari, setara dengan sekitar dua hingga tiga cangkir kopi berukuran 350 ml, sebagai jumlah yang umumnya tidak menimbulkan efek negatif.
Namun, sensitivitas terhadap kafein dan kecepatan tubuh dalam memprosesnya bisa berbeda-beda pada tiap orang. Kondisi tertentu dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap kafein, begitu pula penggunaan obat-obatan tertentu.
Pada kehamilan, masa menyusui, atau saat merencanakan kehamilan, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan perlu tidaknya membatasi konsumsi kafein.
3. Kopi
Minuman berkafein seperti kopi bersifat stimulan yang dapat meningkatkan pergerakan usus (). Akibatnya, makanan dan limbah di saluran pencernaan bergerak lebih cepat sehingga pada sebagian orang dapat memicu buang air besar encer atau diare, yang berisiko menyebabkan dehidrasi.
Selain itu, kafein juga merupakan diuretik ringan yang membuat seseorang lebih sering buang air kecil. Tak hanya berdampak pada pencernaan, konsumsi kafein juga dapat meningkatkan rasa cemas dan stres, mengganggu kualitas tidur, serta memperburuk gejala pada pengidap sindrom iritasi usus (irritable bowel syndrome/IBS).
Dikutip dari Healthline, sebuah studi pada 2021 menunjukkan orang yang mengonsumsi kafein dalam jumlah lebih tinggi cenderung mengalami perubahan pada komposisi mikrobiota usus yang berkaitan dengan IBS.
Berbagai efek tersebut dapat memperparah gejala IBS, terutama pada orang yang lebih sensitif terhadap kandungan tertentu dalam kopi, seperti kafein.
Meski demikian, bukan berarti semua penderita IBS harus menghindari kopi. Faktanya, kopi masih dapat dikonsumsi dalam pola makan rendah FODMAP (), yaitu pola makan yang sering digunakan sebagai bagian dari penanganan IBS.
Diet rendah FODMAP membatasi konsumsi karbohidrat tertentu yang mudah difermentasi di saluran cerna, yakni FODMAP, yang diketahui dapat memicu berbagai keluhan pencernaan pada sebagian orang.
Hingga saat ini, belum ada kesimpulan pasti mengenai apakah pengidap IBS sebaiknya mengonsumsi atau menghindari kopi. Peran kopi terhadap IBS masih menjadi perdebatan karena hasil berbagai penelitian menunjukkan temuan yang berbeda-beda.
4. Minuman Beralkohol
Mengonsumsi bir, koktail, anggur, atau minuman beralkohol lainnya secara berlebihan dan terus-menerus dapat mengganggu keseimbangan bakteri di usus.
"Alkohol dapat memengaruhi mikrobiota usus sehingga menyebabkan ketidakseimbangan bakteri, dengan pertumbuhan bakteri jahat yang lebih banyak. Ketidakseimbangan ini memicu peradangan," jelas profesor gizi Joan Salge Blake dari Boston University.
Ia menambahkan, penyalahgunaan alkohol dalam jangka panjang juga dapat merusak sel-sel yang melapisi usus sehingga meningkatkan permeabilitas usus (). Kondisi tersebut memungkinkan bakteri dan racun yang dihasilkannya masuk ke aliran darah.
5. Minuman dengan Pemanis Buatan
Saat berusaha mengurangi asupan kalori, banyak orang memilih minuman rendah kalori yang menggunakan pemanis buatan seperti aspartam dan sukralosa.
Namun, pada sebagian orang, kedua pemanis tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti perut kembung, banyak gas, hingga diare. Beberapa penelitian juga menunjukkan pemanis buatan berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.
Bagi orang yang sensitif terhadap pemanis buatan, air putih, air berkarbonasi tanpa pemanis buatan, atau minuman probiotik dapat menjadi alternatif pilihan.





