TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Anjloknya harga telur ayam di bawah harga pasaran menjadi berkah bagi masyarakat. Rendahnya harga jual telur memang mencekik peternak, namun di sisi lain masyarakat panen berkah bisa mendapatkan telur ayam dengan harga lebih terjangkau.
Di tingkat peternak Jepara, harga jual telur ayam saat ini dibandrol Rp 18.500 - Rp 20.000 per kilogram. Sementara harga telur ayam di pedagang pasar tradisional di angka Rp 22.000 - Rp 22.500 per kilogram.
Kondisi ini menjadi momentum yang menggembirakan bagi masyarakat setelah mengalami harga telur tinggi cukup lama di atas Rp 26.000 per kilogram.
Masyarakat pun memanfaatkan situasi anjloknya harga telur dengan melebihkan belanja kebutuhan telur dari hari-hari biasa. Dimaksudkan sebagai stok kebutuhan selagi harga telur murah.
Seperti yang dilakukan Asmiyati, pedagang nasi goreng di Demaan Jepara.
Bagi dia, telur ayam merupakan kebutuhan pokok yang dibeli setiap harinya untuk kebutuhan usaha.
Biasanya Asmiyati membutuhkan 3-4 kilogram telur setiap hari yang dicukupi dalam sekali belanja di pasar tradisional.
Dengan kondisi harga telur murah, dia pun membeli telur sekaligus untuk mencukupi kebutuhan telur untuk 3 hari ke depan.
"Setiap hari memang harus beli telur untuk usaha, biasanya butuh 3-4 kilogram. Mumpung harganya murah, belinya sekalian dilebihkan," terangnya, Jumat (3/7/2026).
Baca juga: Penjelasan PLN Soal Listrik Padam di Kota Purwokerto Hari Ini
Asmiyati sempat membeli telur di pedagang pasar tradisional Rp 20.000 per kilogram tiga hari yang lalu. Kini dia kembali membeli telur ayam Rp 22.500 per kilogram.
Menurut dia, harga telur murah yang terjadi harus dimanfaatkan betul bagi masyarakat. Dari sebelumnya 1 kilogram telur dibandrol dengan harga Rp 26.000 ke atas, kini sudah bisa didapatkan dengan harga di bawah Rp 25.000.
Sehingga masyarakat sangat diuntungkan atas anjloknya harga telur ayam di bawah harga pasar pada umumnya.
"Harga normal Rp 25.000 - 26.000 per kilogram. Biasanya cenderung naik, kali ini harganya turun menjadi keuntungan masyarakat," ujarnya.
Anjloknya harga telur ayam juga menjadi berkah bagi pedagang seiring meningkatnya daya beli masyarakat.
Seperti yang dialami Sinta Wati (23), pedagang sembako di Pasar Jepara II.
Harga jual telur ayam di tempatnya sempat menyentuh angka Rp 20.000 per kilogram berlangsung dalam beberapa hari.
Sejak saat itu, animo masyarakat beli telur meningkat. Dari biasanya hanya belanja telur 1 kilogram, kini dilebihkan menjadi 3-4 kilogram dalam sekali belanja.
Meningkatnya daya beli masyarakat disikapi Sinta dengan menambah stok telur setiap harinya. Dari hari biasa 30 peti setara 300 kilogram, dinaikkan menjadi 50 peti setara 500 kilogram.
"Pas harga murah banget Rp 20.000 per kilogram, 50 krat/peti habis dalam sehari. Sampai enggak bisa istirahat sangking banyaknya pembeli," ujar dia.
Kini harga jual telur di tempatnya bergerak naik menjadi Rp 22.500 per kilogram dengan daya beli masyarakat masih tinggi. Menjadi keuntungan masyarakat bisa mendapatkan telur ayam dengan harga murah.
"Harga telur ayam ini kan fluktuatif, sering berubah-ubah. Kadang tinggi, kadang ya tiba-tiba turun drastis. Dan momentum turun ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berburu telur buat stok. Yang dirugikan saat ini peternak," jelasnya.
Sebagai pedagang sekaligus masyarakat umum, Sinta berharap semua kebutuhan pokok stabil dengan harga terjangkau. Termasuk kebutuhan telur ayam yang menjadi kebutuhan harian masyarakat.
Hanya saja, harga jual di pasaran diharapkan di angka rata-rata yang masih bisa dijangkau masyarakat. Agar peternak dan masyarakat sama-sama medapatkan untung tanpa harus ada yang dirugikan. (Sam)