TRIBUNNEWS.COM - Langkah Australia di Piala Dunia 2026 harus terhenti secara menyakitkan setelah kalah adu penalti 2-4 dari Mesir pada babak 32 besar, Sabtu (4/7/2026) dini hari WIB.
Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, Socceroos gagal menjaga asa mereka di babak tos-tosan.
Pada babak adu penalti, dua penendang Australia, Harry Souttar dan Lucas Herrington, gagal bikin gol. Sementara, empat eksekutor The Pharaohs mampu memperdayai Mathew Ryan.
Tersingkirnya, Australia ini bikin wakil Asia tak tersisa di Piala Dunia 2026.
Tim Kanguru menyusul Jepang wakil Asia yang juga tersingkir di 32 besar. Jepang pulang usai kalah dari Brasil 1-2 di Houston Stadium (30/6).
Australia dan Jepang jadi dua tim Asia tersisa yang mampu lolos ke fase gugur di Piala Dunia 2026. Tujuh wakil Asia lainnya sudah terhenti di fase grup. Mereka adalah Korea Selatan, Qatar, Iran, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Uzbekistan.
Qatar, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Uzbekistan jadi juru kunci di fase grup. Irak, Yordania, dan Uzbekistan bahkan tanpa kemenangan di ajang ini. Sementara, Qatar dan Arab Saudi hanya meraih satu poin.
Korea Selatan dan Iran mengakhiri fase grup sebagai peringkat ketiga Grup A dan Grup G dengan tiga poin. Keduanya tersingkir karena tak termasuk dalam delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Habisnya wakil Asia ini tak mencerminkan perfoma mereka di awal turnamen yang sempat sama-sama mengawali start sempurna dengan tidak meraih kekalahan.
Hal itu juga sempat membuat Wakil Ketua Oranje Indonesia, Arnan Binafsihi terkesan dengan performa tim-tim wakil Asia.
"Hasil positif itu membuktikan bahwa pembinaan dan perkembangan sepak bola Asia sudah lebih baik daripada Conmebol/Amerika Latin," kata Arnan Binafsihi, dalam podcast YouTube Super Taktik Tribunnews, di Karanganyar, Jawa Tengah.
Baca juga: Kata Messi usai Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026: Puji Cape Verde, Minta Argentina Berbenah
Usai pertandingan, keputusan pelatih Tony Popovic menjadi bahan perdebatan.
Pergantian kiper menjelang adu penalti memicu tanda tanya besar. Patrick Beach, yang tampil gemilang sepanjang turnamen dan melakukan penyelamatan penting untuk membawa laga ke babak tambahan, justru digantikan oleh Mathew Ryan.
Berdasarkan data ESPN, Beach merupakan kiper dengan nilai penyelamatan gol tertinggi di Piala Dunia 2026 setelah mencegah 2,65 gol lawan.
Namun Popovic tetap memilih Ryan yang lebih berpengalaman meski bukan dikenal sebagai spesialis adu penalti.
Keputusan tersebut memicu kritik dari pendukung Australia.
Selain itu, urutan algojo penalti juga dipersoalkan. Dua pemain bertahan dipercaya menjadi penendang lebih awal, sementara pemain yang lebih ofensif seperti Mohamed Toure maupun Ajdin Hrustic baru disiapkan di belakang.
Terlepas dari drama adu penalti, Australia kembali memperlihatkan persoalan lama yang belum terselesaikan adalah soal penyelesaian akhir.
Gol penyama kedudukan Australia pada pertandingan ini bahkan berasal dari gol bunuh diri bek Mesir, Mohamed Hany.
Artinya, sejak Connor Metcalfe mencetak gol saat mengalahkan Turki 2-0 di laga pembuka, tidak ada lagi pemain Australia yang mampu mencatatkan namanya di papan skor sepanjang turnamen.
Socceroos memang kembali menunjukkan disiplin bertahan, kerja keras, dan semangat juang tinggi. Namun kreativitas untuk membongkar pertahanan lawan dan menghadirkan momen magis di depan gawang masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Kekalahan dari Mesir membuat Australia kembali gagal meraih kemenangan pertama mereka di fase gugur Piala Dunia.
Sebelumnya, Socceroos juga tersingkir pada babak 16 besar oleh Italia pada 2006 dan Argentina pada 2022.
Kini, kesempatan ketiga untuk mematahkan kutukan itu kembali kandas.
Bedanya, kali ini Australia gagal melawan lawan yang di atas kertas dianggap lebih seimbang dibanding Italia maupun Argentina pada edisi-edisi sebelumnya.
Meski Mohamed Salah tidak tampil dalam kondisi terbaik karena mengalami masalah hamstring sepanjang pertandingan, Mesir tetap mampu menunjukkan mental kuat hingga akhirnya keluar sebagai pemenang lewat adu penalti.
Bagi Australia, penantian untuk meraih kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia kini harus kembali ditunda setidaknya hingga edisi 2030.
(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)