Tren Rekrutmen Bergeser, Perusahaan Dituntut Lebih Proaktif Cari Kandidat Pekerja
Content Writer July 04, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Perkembangan pesat teknologi digital secara signifikan telah mengubah dinamika dan cara perusahaan mencari kandidat pekerja dalam beberapa tahun terakhir.

Kehadiran berbagai platform lowongan kerja secara daring memang mempermudah proses administrasi dan publikasi perekrutan, namun tantangan utama di lapangan tetap tidak berubah.

Perusahaan di berbagai sektor masih terus menghadapi kesulitan teknis untuk menemukan talenta yang benar-benar relevan dan sesuai dengan kualifikasi spesifik yang dibutuhkan industri.

Menghadapi pergeseran tren tersebut, efektivitas perekrutan kini tidak lagi bisa sekadar mengandalkan portal lowongan kerja konvensional yang bersifat pasif.

Direktur PT Global Careers Indonesia, I Kadek Sumitra, menilai bahwa adopsi teknologi memang berperan penting dalam mempercepat alur rekrutmen, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada strategi penjangkauan dari tim perekrut.

"Platform dapat membantu mempertemukan perusahaan dengan pencari kerja, tetapi proses rekrutmen yang efektif tetap membutuhkan pendekatan yang aktif dan memahami perilaku kandidat. Tidak semua kandidat berada di satu tempat yang sama," ujar Direktur PT Global Careers Indonesia, I Kadek Sumitra.

Pemahaman mendalam mengenai perilaku pencari kerja ini terbentuk dari pengalaman panjang PT Global Careers Indonesia melalui pengelolaan HHRMA Bali sejak tahun 2009. 

Baca juga: HR Directors Indonesia Summit 2026 Dorong Transformasi Peran HR di Era Teknologi

Berfokus pada rekrutmen di industri perhotelan, pariwisata, dan sektor terkait lainnya selama lebih dari satu dekade, tim perekrut mengamati langsung perubahan perilaku pencari kerja dari waktu ke waktu. Pengamatan ini memicu tim untuk merumuskan ulang cara kerja rekrutmen yang lebih relevan.

Terapkan Pendekatan Sistem Gerilya

Berangkat dari rekam jejak tersebut, tim mengembangkan sebuah pendekatan proaktif yang secara internal disebut sebagai "sistem gerilya".

Melalui strategi ini, pola rekrutmen diubah. Perusahaan tidak lagi hanya menunggu kandidat mengirimkan lamaran melalui portal, melainkan secara aktif menyebarkan informasi untuk menjangkau kandidat melalui optimalisasi berbagai media sosial, komunitas profesional, hingga grup-grup diskusi yang spesifik dengan posisi yang sedang dibuka.

Pendekatan gerilya tersebut terbukti mampu memperluas sebaran informasi lowongan kerja. Target utamanya menjangkau kandidat yang tidak selalu rutin aktif mengunjungi portal lowongan kerja, tetapi sebenarnya masih terbuka terhadap peluang karier baru.

Mekanisme ini dinilai memberikan peluang yang jauh lebih besar bagi perusahaan untuk menemukan kandidat yang sesuai kebutuhan.

Pengalaman operasional lapangan inilah yang kemudian menjadi landasan utama lahirnya Linkarir. Platform digital Linkarir dikembangkan sebagai wujud nyata dari proses rekrutmen bertahun-tahun, sehingga tidak hanya berfungsi sebatas tempat memublikasikan lowongan kerja, tetapi mendukung strategi distribusi informasi agar menjangkau basis kandidat potensial yang lebih luas.

Menurut I Kadek Sumitra, setiap perusahaan memiliki tantangan yang berbeda dalam mencari talenta. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap pasar tenaga kerja, pengalaman rekrutmen, serta strategi yang tepat dalam menjangkau kandidat.

Di tengah persaingan mendapatkan tenaga kerja yang semakin ketat, pendekatan rekrutmen yang proaktif dinilai krusial. Selain membantu mempercepat proses rekrutmen, kombinasi teknologi dan perluasan jangkauan ini memastikan pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia perusahaan dapat berjalan dengan lebih efektif.

Baca juga: Pengembangan Talenta Jadi Sorotan Praktisi HR di Indonesia L&D Summit 2026

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.