Rupiah Melemah dan Konflik Timur Tengah, Ongkir Ekspor Ikan Kaleng dari Banyuwangi Naik 8 Kali Lipat
Haorrahman July 04, 2026 05:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan konflik geopolitik di Timur Tengah dirasakan pelaku industri ekspor. Ongkos kirim ikan kaleng dari Banyuwangi naik 8 kali lipat.

Ini dirasakan PT Pasific Masami Indonesia, salah satu eksportir ikan kaleng terbesar di Banyuwangi.

Perusahaan yang beroperasi di Kecamatan Muncar itu menilai dampak pelemahan rupiah relatif terbatas karena aktivitas bisnisnya tidak hanya mengekspor produk ikan kaleng, tetapi juga masih mengimpor sebagian bahan baku menggunakan mata uang dolar AS.

Baca juga: Ekspor Banyuwangi 2025 Tembus Rp 3,9 Triliun, Naik 18 Persen di Tengah Tekanan Global

Bahan baku yang diimpor meliputi ikan dan wadah kaleng. Impor ikan dilakukan karena pasokan hasil tangkapan nelayan dari Banyuwangi maupun daerah lain di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan produksi pabrik.

Sementara kebutuhan wadah kaleng selama ini juga dipenuhi melalui impor karena belum tersedia produsen dalam negeri yang mampu memenuhi permintaan perusahaan.

Kondisi tersebut mulai berubah setelah pada Jumat (3/7/2026), PT Pasific Masami Indonesia bersama perusahaan asal Indonesia dan China meresmikan operasional pabrik pembuatan wadah kaleng di Muncar. Kehadiran pabrik tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor kemasan di masa mendatang.

Baca juga: Bahas Ekspor ke AS, Ratusan Pelaku Industri Udang Berbagai Daerah di Indonesia Kumpul di Banyuwangi

Marketing Director PT Pasific Masami Indonesia, Sherly Indrawati Aminoto Kho, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak otomatis meningkatkan keuntungan perusahaan karena biaya impor juga ikut naik.

"Kalau misal ikannya dari Indonesia, kalengnya dari Indonesia, lalu dijual pakai dolar saat dolar menguat, untungnya nambah. Sementara di sisi lain, ikan juga harus impor yang juga pakai dolar. Jadi pengaruhnya tidak begitu terasa," kata Sherly, Sabtu (4/7/2026).

Ongkir

Di sisi lain, perusahaan menghadapi tantangan pada sektor logistik, terutama untuk pengiriman ke kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan AS dan Iran menyebabkan biaya pengiriman melonjak drastis.

Menurut Sherly, tarif pengiriman kontainer ke sejumlah negara di Timur Tengah meningkat dari sekitar 700 dolar AS menjadi sekitar 5.000 dolar AS per kontainer atau naik hampir delapan kali lipat.

Selain kenaikan biaya, gangguan logistik juga menyebabkan sejumlah pengiriman tertahan di pelabuhan tujuan.

"Bahkan kami ada beberapa kontainer tuna kaleng yang nyantol di Timur Tengah. Sudah sekitar 10 bulan belum keluar dari port," ujarnya.

Baca juga: Didukung UEA, TPS3R Kertosari Banyuwangi Mulai Dibangun, Solusi Sampah Perkotaan

Diversifikasi Pasar

Meski menghadapi hambatan pengiriman ke Timur Tengah, PT Pasific Masami Indonesia memastikan kondisi tersebut belum memengaruhi kinerja ekspor secara keseluruhan.

Perusahaan mengekspor produk ikan kaleng ke lebih dari 80 negara yang tersebar di Asia, Australia, Amerika, Eropa, hingga Afrika. Diversifikasi pasar tersebut menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas ekspor ketika salah satu kawasan mengalami gangguan.

Pada Jumat (3/7/2026), perusahaan kembali mengirimkan 10 kontainer ikan kaleng ke 10 negara dengan nilai ekspor sekitar Rp10 miliar. Pelepasan ekspor secara simbolis dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Sherly mengatakan strategi diversifikasi pasar membuat perusahaan tetap mampu menjaga arus ekspor meski distribusi ke Timur Tengah mengalami kendala.

"Karena diversifikasi market. Pasar kami bukan hanya Timur Tengah. Jadi memang agak-agak tersendat nih. Tapi di negara lain aman," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.