Anomali Kiprah Cape Verde di Piala Dunia 2026: Kepahlawanan Vozinha hingga Dongeng sebagai Debutan
Salma Fenty July 04, 2026 05:57 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Perjalanan Cape Verde di Piala Dunia 2026 akhirnya terhenti setelah disingkirkan Argentina selaku juara bertahan, Sabtu (4/7/2026) pagi WIB.

Dalam tajuk laga babak 32 besar yang berlangsung di Miami Gardens, Cape Verde tumbang dengan skor 2-3 di tangan Argentina.

Meskipun kalah, Cape Verde berhak tersingkir dengan kepala tegak, karena tim ini mampu memberikan perlawanan sengit kepada Tim Tango.

Dua kali tertinggal oleh gol Lionel Messi dan Lisandro Martinez, Cape Verde mampu menyamakan skor sebanyak dua kali beruntun.

Sebelum akhirnya gol bunuh diri Diney (110') membuyarkan harapan Cape Verde untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.

Fakta bahwa Cape Verde mampu memaksa Argentina bermain 120 menit dalam laga ini, meskipun kalah di akhir pertandingan, menjadi bukti elitnya performa tim asal Afrika ini.

Berkaca dari hal itu, tak salah jika banyak pihak yang memberikan pujian setinggi langit kepada Cape Verde atas performanya di Piala Dunia 2026.

Baca juga: Cape Verde Tersingkir secara Heroik, Afrika Tersisa Dua Wakil di Piala Dunia 2026

Salah seorang Football Enthusiast, Agung Iqbal Ramadan pun sebelumnya telah memprediksi potensi kejutan dari Cape Verde.

"Sepertinya kita melihatnya di atas kertas mudah sekali. Tapi tidak semudah itu. Messi pun tidak akan semudah itu, Cape Verde tidak akan berhenti menyerah, Cape Verde enggak akan membiarkan gawangnya untuk kebobolan banyak."

"Pasti mereka segala cara mereka akan lakukan dan membuat pertandingan akan berjalan dengan seru," kata Agung dalam podcast Tribunnews berjudul "SUPER TAKTIK: Babak Baru Piala Dunia 2026: Eropa Saling Jegal, Argentina Mulus?" yang digelar di Gedung Tribunnews, Karanganyar, Jawa Tengah.

BAGAN 16 BESAR - Bagan 16 besar Piala Dunia 2026 akhirnya resmi lengkap terbentuk setelah merampungkan fase 32 besar pada Sabtu (4/7/2026). Duel panas Portugal vs Spanyol akan tersaji, sementara Argentia temui jalur yang mudah. (Grafis Tribunnews.com)

Tak bisa disangkal, apa yang diperlihatkan Cape Verde sepanjang turnamen Piala Dunia 2026 terlihat cukup mengesankan.

Apalagi jika menilik status Cape Verde sebagai satu dari empat tim yang berstatus sebagai debutan di Piala Dunia edisi kali ini.

Seperti diketahui, ada empat negara yang menyandang predikat sebagai debutan di Piala Dunia 2026 yakni Cape Verde, Uzbekistan, Yordania dan Curacao.

Dari keempat tim tersebut, hanya Cape Verde saja yang mampu lolos dari babak penyisihan dan tampil di 32 besar.

Lolosnya Cape Verde ke babak 32 besar dengan status sebagai satu-satunya debutan menjadi sinyal bahwa tim ini tak bisa dipandang remeh.

Dan Argentina baru saja merasakan betapa alotnya pertandingan melawan Cape Verde, untuk memperebutkan tiket lolos ke babak 32 besar.

Beruntung bagi Argentina, karena tim Tango mampu menyudahi harapan Cape Verde berkat kualitas dan mental elit yang mereka miliki.

Bagi Cape Verde, tersingkir dengan cara terhormat melawan tim juara bertahan, jelas menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Hal paling menarik ialah ada banyak hal anomali yang diciptakan Cape Verde sebelum akhirnya mereka harus angkat koper dari turnamen ini.

Pertama soal kisah di luar nalar dipanggilnya sosok bek Cape Verde yang bernama Roberto "Pico" Lopes.

Pico Lopes seakan membuktikan bahwa platform jaringan profesional korporat seperti LinkedIn bisa mengubah takdir di atas lapangan hijau.

Nama Lopes mendadak menjadi buah bibir global di Piala Dunia 2026.

Bek berusia 33 tahun yang lahir dan besar di Dublin, Irlandia ini, menjadi pilar kokoh saat negaranya mencetak sejarah lolos ke putaran final, menahan imbang raksasa Eropa Spanyol 0-0 di fase grup, hingga nyaris menggulingkan juara bertahan Argentina di babak 32 besar pada laga dramatis yang berakhir 3-2 lewat babak perpanjangan waktu, pagi tadi.

Namun, siapa sangka, perjalanan internasional Lopes berawal dari sebuah pesan masuk (DM) di LinkedIn yang sempat ia abaikan karena dikira spam.

Hal anomali lainnya ialah soal kepahlawan Vozinha yang mengawal mistar gawang Cape Verde.

Dikala tim lain mempercayakan kiper dengan usia muda atau matang, Cape Verde justru mempercayakan gawangnya dikawal oleh kiper berusia 40 tahun.

Hebatnya, keputusan tersebut membuahkan hasil positif di mana Vozinha mampu tampil bak pahlawan bagi Cape Verde di Piala Dunia 2026.

Berbagai aksi heroik penyelamatan yang ia lakukan sepanjang turnamen, telah membuat jutaan mata terpana dengan penampilannya.

KLASEMEN GRUP H - Klasemen akhir Grup H Piala Dunia 2026 setelah merampungkan pertandingan pamungkas fase grup, pada Sabtu (27/6/2026) pagi WIB. Spanyol lolos sebagai juara grup, Cape Verde cetak sejarah.
KLASEMEN GRUP H - Klasemen akhir Grup H Piala Dunia 2026 setelah merampungkan pertandingan pamungkas fase grup, pada Sabtu (27/6/2026) pagi WIB. Spanyol lolos sebagai juara grup, Cape Verde cetak sejarah. (Grafis Tribunnews.com)

Anomali lainnya ialah status Cape Verde yang mampu lolos ke babak fase gugur, tanpa pernah meraih kemenangan dalam satu laga pun.

Bahkan, Cape Verde juga berhak menyandang predikat elit sebagai negara debutan yang tidak pernah kalah dalam 90 menit dalam empat laga pertamanya di turnamen ini.

Yang lebih hebat lagi, status tersebut didapatkan Cape Verde setelah bertemu Spanyol, Uruguay, Arab Saudi dan Argentina, yang mayoritas sangat berpengalaman di gelaran Piala Dunia.

Hal menarik lainnya ialah soal label Cape Verde, sebagai salah satu negara terkecil yang pernah tampil dalam sejarah Piala Dunia.

Dengan luas wilayah hanya sekitar 4.033 kilometer persegi dan populasi kurang dari 525.000 jiwa, Cape Verde tercatat sebagai salah satu negara terkecil berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk yang pernah berkompetisi di Piala Dunia, sekaligus mampu melangkah hingga ke babak sistem gugur.

Itulah beberapa anomali yang diciptakan Cape Verde di Piala Dunia 2026 yang menjadi momen debut bagi mereka.

Pada akhirnya, langkah Cape Verde memang telah terhenti di babak 32 besar, namun apa yang telah mereka perlihatkan di Piala Dunia 2026 tampaknya bakal dikenang dalam sejarah turnamen ini.

(Tribunnews.com/Dwi Setiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.