Kiper Cape Verde, Vozinha, mendapat panggungnya di Piala Dunia 2026 meski negaranya tersingkir. Sempat bikin Lionel Messi agak frustrasi.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Argentina memang berhasil mengalahkan Cape Verde pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 dan lolos ke fase selanjutnya. Tapi sorotan bukan tertuju pada pasukan Lionel Scaloni itu, juga bukan pada sang kapten Lionel Messi yang mencetak satu gol.
Sosok yang berhasil mencuri perhatian itu adalah Vozinha, kiper Cape Verde. Dia bahkan disebut sempat membuat Lionel Messi frustrasi.
Tapi kebintangan Vozinha sejatinya bukan saat melawan Argentina saja muncul. Dia sudah jadi buah bibir saat menahan imbang tim kuat Eropa Spanyol.
Siapa sebenarnya Vozinha yang bikin Messi frustasi itu?
Vozinha benar-benar membuat Argentina bekerja keras. Tak hanya susah dibobol, kiper 40 tahun itu hampir memaksa Albiceleste itu menyelesaikan pertandingan hingga babak adu penalti.
Pada pertandingan yang berlangsung di Miami Stadium pada Sabtu, 4 Juli 2026, itu, Vozinha dkk berhasil memaksa Lionel Messi Cs melanjutkan pertandingan hingga babak extra time. Lionel Messi sempat membawa Argentina unggul pada menit ke-29, sebelum akhirnya disamakan oleh Cape Verde lewat gol Deroy Duarte pada menit ke-59.
Di babak extra time, Argentina kembali unggul, kali ini oleh Lisandro Martinez pada menit ke-92, tapi disamakan lagi oleh Cape Verde. Kali ini lewat gol superindah Sidny Lopes Cabral.
Setelah memberi perlawanan superkeras, Cape Verde akhirnya tumbang juga. Itu pun lewat gol bunuh diri Diney Borges di menit ke-111. Skor 3-2 untuk Argentina bertahan hingga babak extra time berakhir. Mereka pun lolos ke babak 16 besar.
Salah satu kunci kekokohan Cape Verde adalah sang kiper, Vozinha. Menurut statistik yang dirilis Fotmob, Vozinha menunjukkan performa terbaik saat Cape Verde melawan Argentina.
Kiper berusia 40 tahun itu membuat Cape Verde menjadi lawan yang sulit ditaklukkan sang juara bertahan. Selama 120 menit mengawal gawang Cape Verde, Vozinha membuat 8 penyelamatan.
Ada beberapa kesempatan di mana Vozinha menampilkan momen-momen terbaiknya. Di antaranya sebuah penyelamatan penting menjelang akhir babak pertama waktu normal di mana Vozinha dengan begitu sigap menepis sepakan keras Enzo Fernandez dari dalam kotak penalti.
Di babak kedua, Vozinha kembali beraksi. Dia dengan tangkas menepis tendangan bebas Lionel Messi di menit ke-72. Dan sekali lagi, Vozinha menggagalkan tendangan bebas Messi pada pengujung babak kedua waktu norma, tepatnya di menit 90+1, tepat di depan garis kotak penalti Cape Verde.
Vozinha sejatinya hampir terkecoh saat Messi melepaskan tembakan kaki kiri. Sebab, bola sempat membentur Sidny Lopes Cabral. Namun, Vozinha bisa mengontrol keseimbangannya, sehingga dapat menahan tembakan Messi.
Bola sempat lepas dari penjagaannya, tapi bisa kembali dikuasai oleh penjaga gawang klub Chaves itu.
Meskipun pada akhirnya gawangnya bobol sebanyak tiga kali dan Cape Verde pun tersingkir dari Piala Dunia, Vozinha tetap mendapatkan panggungnya. Fotmob juga memberinya rating 7,7.
Messi sendiri, dalam sebuah wawancara dengan wartawan selepas pertandingan, mengaku agak frustrasi mengadapi penampilan apik Vozinha. “Saya agak frustrasi setelah begitu banyak percobaan tapi saya berhasil mencetak satu gol yang sangat penting. Orang-orang bilang dia (Vozinha) berusia 40 tahun dan sejujurnya, saya kagum dengan penampilannya hari ini,” kata kapten Argentina itu.
Jadi kiper profesional saat usia 25 tahun
Vozinha lahir dengan nama Josimar Dias “Vozinha”. Setelah sekian lama berjuang, pada usia 40 tahun, dia akhirnya berhasil mewujudkan impiannya: tampil di Piala Dunia.
Di Piala Dunia 2026 ini, Vozinha adalah pemain tertua yang tampil di turnamen empat tahunan itu. Usianya 40 tahun 12 hari saat dia melakukan debutnya di Piala dunia melawan Spanyol.
“Saya mulai bermain sepak bola profesional saat berusia 25 tahun, pada 2012. Itu sangat terlambat bagi orang seperti saya,” katanya. Benar, dia baru saja kiper profesional saat usianya 25 tahun.
Vozinha sempat ingin meninggalkan timnasnya meski akhirnya dia tetap bertahan demi mengejar impian Piala Dunia-nya. “Penampilan ini adalah penampilan untuk semua orang. Saya memang menjadi pemain terbaik pertandingan, tetapi penghargaan ini untuk semua rekan setim saya, karena tanpa mereka tidak ada yang mungkin terjadi. Dan saya akan terus bekerja untuk tim dan masyarakat,” tuturnya.
Cape Verde (orang-orang juga mengenalnya sebagai Tanjung Verde atau Tanjung Hijau atau Cabo Verde) terletak hampir 600 kilometer di lepas pantai barat Afrika. Negara kepulauan yang indah namun terpencil itu memiliki peluang terbatas bagi pesepak bola muda.
Tumbuh di kota Mindelo, Vozinha menghadapi berbagai tantangan sejak awal. “Saya adalah salah satu penjaga gawang terbaik di pulau saya, tetapi tubuh saya kecil. Bahkan ketika bermain bagus, saya tidak dipilih karena tinggi badan saya,” tambahnya.
Seperti banyak pemain sebelumnya, dia kemudian pindah ke Portugal, bekas penguasa kolonial Cape Verde, untuk mencari kesempatan yang lebih baik. Dia kemudian memutuskan pindah ke Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus.
Saat ini Vozinha bermain untuk klub divisi dua Portugal, GD Chaves.
Lalu kenapa namanya jadi Vozinha? Dia bercerita, namanya sebetulnya terinspirasi dari sejarah sepakbola. Ayahnya ingin menamainya Valdano, terinspirasi legenda Argentina dan Real Madrid, Jorge Valdano. Tapi otoritas Cape Verde menolaknya.
Sebagai gantinya, dia diberi nama Josimar, mengikuti nama bek Brasil Josimar yang bersinar pada Piala Dunia 1986. Bertahun-tahun kemudian, di panggung Piala Dunia yang lain, Vozinha menciptakan sejarahnya sendiri.
Vozinha menjadi satu-satunya kiper berusia di atas 40 tahun yang tercatat banyak menyelematkan gawang. Dulu ada Pat Jennings, yang membuat 10 penyelamatan gawang saat berusia 41 tahun ketika Irlandia Utara menghadapi Brasil pada 1986.
Di luar stadion, popularitasnya juga meledak—terutama setelah menahan imbang Spanyol pada pertandingan pertamanya di Piala Dunia. Jumlah pengikutnya di Instagram melonjak dari 50.000 menjadi lebih dari 1,5 juta setelah Caze TV, saluran YouTube pemegang hak siar Piala Dunia di Brasil, mengajak para penontonnya untuk mengikuti akun Vozinha.
Di tribun, para pendukung mereka menunjukkan semangat yang sama. Mengenakan pakaian biru dan mengibarkan bendera merah, putih, dan biru, mereka bernyanyi serta menari sepanjang pertandingan, mengangkat semangat tim melewati setiap momen sulit.
Kini, tak hanya Vozinha, Tanjung Verde atau Cape Verde juga mendapat popularitasnya. Vozinha mengatakan persatuan dalam timnya yang membuat capaian ini. Seluruh pemain punya ambisi yang sama tingginya untuk Piala Dunia 2026.
“Semua orang mengira kami datang ke sini hanya untuk menikmati Piala Dunia. Tetapi tidak. Kami tahu ada tim-tim yang selalu kami hormati karena ini adalah pertama kalinya kami tampil di sini. Namun kami datang untuk bersaing, dan kami datang untuk berjuang demi negara kami,” kata Vozinha, yang mengaku sejak kecil mimpinya adalah lolos Piala Dunia.