TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemeriksaan kesehatan berkala di Daerah Istimewa Yogyakarta menemukan indikasi gangguan emosional ringan pada kelompok usia remaja.
Sekitar 5 persen pelajar jenjang sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) yang mengikuti pemeriksaan terindikasi mengalami kecemasan ringan hingga potensi depresi ringan.
Temuan tersebut mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menempatkan kesehatan mental anak sekolah sebagai salah satu prioritas penanganan utama pada tahun ini, khususnya menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027. Langkah ini diambil sebagai bagian penting dari agenda penguatan pembangunan sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi menjelaskan, perhatian terhadap isu kesehatan mental peserta didik kini menjadi fokus bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Seluruh kebijakan intervensi dan pencegahan dini akan diselaraskan dengan program-program yang disiapkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).
"Karena sekarang ini akan dimulai peserta didik tahun ajaran baru, maka kemudian program-program dari kementerian untuk mengatasi gejala gangguan mental akan dijalankan ke arah sana semua," kata Anung saat dihubungi, Sabtu (4/7/2026).
Meskipun secara akumulatif angka kasus gangguan mental di DIY saat ini masih tergolong rendah, Anung menegaskan kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Spektrum gangguan mental yang sangat luas—mulai dari kecemasan ringan hingga gangguan jiwa berat—memerlukan perhatian dan penanganan yang serius serta terukur sejak dini.
Upaya pemetaan potensi masalah psikologis ini dilakukan melalui perluasan jangkauan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui program tersebut, pemerintah tidak hanya melakukan pemantauan kondisi fisik masyarakat secara konvensional, tetapi juga mengintegrasikan instrumen untuk mengidentifikasi indikator awal masalah kesehatan mental, termasuk pada anak-anak usia sekolah.
Berdasarkan data sementara Dinkes DIY, cakupan kepesertaan program CKG baru menjangkau sekitar 11 persen dari total populasi penduduk di DIY. Dari proporsi yang sudah terdata tersebut, sebagian peserta di antaranya merupakan siswa pada jenjang sekolah dasar (SD), SMP, dan SMA.
Dari hasil penapisan (skrining) pada kelompok remaja itulah tren gangguan emosional ringan mulai terlihat. "Nah, di SMP dan SMA itu kecenderungannya yang datang, yang sudah CKG itu lima persen mengalami gangguan kecenderungan kecemasan ringan, ada yang kemudian potensi depresi ringan," ujar Anung.
Anung memberikan catatan bahwa data tersebut merupakan hasil sementara dari kelompok siswa yang secara aktif telah mengikuti pemeriksaan, sehingga belum bisa serta-merta menggeneralisasi kondisi psikologis seluruh pelajar di DIY. Kendati demikian, angka 5 persen ini menjadi sinyal peringatan (warning sign) penting bahwa kesehatan mental remaja membutuhkan perhatian yang jauh lebih besar dari semua pihak.
Menurut Dinkes DIY, fase usia sekolah merupakan periode perkembangan yang sangat rentan terhadap berbagai tekanan eksternal maupun internal. Tekanan tersebut dapat bersumber dari dinamika lingkungan sosial, situasi keluarga, pola pergaulan teman sebaya, hingga faktor kondisi kesehatan medis lainnya.
"Nah kenapa kemudian anak sekolah menjadi fokus, karena merupakan masa pertumbuhan yang relatif rentan terhadap faktor-faktor, baik itu faktor medis maupun faktor lingkungan, itu dimulai di tahapan anak sekolah ini," tutur Anung menjelaskan alasan di balik penetapan fokus prioritas tersebut.
Guna mengantisipasi agar gejala ringan ini tidak berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih kompleks di masa depan, Pemerintah DIY bersama pemerintah pusat tengah mematangkan berbagai program pendampingan serta edukasi kesehatan mental yang berbasis di lingkungan sekolah.
Melalui skema intervensi ini, para siswa diharapkan dapat melatih kepekaan untuk mengenali kondisi psikologis mereka sendiri sejak awal. Di sisi lain, langkah ini diarahkan untuk mendorong terciptanya ekosistem belajar yang lebih sehat, inklusif, dan aman bagi perkembangan mental anak.
Selain pembenahan di lingkungan sekolah, Dinkes DIY juga menekankan bahwa keberhasilan penanganan ini sangat bergantung pada sinergi tiga pilar utama, yakni keterlibatan aktif lingkungan keluarga, kepekaan guru di sekolah, serta dukungan masyarakat sekitar. Pendampingan yang tepat dan deteksi yang cepat diharapkan mampu memitigasi risiko gangguan mental pada generasi muda sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks di masa mendatang.