TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI – Hujan monsun yang seharusnya menjadi penopang pasokan air dan pertanian di India kini berubah menjadi ancaman serius di negara bagian Maharashtra.
Setelah beberapa hari diguyur hujan tanpa henti, Kota Mumbai dan wilayah sekitarnya menghadapi banjir, gangguan transportasi, serta rentetan kecelakaan yang telah menewaskan sedikitnya lima orang.
Dikutip dari India Today, situasi diperkirakan memburuk pada Sabtu (4/7/2026) setelah India Meteorological Department (IMD) mengeluarkan peringatan siaga merah (red alert).
Otoritas cuaca memperkirakan hujan lebat hingga sangat lebat masih akan mengguyur Mumbai dan kawasan pinggirannya sepanjang akhir pekan, disertai potensi hujan ekstrem di sejumlah lokasi serta angin kencang dengan kecepatan mencapai 60 kilometer per jam.
Peringatan tersebut dikeluarkan ketika sejumlah wilayah di Mumbai telah mencatat curah hujan lebih dari 100 milimeter hanya dalam waktu 24 jam.
Meski layanan transportasi umum masih beroperasi, para komuter melaporkan keterlambatan perjalanan kereta lokal akibat genangan air dan cuaca buruk.
Baca juga: Truk Tangki Elpiji Terbakar di Gerbang Tol India, Korban Tewas Bertambah Jadi 5 Orang
Rekaman yang beredar di media sosial juga memperlihatkan banyak ruas jalan berubah menjadi lautan air sehingga menghambat aktivitas warga.
Padahal, musim monsun tahun ini datang lebih lambat dari biasanya.
Namun sejak awal pekan, intensitas hujan di ibu kota finansial India itu meningkat tajam hingga memicu banjir di berbagai titik.
Data Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC) menunjukkan kawasan Bandra di wilayah barat menjadi salah satu daerah dengan curah hujan tertinggi.
Kantor wilayah H West mencatat 150,6 milimeter hujan, disusul Supari Tank 146 milimeter dan Pali Chimbai 143,2 milimeter.
Di wilayah pusat kota, Parel menerima 141,8 milimeter hujan, Matunga-Dadar 135,2 milimeter, Fort 120,8 milimeter, Wadala 118,3 milimeter, dan Lower Parel 118 milimeter.
Sementara di wilayah timur, Vikhroli mencatat 143 milimeter, Ghatkopar 136,4 milimeter, Mankhurd 134,2 milimeter, Chembur 127,6 milimeter, serta Maharashtra Nagar 124 milimeter.
Secara rata-rata, wilayah pusat Mumbai menerima 99 milimeter hujan dalam 24 jam terakhir, sedangkan wilayah timur memperoleh 98 milimeter dan wilayah barat 94 milimeter.
Otoritas juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai pasang laut yang berpotensi memperparah banjir. Pasang tertinggi diperkirakan mencapai 4,26 meter pada Sabtu siang.
Tidak hanya Mumbai, hujan deras juga menyebabkan banjir di sejumlah ruas jalan di Pune dan Thane sehingga memicu kemacetan lalu lintas di kedua kota tersebut.
Cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir telah menelan sedikitnya lima korban jiwa di Maharashtra.
Korban meninggal bukan hanya akibat banjir, tetapi juga karena pohon tumbang, lubang drainase yang terbuka, hingga sengatan listrik.
Pada 30 Juni, seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun tewas setelah pohon peepal tumbang dan menimpa bus sekolah di Mumbai.
Dua hari kemudian, seorang pria berusia 55 tahun meninggal setelah terjatuh ke dalam lubang saluran pembuangan yang terbuka di Khairani Road, Sakinaka, ketika berjalan menuju tempat kerjanya saat hujan deras.
Penutup lubang diketahui dilepas kontraktor untuk pekerjaan pembersihan drainase, namun diduga dibiarkan terbuka tanpa pagar maupun rambu peringatan.
Di kawasan Mira-Bhayandar, seorang warga lainnya meninggal dunia setelah tertimpa pohon yang tumbang akibat hujan dan angin kencang.
Sementara itu di Pune, seorang balita berusia dua tahun tenggelam setelah terjatuh ke dalam lubang galian proyek saluran pembuangan yang dipenuhi air hujan di kawasan Loni Kalbhor.
Warga menuding kontraktor meninggalkan lokasi pekerjaan tanpa memasang pengaman ataupun papan peringatan.
Korban terbaru berasal dari Thane. Seorang perempuan berusia 35 tahun meninggal setelah tersengat arus listrik ketika terpeleset di dekat gardu listrik saat hujan deras pada malam 1 Juli.
Di sisi lain, dua mahasiswa di Navi Mumbai berhasil selamat meski sempat tersengat listrik ketika menerobos genangan air di bawah Jembatan Nerul LP.
Hasil penyelidikan menunjukkan adanya kabel listrik bawah tanah yang rusak sehingga mengalirkan arus ke genangan air di lokasi tersebut.