Alasan ASN di Jatim Banyak yang Mengajukan Perceraian, Sebulan Sentuh Angka 25 Orang
Torik Aqua July 04, 2026 05:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur mengungkap persoalan ekonomi menjadi faktor dominan yang melatarbelakangi tingginya angka perceraian di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Kondisi tersebut diperparah dengan semakin banyaknya ASN yang terjerat pinjaman online (pinjol) hingga mengalami tekanan psikologis.

Sebagai langkah pencegahan, BKD Jatim menghadirkan aplikasi Pelita ASN untuk memberikan layanan pendampingan keluarga dan konsultasi.

Selain itu, kerja sama dengan Bank Jatim dilakukan guna meningkatkan literasi keuangan agar ASN tidak terjebak dalam pinjaman online dan persoalan finansial yang berdampak pada kinerja.

Baca juga: Jodi Bayar Utang ke Orangtua setelah Merampok Rp 76 Juta, Nekat karena Terlilit Pinjol dan Judol

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur, Indah Wahyuni, mengungkapkan setiap pekan terdapat puluhan ASN yang mengajukan konsultasi maupun permohonan perceraian.

“Untuk jumlah konsultasi (pengajuan perceraian), perkiraannya sekitar 20 hingga 25 orang dalam sebulan. Namun, angka tersebut masih perlu saya pastikan lagi,” kata Indah Wahyuni, Jumat (3/7/2026).

Perempuan yang akrab disapa Yuyun itu menjelaskan, mayoritas ASN yang mengajukan perceraian berasal dari sektor pendidikan dan kesehatan.

Hal itu sejalan dengan komposisi ASN Pemprov Jatim yang didominasi guru dan tenaga kesehatan.

“ASN di lingkungan Pemprov Jatim yang jumlahnya paling banyak adalah guru dan tenaga kesehatan, sehingga mayoritas berasal dari Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Menurut Yuyun, persoalan ekonomi menjadi akar masalah yang paling sering ditemukan dalam kasus perceraian ASN.

 Kondisi tersebut semakin diperparah dengan maraknya ASN yang terjerat pinjaman online.

“Saat ini juga cukup banyak ASN yang terjerat pinjaman online (pinjol). Terkait jumlah ASN yang terjerat pinjol, saya kurang mengetahui data pastinya. Yang saya harapkan, dengan adanya program ini jumlahnya bisa semakin kecil,” tegasnya.

Ia menjelaskan, tekanan ekonomi yang berlebihan tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan keluarga, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental ASN.

Beberapa ASN bahkan harus mendapatkan pendampingan psikologis akibat tekanan yang mereka alami.

Yuyun mengungkapkan, berdasarkan koordinasi dengan RSJ Menur Surabaya, terdapat ASN yang menjalani konsultasi hingga perawatan karena mengalami gangguan psikologis setelah mendapat teror dari penagih utang pinjaman online.

“Berdasarkan koordinasi Rumah Sakit Menur Surabaya, ditemukan adanya ASN yang terpaksa melakukan konsultasi dan perawatan akibat mengalami gangguan psikologis. Mereka mengalami ketidaktenangan jiwa yang ekstrem pasca mendapat teror dari penagih utang,” bebernya.

Untuk menekan angka perceraian sekaligus membantu ASN menyelesaikan persoalan keluarga, BKD Jawa Timur berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) mengembangkan aplikasi Pelita ASN atau Pendamping Keluarga Terintegrasi ASN.

Melalui aplikasi tersebut, ASN dapat berkonsultasi terkait berbagai persoalan, mulai dari masalah pribadi, hubungan keluarga, hingga persoalan anak.

“Melalui aplikasi ini, apabila ASN mengalami persoalan, baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri, keluarga, maupun anak-anaknya, mereka dapat berkonsultasi,” terang Yuyun.

Selain itu, BKD juga menggandeng Bank Jatim untuk memberikan edukasi keuangan kepada ASN agar tidak terjebak pinjaman online.

Layanan konsultasi keuangan tersebut turut dihadirkan dalam aplikasi Rumah ASN.

“Karena itu, di aplikasi Rumah ASN juga kami lengkapi dengan ruang konsultasi bersama Bank Jatim. Layanan tersebut berkaitan dengan perencanaan keuangan atau financial planner agar ASN tidak terjebak pinjaman online,” ujarnya.

BKD juga meminta Bank Jatim menyediakan berbagai skema pembiayaan yang lebih aman dan terjangkau bagi ASN, mulai dari kredit perumahan berbunga ringan, pinjaman dengan tenor lebih panjang, hingga pembiayaan untuk peningkatan kompetensi.

Menurut Yuyun, upaya tersebut penting karena persoalan keluarga dan keuangan dapat berdampak langsung terhadap produktivitas kerja ASN.

“Jika ASN memiliki banyak persoalan, tentu akan berdampak pada kinerjanya sehingga tidak optimal. Dengan adanya Pelita ASN, kami berharap ASN dapat bekerja lebih tenang sehingga kinerjanya juga menjadi lebih optimal,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.