SURYA.co.id, LUMAJANG - Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Merinda Tri Agustin, gadis asal Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang diduga tewas di tangan kekasihnya sendiri, Ari.
Di mata keluarga, hubungan asmara keduanya selama ini terlihat baik-baik saja.
Tak ada firasat maupun tanda-tanda yang mengarah pada dugaan pembunuhan yang terjadi secara tragis di dalam kamar rumah korban.
Merinda ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan.
Korban ditemukan tanpa busana, dengan leher terikat kain celana dan mulut tersumpal.
Paman korban, Saniman, mengaku sama sekali tidak menyangka pelaku adalah pria yang selama ini menjalin hubungan asmara dengan keponakannya.
Baca juga: Pesan WA Terakhir Merinda Sebelum Ditemukan Tewas di Lumajang, Paman Sesali Hal Ini
"Masak tega pacarnya, wong sama sama cinta. Mana mungkin sampai melakukan kayak gini, prediksi saya seperti itu," ujarnya kepada SURYA.co.id, Sabtu (4/7/2026).
Selama Merinda berpacaran dengan Ari, Saniman mengaku kekhawatirannya justru tertuju pada keselamatan sang keponakan saat pulang malam.
Ia tak pernah membayangkan ancaman justru datang dari orang terdekat korban.
"Takut kena apa di jalan, takut kena begal. Tapi kalau sama pacarnya tidak," imbuhnya.
Kecurigaan keluarga baru muncul setelah mengetahui cara korban ditemukan.
Saniman menilai ada kejanggalan ketika pelaku justru meminta tetangga sekaligus teman korban untuk mengecek kondisi Merinda di rumah yang sudah lama tidak ditempatinya.
Menurut Saniman, hampir satu tahun terakhir Merinda tinggal bersama dirinya dan sang bibi setelah ibunya meninggal dunia. Karena itu, ia merasa aneh ketika pelaku mengarahkan orang lain untuk memeriksa kamar korban di rumah lamanya.
"Kok bisa (tetangga) ini disuruh lihat di rumahnya, di kamarnya. Artinya anak ini sudah tahu, dari situ saya sudah curiga. Makanya diinterogasi terus sama polisi, akhirnya ngaku," imbuh Saniman.
Sebelumnya, paman korban, Saniman, diwawancarai SURYA.co.id di kediamannya di Desa Kalipenggung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/7/2026).
Saniman mengaku sempat membaca pesan WhatsApp dari keponakannya yang berpamitan untuk menginap.
Namun, ia memilih tidak membalas karena sebelumnya sudah berpesan agar Merinda tidak menginap di luar rumah.
"Saya baca, cuma tidak saya balas. Karena saya sudah bilang jangan nginap, walaupun malam harus tetap pulang," ujarnya.
Ia sebenarnya berniat menghubungi korban agar segera pulang.
Namun, niat itu diurungkan karena khawatir perjalanan malam justru membahayakan keponakannya.
"Kok sudah terlalu malam, takut ada apa apa di jalan kalau pulang, apalagi tempatnya jauh. Jadi saya biarin saja," ulasnya.
Keesokan harinya, Jumat (3/7/2026), Saniman mengira Merinda langsung berangkat bekerja di toko perhiasan di Kecamatan Randuagung, sebagaimana kebiasaannya setiap selesai menginap di rumah teman.
"Jadi saya biarkan," imbuhnya.
Tanpa disangka, setelah Salat Jumat, ia justru dijemput adik iparnya untuk menuju rumah orang tua korban.
Saat itu keluarga hanya memberi tahu Merinda mengalami kecelakaan.
Belakangan diketahui, kabar tersebut sengaja disampaikan agar Saniman tidak terlalu terkejut mengingat ia memiliki riwayat penyakit jantung.
"Tidak tahunya di sana sudah rame, jadi tahunya kejadian ketika sudah banyak orang dan polisi di TKP," ulasnya.
Bagi Saniman, Merinda adalah sosok yang penurut. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, korban diasuh oleh paman dan bibinya.
Ia pun terus dihantui penyesalan karena merasa seandainya malam itu meminta keponakannya pulang, mungkin keadaan akan berbeda.
"Seandainya saat pamit nginap di rumah temannya, itu saya suruh pulang, saya yakin pulang anak itu. Tapi saya khawatir di jalan soalnya sudah terlalu malam," katanya.
Saniman juga mengungkapkan bahwa sejak ibunya meninggal dunia dan kakak korban bekerja di luar negeri, Merinda hampir tidak pernah menginap di rumah orang tuanya yang kemudian menjadi lokasi penemuan jasadnya.
"Ke rumah tersebut hanya menghidupkan lampu saat pulang kerja, ketika berangkat kerja matikan lampu. Habis itu kesini dan tidurnya disini bersama saya," katanya.
Ironisnya, baru kali ini Merinda bermalam di rumah orang tuanya.
Malam itu pula menjadi malam terakhir dalam hidupnya.
Ia ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tanpa busana dan mengalami sejumlah luka di tubuhnya.
Korban bernama Mery Tri Agustin (19) itu pertama kali diketahui dalam kondisi meninggal dunia oleh tetangganya sekira pukul 10.00 WIB.
Jasad korban yang bekerja sebagai karyawan toko emas Randuagung itu disebut dalam kondisi tanpa busana saat pertama kali ditemukan.
Penyebab kematiannya masih jadi misteri mengingat ia tinggal seorang diri di dalam rumahnya.
Polisi menemukan indikasi kuat adanya tindakan kekerasan fisik sebelum korban mengembuskan napas terakhirnya.
Aparat kepolisian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara secara tertutup guna mengumpulkan berbagai barang bukti.
Berdasarkan pemeriksaan awal, gadis berusia 22 tahun itu diduga kuat menjadi korban pembunuhan berencana yang sadis.