Hamparan "Harta Karun" di Astana Anyar Bandung, Tempat Kolektor dan Gen Z Berburu Barang Vintage
Muhamad Syarif Abdussalam July 04, 2026 06:35 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Deretan lapak sederhana membentang di atas tikar dan terpal di kawasan Jalan Astana Anyar, Kota Bandung. 

Di akhir pekan, area ini lebih padat dari biasanya. Tidak ada etalase kaca atau rak-rak mewah, yang terlihat justru tumpukan barang bekas yang disusun seadanya. 

Beberapa barang seperti mobil-mobilan, boneka, hingga balok susun warna-warni memenuhi ruang di atas kain hitam.

Di sisi lain, blender, termos, helm, perkakas, buku, dan komponen elektronik bercampur tanpa sekat. 

Namun, di mata para pemburu barang bekas, kekacauan itu justru menjadi daya tarik. Mereka datang bukan sekadar berbelanja, melainkan berburu "harta karun" yang mungkin tersembunyi di antara tumpukan barang. 

Di pasar loak ini, hampir semua benda memiliki kesempatan hidup kedua. Barang tersebut menunggu pemilik baru. 

Tas yang mulai pudar warnanya masih tampak layak dipakai. Jam dinding tua, koper, sepeda, hingga perkakas rumah tangga bisa berpindah tangan dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan barang baru.

Menurut Asep, salah seorang pedagang mengatakan, tak ada harga yang benar-benar pasti. Tawar-menawar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari transaksi. 

"Harganya lebih murah, tapi kondisinya masih layak pakai," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Sabtu (4/7/2026). 

Dia mencontohkan, harga mainan bisa dibanderol Rp10 ribu. Tak hanya mendapat satu barang namun empat bisa dibawa pulang. 

Dikatakannya, barang loak memang identik dengan perabotan rumah tangga. Meski demikian, beberapa barang elektronik justru paling laris manis. 

"Ada kamera juga, handphone. Harganya bisa Rp400 ribu. Tapi tergantung kondisi barangnya juga," ujarnya. 

Pria yang menghabiskan dua dekade untuk berjualan loak ini tak menjamin barang tersebut berfungsi semua fiturnya. 

"Kayak kamera, lensanya masih bagus. Ada beberapa fitur enggak berfungsi, seadanya aja. Handphone jadul juga ada," katanya. 

Calon pembeli dapat menjajal terlebih dahulu sebelum mengeluarkan uang dari kantong. Bagaimana pun, keputusan ada di tangan mereka. 

"Ada juga yang beli, nanti diperbaiki lagi. Jadi jauh lebih terjangkau dibanding beli baru, kan ada beberapa barang yang sudah stop produksi. Nah, biasanya para kolektor nyari, harga juga bisa ditawar tinggi," ucapnya. 

Meski tidak setiap saat berjumpa dengan para kolektor, ayah tiga orang anak ini mengaku menawarkan barangnya melalui e-commerce. 

"Sejak covid beralih ke online. Alhamdulillah rezeki bisa datang dari pulau seberang," tuturnya. 

Beragam pernik yang dijual dari pasar loak tersebut memang sepintas warnanya pudar termakan waktu. Catnya ada yang mulai mengelupas. 

Kendati demikian, Asep menjamin kebersihannya. Barang tersebut sebelum dijajakan dipugar terlebih dahulu. 

Asep mendapatkan bahan dari penjual loak lain. Selain berdagang, ia juga menerima barang unik dari pembeli. 

"Biasanya ada yang jual juga ke kita, kalau masih layak, ya dibeli. Saya mengutamakan fungsi dibanding banyak (barang) tapi engga bisa digunakan kan sayang modal juga," ujar Asep. 

Namun siapa sangka, penghasilan dari berjualan loak ini terbilang cukup. Minatnya terus ada, sehingga transaksi jual belinya terus bergeliat. 

"Di Bandung banyak peminatnya. Kan ada sentranya juga, di sini juga ada. Ya, enggak takut enggak dapat rezeki. Kayak di pasar aja, yang jualan banyak tapi ada aja," ujarnya. 

Di Astana anyar, memang menjamur pedagang loak. Namun yang dijajakannya berbeda-beda. 

"Ya, bisa jadi jual mainan. Tapi karakternya beda. Punya ciri khas masing-masing," ujarnya.

Tak Tumbuh Bersama Barang Jadul, Gen Z Justru Memburunya di Pasar Loak

Alih-alih berburu produk terbaru di pusat perbelanjaan, sejumlah anak muda justru menghabiskan waktu menyusuri lapak-lapak sederhana di Pasar Loak Astana Anyar. 

Di sana, mereka mencari barang-barang yang usianya bahkan lebih tua dari mereka sendiri

Anita Hapsari, misalnya. Dia mengaku tertarik dengan harganya yang jauh lebih murah. 

"Harganya sih sudah miring, ditambah masih bisa ditawar," katanya. 

Barang buruan perempuan 19 tahun ini jatuh pada kamera dan sebuah telepon rumahan. 

"Sebetulnya buat pajangan aja. Kebetulan setelah keliling baru srek sama yang ini," ujar Anita. 

Ini bukan pertama kalinya ia mencari "harta karun" di pasar loak Astana Anyar. Barang jackpotnya jatuh pada sepatu docmart yang hanya dihargai kurang dari Rp50 ribu.

"Sepatunya terlihat masih baru dan bagus. Alhamdulillah ukuran kakinya juga pas," katanya. 

Ia menyebut, bila sepatu docmart sudah masuk mall, butuh mengocek harga lebih dari Rp300 ribu. 

Perempuan asal Cimahi ini menyebut, berburu barang vintage hingga loak membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk sekali hunting. 

"Harus bener-bener dicek lagi, dilihat satu-satu. Bisa jadi dapat barang bagus seperti sepatu, jam tangan juga pernah dapat yang baru, dan ternyata mqsih berfungsi," tuturnya. 

Menurut Anita, bukan hal yang lumrah menemukan berbagai merk beken di tumpukan barang-barang yang dijajakan. Meski demikian, label tersebut tak memberi jaminan asli maupun berumur panjang saat dibawa ke rumah. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.