Potret Langka Stasiun Klaten Zaman Belanda, Dulu Bernama Station Klatten, Ramai Andong Kuda
Candra Isriadhi July 04, 2026 06:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Stasiun Klaten menjadi salah satu bangunan bersejarah yang memiliki peran penting dalam perkembangan Kabupaten Klaten sejak masa kolonial Belanda.

Jauh sebelum menjadi stasiun modern seperti sekarang, bangunan ini dikenal dengan nama Station Klatten dan menjadi salah satu titik vital dalam jalur kereta api yang menghubungkan Solo dengan Yogyakarta.

Dari berbagai dokumentasi lawas, suasana Station Klatten tampak jauh berbeda dibandingkan kondisi saat ini.

WISATA KLATEN - Potret Stasiun Klaten di masa kolonial Belanda.
WISATA KLATEN - Potret Stasiun Klaten di masa kolonial Belanda. (Instagram/@jalananklaten)

Area stasiun terlihat begitu luas dengan halaman depan yang lapang.

Pemandangan yang paling mencolok adalah deretan andong yang berjajar menunggu penumpang di depan stasiun.

Pada masa itu, andong menjadi moda transportasi utama yang mengantar maupun menjemput masyarakat yang bepergian menggunakan kereta api.

Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang

Keberadaan andong membuat kawasan stasiun selalu terlihat hidup.

Para kusir menunggu calon penumpang, sementara aktivitas bongkar muat barang dan lalu lalang masyarakat menciptakan suasana yang ramai sejak pagi hingga sore hari.

Meski demikian, tidak semua orang dapat dengan bebas memasuki area stasiun.

Pada masa kolonial, Station Klatten lebih banyak digunakan oleh kalangan tertentu, terutama pejabat, pegawai pemerintahan, maupun warga Belanda yang tinggal di wilayah Klaten dan sekitarnya.

WISATA KLATEN - Potret Stasiun Klaten di masa kolonial Belanda.
WISATA KLATEN - Potret Stasiun Klaten di masa kolonial Belanda. (Instagram/@jalananklaten)

Hal tersebut juga tampak dari sejumlah foto lawas yang memperlihatkan dominasi warga Belanda berada di lingkungan stasiun.

Kondisi tersebut mencerminkan adanya perbedaan akses terhadap fasilitas publik pada masa pemerintahan kolonial.

Di balik kemegahan bangunannya, Station Klatten memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakkan roda perekonomian Klaten.

Baca juga: Sosok Mufli Budi Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Lulusan D3, S1 Tak Selesai

Jalur kereta api Solo–Yogyakarta yang melintasi Klaten menjadi urat nadi distribusi hasil pertanian dan industri, terutama komoditas tebu yang saat itu menjadi salah satu andalan pemerintah kolonial Belanda.

Kereta api dimanfaatkan untuk mengangkut hasil panen tebu dari sejumlah pabrik gula di Klaten, seperti PG Gondang Winangoen, PG Ceper, dan PG Jatinom.

Melalui jalur rel tersebut, hasil produksi gula kemudian didistribusikan ke berbagai daerah sehingga mempercepat aktivitas perdagangan pada masa itu.

Tak hanya mendukung industri gula, kehadiran jalur kereta api juga membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Klaten.

WISATA KLATEN - Potret Stasiun Klaten di masa kolonial Belanda.
WISATA KLATEN - Potret Stasiun Klaten di masa kolonial Belanda. (Instagram/@jalananklaten)

Mobilitas penduduk menjadi semakin mudah, perdagangan berkembang lebih pesat, dan kawasan di sekitar stasiun tumbuh menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.

Wilayah seperti Stasiun Klaten, Ceper, hingga Delanggu perlahan berkembang menjadi kawasan yang ramai dengan munculnya pasar, pertokoan, serta permukiman penduduk.

Hingga kini, Stasiun Klaten masih berdiri dan terus melayani perjalanan kereta api.

Meski telah mengalami berbagai perubahan dan modernisasi, bangunan ini tetap menyimpan jejak sejarah panjang yang menjadi saksi perkembangan transportasi, industri gula, dan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Klaten sejak era kolonial Belanda.

(Tribunnewsmaker.com/Candra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.