Jakarta (ANTARA) - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengingatkan kepala Sekolah Rakyat untuk mempersiapkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 dengan matang dan teliti.
Gus Ipul saat menggelar pertemuan daring bersama seluruh kepala Sekolah Rakyat dan perwakilan dinas sosial se-Indonesia pada Jumat (3/7) menegaskan, dengan adanya masa transisi dari Sekolah Rakyat rintisan ke Sekolah Rakyat Permanen, persiapan tersebut sangat penting untuk mengantisipasi berbagai hambatan yang mungkin muncul.
“Saya ingin kepala sekolah benar-benar fokus membuat perencanaan, kemudian tentu pengendalian, monitoring, dan evaluasinya dilakukan. Jadi, mulai dari perencanaan implementasi monitoring dan evaluasinya harus dibuat secara keseluruhan," ujar Gus Ipul dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan, untuk perencanaan, pengendalian, serta monitoring dan evaluasi mencakup tiga aspek kesiapan, yaitu kesiapan sarana dan prasarana, kesiapan siswa, dan kesiapan guru serta tenaga pendidik. Agar kesiapan ketiga aspek itu terpenuhi, Gus Ipul meminta kepala sekolah sebagai penanggung jawab pertama untuk senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
"Gedung dan bangunan lain tidak boleh hanya sekadar berdiri, seluruh kelengkapan fasilitas bagi siswa mencakup air bersih, listrik, dan sebagainya diharapkan sudah siap sebelum MPLS dimulai. Status siswa juga sudah harus diputuskan melalui penetapan (pleno) kepala daerah. Setiap tenaga pengajar dan tenaga pendidik juga harus mengikuti jalannya MPLS," paparnya.
Sekolah Rakyat permanen yang dimulai tanpa Sekolah Rakyat Rintisan terlebih dahulu akan mendapatkan tenaga pengajar dan tenaga pendidik sementara yang disediakan pemerintah daerah, Sekolah Rakyat di sekitarnya atau pendamping sosial sambil menunggu hasil rekrutmen pada awal Agustus 2026.
MPLS Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2026/2027 akan dilaksanakan pada 14–31 Juli 2026, dan dilanjutkan matrikulasi pada 3 Agustus sampai 30 September 2026. Menurut Gus Ipul, masa-masa ini krusial karena semua pihak membutuhkan adaptasi agar siap secara fisik, mental, sosial, dan akademik.
"Jadi, urutannya itu MPLS, matrikulasi, dan yang terakhir adalah kegiatan belajar mengajar. Tujuannya menyiapkan siswa secara fisik, mental, sosial, spiritual, dan akademik serta menyelaraskan kesenjangan kompetensi dengan kurikulum Sekolah Rakyat. Ini adalah masa-masa krusial, sehingga kita perlu beradaptasi," katanya.
Di masa krusial itulah, Gus Ipul meminta agar kepala sekolah bersama seluruh jajarannya menumbuhkan empati kepada para siswa yang berasal dari berbagai latar belakang berbeda dan merangkul mereka.
Menurut Mensos, MPLS sangat penting sebagai fondasi kesetaraan agar siswa bisa mengikuti irama hidup di Sekolah Rakyat, bukan hanya formalitas pembukaan semata. Ia berharap, siswa dapat memulai dari titik yang sama dan mengesampingkan perbedaan latar belakang mereka.
"Kepala sekolah dan dinas sosial harus berjalan beriringan dan bekerja sama sebagai kesatuan. Koordinasi percepatan dan komunikasi kendala harus disampaikan sesegera mungkin," ucap Gus Ipul.
Ia juga berpesan agar seluruh pihak yang terlibat bekerja secara nyata, sehingga hadirnya Sekolah Rakyat benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Bekerja, bergerak, berdampak. Sekolah Rakyat adalah wajah nyata negara hadir untuk rakyat," tutur Gus Ipul.





