TRIBUN-TIMUR.COM, BARRU – Kontingen PGRI Kabupaten Barru berhasil mengamankan medali perdana mereka dalam ajang Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) yang digelar di Kabupaten Sidrap.
Prestasi membanggakan ini lahir dari Cabang Lomba Pembelajaran Digital untuk jenjang Sekolah Dasar (SD).
Adalah Reski Amalia, seorang guru milenial asal UPTD SDN 145 Kabupaten Barru, yang sukses menyumbang medali perak setelah keluar sebagai Juara 2 dalam kompetisi guru se-Sulawesi Selatan tersebut.
Sebagai peserta pertama yang tampil mempresentasikan karyanya, guru kelas empat ini memukau dewan juri lewat sebuah inovasi media pembelajaran berbasis web interaktif yang ia beri nama Panrita.
Melalui satu tautan (link) terintegrasi, materi pembelajaran interaktif mengenai panca indera pendengaran (telinga) dapat diakses dengan mudah via smartphone maupun komputer.
Di dalam platform Panrita tersebut, terdapat 32 slide materi komprehensif yang menyajikan gambar telinga beserta fungsi dan bagian-bagian detailnya.
Inovasi digital ini lahir dari keresahan Reski Amalia terhadap minimnya benda konkret di sekolah yang bisa dijadikan alat peraga untuk menggambarkan sistem kerja indera manusia secara mendetail.
Sekolah tempatnya mengajar sendiri berlokasi di Jl. Poros Parepare-Makassar, Kelurahan Bojo Baru, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru.
Ia menceritakan pengalamannya yang sempat mencoba membuat alat peraga manual, namun hasilnya kurang maksimal.
"Pernah saya coba buat alat peraga dari kardus untuk alat indera perasa (kulit). Tapi tidak bagus karena menggunakan banyak lem," ujarnya kepada reporter Tribun-Timur.com ketika dikonfirmasi Telephone Whatsapp, Sabtu (4/7/2026) sore.
Keterbatasan fasilitas tersebut tidak membuatnya patah arang.
Dengan latar belakang pendidikan sebagai seorang pendidik—bukan ahli teknologi—Reski memilih untuk mengeksplorasi dunia teknologi secara mandiri.
Ia memanfaatkan berbagai platform digital populer seperti Canva, Lumi Education, Assemblr Edu, hingga video pembelajaran di YouTube untuk memvisualisasikan materi yang abstrak menjadi konkret.
"Saya belajarnya otodidak. Karena saya basic-nya guru, bukan teknologi," tambahnya.
Penerapan media digital di ruang kelas terbukti membawa dampak positif yang signifikan bagi para peserta didik di SDN 145 Barru.
Dibandingkan menggunakan alat peraga kardus konvensional, Reski menilai siswa jauh lebih cepat menangkap esensi pelajaran.
“Siswa menjadi lebih aktif, responsif, dan lebih cepat memahami fungsi-fungsi panca indera,” tambahnya.