TRIBUN-MEDAN.com - Seorang pria kaget setelah mengetahui bahwa bayi yang dikandung istrinya bukanlah darah dagingnya.
Dikutip dari Eva, Sabtu (4/7/2026), kisah memilukan ini bermula ketika pasangan tersebut akhirnya mengumumkan kabar kehamilan yang telah lama dinantikan, setelah empat tahun berjuang mendapatkan momongan.
Namun, di balik kabar bahagia itu, tersimpan kenyataan pahit yang kemudian terungkap melalui percakapan sang istri dengan ibu kandungnya.
Dalam pengakuannya, pria tersebut menceritakan bahwa ia hingga kini masih mencintai istrinya. Ia juga mengaku memiliki hubungan yang sangat baik dengan keluarga sang istri, yang selama ini selalu memperlakukannya dengan penuh perhatian dan rasa hormat.
Ia menjelaskan bahwa latar belakang ekonomi keluarganya jauh berbeda dengan keluarga istrinya. Kedua orang tua istrinya merupakan pebisnis, sementara keluarganya hidup dengan kondisi yang lebih sederhana. Karena istrinya adalah anak perempuan satu-satunya, setelah menikah ia memutuskan tinggal di rumah mertua sebagai menantu yang menetap bersama keluarga istri.
Keputusan tersebut sempat menuai penolakan dari teman-teman maupun keluarganya sendiri. Ibunya bahkan pernah mengingatkan agar mempertimbangkan kembali keputusan tersebut karena tinggal bersama mertua berpotensi menimbulkan gesekan dalam hubungan keluarga.
Meski demikian, ia tetap yakin dengan pilihannya. Menurutnya, keputusan tinggal bersama mertua murni didasari niat baik dan bukan karena mengharapkan keuntungan materi.
Pada masa-masa awal tinggal bersama, ia mengakui sempat merasa dirinya selalu diperhatikan dan dinilai oleh kedua mertuanya. Namun seiring berjalannya waktu, setelah mereka melihat kesungguhannya dalam menyayangi istri dan mengurus keluarga, hubungan mereka menjadi semakin harmonis.
Bahkan, ibu mertuanya pernah menyarankan agar ia dan istrinya membeli rumah sendiri demi kenyamanan berumah tangga. Sang ibu mertua bahkan bersedia membantu biaya pembelian rumah apabila nilainya di bawah 10 miliar dong (mata uang Vietnam, red).
Akan tetapi, tawaran tersebut ditolaknya karena pada saat itu ayah mertuanya baru mengalami kecelakaan hingga tidak dapat berjalan. Ia memilih tetap tinggal di rumah agar bisa membantu merawat sang ayah mertua.
Selama beberapa tahun terakhir, kehidupan rumah tangga mereka berjalan relatif tenang. Hanya satu persoalan yang terus menjadi beban, yakni belum hadirnya anak setelah empat tahun menikah.
Pasangan itu kemudian menjalani pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebab sulitnya memperoleh keturunan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi kesehatan sang suami dalam keadaan normal.
Sementara itu, istrinya didiagnosis menderita sindrom ovarium polikistik (PCOS) dan endometriosis. Meski telah menjalani pengobatan dalam jangka waktu tertentu, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Pria itu memahami tekanan yang dirasakan istrinya akibat kondisi tersebut. Karena itu, ia selalu berusaha menguatkan sang istri agar tidak memedulikan perkataan orang lain mengenai keturunan. Baginya, kebahagiaan rumah tangga jauh lebih penting daripada tekanan dari lingkungan sekitar.
Sikapnya yang tetap setia mendampingi istrinya membuat kedua mertuanya semakin menghargainya.
Namun, belakangan ia mulai menyadari adanya perubahan sikap pada diri istrinya. Sang istri semakin sering pergi sejak pagi dan baru pulang larut malam. Setiap kali ditanya mengenai aktivitasnya, ia justru mudah marah dan menunjukkan sikap kesal.
Perubahan tersebut bahkan menarik perhatian ibu mertuanya. Menurut pria itu, ibu mertuanya beberapa kali menegur putrinya. Dalam salah satu kesempatan, sang ibu bahkan sempat mengatakan bahwa apabila bukan karena dirinya, belum tentu ada pria lain yang mampu bertahan hidup bersama putrinya.
Tidak lama kemudian, istrinya mengumumkan bahwa dirinya telah hamil tiga bulan. Kabar tersebut membuat pria itu sangat bahagia sekaligus terkejut karena perjuangan mereka selama empat tahun akhirnya membuahkan hasil.
Meski demikian, ia merasa ada sesuatu yang janggal. Ia mengetahui bahwa istrinya sebenarnya sudah menyadari kehamilan tersebut sekitar satu bulan sebelumnya, tetapi baru mengabarkannya kepada dirinya.
Saat dimintai penjelasan, sang istri beralasan sengaja menunggu hingga kondisi kandungannya lebih stabil karena percaya bahwa usia kehamilan pada minggu-minggu awal sebaiknya tidak diumumkan kepada banyak orang.
Merasa akan segera menjadi seorang ayah, pria itu kemudian menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada seluruh anggota keluarga. Namun, ia justru melihat reaksi berbeda dari ibu mertuanya. Perempuan itu tampak murung, bahkan meninggalkan meja makan sebelum selesai dan langsung masuk ke kamarnya.
Pada malam harinya, pria tersebut terbangun karena tidak menemukan istrinya di kamar. Saat mencari ke lantai bawah, ia melihat istrinya sedang berbicara dengan ibu kandungnya di halaman rumah. Karena merasa penasaran, ia diam-diam mendengarkan percakapan mereka.
Dari pembicaraan itu, ia mendengar ibu mertuanya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa membenarkan tindakan putrinya. Sang ibu mengungkapkan bahwa ketika usia kandungan masih beberapa minggu, putrinya sempat melakukan tes DNA.
Ia mengaku sempat berharap bayi tersebut adalah anak seorang pria bernama Hoang. Namun setelah hasil pemeriksaan menunjukkan sebaliknya, ia mempertanyakan alasan putrinya tetap mempertahankan kehamilan itu.
Ibu mertua juga memperingatkan bahwa apabila putrinya tidak segera menyelesaikan persoalan tersebut, ia harus keluar dari rumah karena dirinya tidak ingin terus membenarkan perbuatan sang anak.
Mendengar percakapan itu, pria tersebut langsung keluar dan meminta penjelasan. Dalam situasi tersebut, istrinya akhirnya mengakui telah berselingkuh.
Lebih mengejutkan lagi, wanita itu juga mengakui bahwa bayi yang sedang dikandungnya merupakan anak dari pria lain.
Menurut pengakuannya, ibu mertua tetap menunjukkan dukungan kepada sang menantu. Ia menyatakan akan berusaha menyelesaikan persoalan tersebut. Namun hingga kini, pria itu mengaku berada dalam kebimbangan karena usia kandungan istrinya telah memasuki tiga bulan.
Akibat peristiwa tersebut, hubungan suami istri itu berubah menjadi renggang. Selama beberapa hari terakhir, keduanya memilih saling mendiamkan dan belum menemukan jalan keluar atas persoalan yang mereka hadapi.
(cr31/tribun-medan.com)