Sensasi Makan Mi Rebus Berlatar Jalur Ekstrem Sitinjau Lauik Padang
afrizal July 04, 2026 11:27 PM

TRIBUNPADANG.COM- Kepulan asap tebal dari knalpot truk membubung tinggi, beradu dengan kabut tipis yang mulai turun menyelimuti aspal. 

Di tanjakan ekstrem Sitinjau Lauik, deru mesin saling bersahutan membelah kesunyian perbukitan jalur lintas Sumatra yang menghubungkan Kota Solok dan Kota Padang.

Apalagi saat kondisi macet, deretan kendaraan yang berbaris memberi pemandangan khas. 

Namun, tepat di kelokan kawasan Panorama Dua, adrenalin yang naik saat melewati jalur ekstrem itu bisa mendadak turun. 

Di tepi tebing yang curam, terdapat beberapa warung kayu berdiri kokoh.

Posisinya menghadap ke arah turunan. 

Dari warung ini tampak deretan kendaraan yang antre.

Warung ini, menjadi andalan pengendara yang lelah. 

Berdiri di Atas Embun

Bagi para pelancong, warung-warung di Panorama Dua telah bertransformasi menjadi tribun penonton yang unik. 

Berjejer di atas bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke jalan raya, pengunjung tidak disuguhi pemandangan sawah hijau atau laut biru.

Hiburan utama mereka adalah tontonan kendaraan yang bergerak merayap, atau bahkan drama menegangkan saat ada truk besar yang gagal menanjak.

Bonusnya, pemandangan Kota Padang dari ketinggian yang tampak jelas saat cerah. 

Seorang pengendara mobil pribadi asal Solok yang hendak menuju Padang, Hendra terlihat lahap menyantap mi rebus bertabur cabai rawit potong miliknya. 

Bagi Hendra, singgah di Panorama Dua sudah menjadi kewajiban setiap kali ia melintasi jalur ini bersama keluarganya.

"Jalur Sitinjau ini kan terkenal bikin tegang. Jadi kalau sudah sampai di Panorama Dua, rasanya pas sekali untuk istirahat. Makan mi rebus panas-panas di tengah cuaca dingin begini rasanya nikmat tiada dua. Sambil makan, kita bisa melihat perjuangan truk-truk besar lewat. Itu punya sensasi tersendiri bagi kami," ujar Hendra seraya tersenyum, Sabtu (4/7/2026).

Jadi Spot Estetik

Tak jauh dari tempat duduk Hendra, beberapa anak muda tampak sibuk mengarahkan kamera ponsel mereka. 

Mereka tidak hanya memotret mangkuk mi yang mengepul, tetapi juga berswafoto dengan latar belakang kelokan tajam dan kabut yang mulai turun merayap dari perbukitan.

Bagi generasi muda, kawasan ini telah bergeser fungsi dari sekadar tempat istirahat logistik menjadi spot estetik yang sarat akan visual street photography dan cerita perjalanan. 

Momen langka kendaraan besar yang meliuk di tikungan menjadi buruan utama untuk diunggah ke media sosial.

Tak Kan Buat Kantong Jebol

Menu yang disajikan di warung-warung Panorama Dua sebenarnya sangat sederhana. 

Pengunjung bisa memesan aneka makanan mulai dari mi rebus pakai telur, Pop Mie instan, hingga gorengan hangat seperti bakwan dan pisang goreng.

Untuk minuman, tersedia pilihan klasik penumpas dingin seperti kopi hitam, teh manis hangat, hingga susu kental manis panas.

Semua disajikan dengan cepat, mengepul, dan langsung dari kompor yang terus menyala.

MACET SITINJAU LAUIK- Arus lalu lintas dari arah Solok menuju Kota Padang via jalur Sitinjau Lauik mengalami kemacetan parah pada Selasa (30/6/2026). Kendaraan roda empat terpaksa harus antre dan bersabar menunggu bergerak.
MACET SITINJAU LAUIK- Arus lalu lintas dari arah Solok menuju Kota Padang via jalur Sitinjau Lauik mengalami kemacetan parah pada Selasa (30/6/2026). Kendaraan roda empat terpaksa harus antre dan bersabar menunggu bergerak. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Menariknya, sensasi kuliner di atas awan ini tidak membuat kantong jebol untuk mi rebus, harganya sangat terjangkau, mulai dari Rp15.000 saja per porsi.

Kalau ditambah telur tentu menyesuaikan sedikit. 

Sementara untuk minuman hangat seperti kopi atau teh, harganya cuma Rp5.000. 

Di sudut warung yang menghadap langsung ke tebing, tampak Fadel seorang mahasiswa asal Solok mengendarai sepeda motor matik bersama temannya. 

Dengan jaket tebal yang masih basah oleh embun, Fadel mengaku sengaja menepi di Panorama Dua karena tangannya sudah mulai kaku akibat udara dingin.

"Kalau naik motor lewat Sitinjau ini dinginnya minta ampun, apalagi kalau kabut sudah turun. Tangan sampai baal (mati rasa) menahan rem dan gas. 

Makanya begitu melihat kepulan uap dari warung di Panorama Dua ini, saya langsung belok.

Menyantap mi rebus hangat di sini rasanya seperti mendapat tenaga baru. 

Tubuh yang tadi menggigil langsung terasa hangat lagi sebelum kami lanjut turun ke Padang," tutur Fadel.

Cara Terbaik Pulihkan Kendaraan dan Fisik

Tak jauh dari sana, Roni (38), seorang pengendara motor yang melakukan perjalanan dari Solok menuju tempat kerjanya di Padang, tengah menikmati segelas susu kental manis hangat ditemani beberapa potong gorengan. 

Bagi Roni yang rutin melintasi jalur ini, berhenti di Panorama Dua adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan mesin motor sekaligus memulihkan fokusnya.

"Tanjakan dari arah Solok ke Panorama Dua ini kan panjang dan menguras tenaga motor, Jadi saya sengaja berhenti di sini bukan cuma buat mengisi perut, tapi juga memberi waktu biar mesin motor dingin dulu. Sembari menunggu motor istirahat, kita bisa duduk santai makan Pop Mie goreng. Berkendara pakai motor di jalur maut begini tidak boleh dipaksakan kalau fisik sudah lelah, taruhannya nyawa," kata Roni dengan nada serius.

Waktu kian beranjak sore di Panorama Dua, namun aktivitas di warung-warung ini tidak menunjukkan tanda-tanya mereda.

Kabut tebal mulai turun perlahan, menyelimuti aspal jalanan dan menyisakan jarak pandang yang makin terbatas.

Di tengah dingin yang makin menusuk, kepulan uap mi rebus dan kehangatan segelas kopi di tepi Sitinjau Lauik akan terus setia menyambut siapapun yang datang merayap dari balik bukit.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.