BANGKAPOS.COM--Tekanan pekerjaan, persoalan keluarga, kemacetan, hingga perdebatan di media sosial membuat banyak orang semakin mudah terpancing emosi.
Di tengah ritme kehidupan yang serba cepat, kemarahan kerap muncul secara spontan dan tak jarang berujung pada penyesalan.
Jauh sebelum fenomena ini menjadi bagian dari kehidupan modern, Islam telah memberikan tuntunan tentang cara mengendalikan amarah.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa marah merupakan fitrah manusia, tetapi tidak boleh dibiarkan menguasai akal dan hati hingga mendorong seseorang berbuat buruk.
Dalam berbagai hadis, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amarah dapat menjadi jalan masuk bagi godaan setan.
Karena itu, umat Islam dianjurkan segera memohon perlindungan kepada Allah SWT ketika emosi mulai memuncak.
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk meredakan amarah adalah:
Arab:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِي وَأَجِرْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ
Latin:
Allahummaghfirlî dzanbî, wa adzhib ghaizha qalbî, wa ajirnî minas syaithâni.
Artinya:
"Ya Allah, ampunilah dosaku, redakanlah amarah dalam hatiku, dan lindungilah aku dari godaan setan."
Doa ini mengajarkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT agar hati kembali tenang dan tidak dikuasai emosi.
Selain berdoa, Rasulullah SAW juga menganjurkan membaca ta'awudz ketika marah.
Arab:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Latin:
A‘ûdzu billâhi minas syaithânir rajîm.
Artinya:
"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."
Membaca ta'awudz dipercaya dapat memutus bisikan setan yang berusaha memperbesar amarah hingga seseorang kehilangan kendali atas ucapan maupun perbuatannya.
Rasulullah SAW juga memberikan langkah praktis untuk meredakan emosi, yakni segera berwudhu.
Dalam hadis disebutkan bahwa amarah berasal dari api, sedangkan air dapat membantu meredakan panasnya emosi.
Karena itu, berwudhu tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga membantu menenangkan jiwa.
Selain itu, Rasulullah SAW menganjurkan mengubah posisi tubuh ketika marah.
Apabila sedang berdiri, dianjurkan untuk duduk. Jika kemarahan belum juga reda saat duduk, maka disarankan berbaring.
Langkah sederhana tersebut bertujuan mengurangi intensitas emosi sekaligus memberi waktu agar pikiran kembali jernih.
Islam juga menganjurkan memperbanyak membaca Surah Al-Falaq sebagai doa perlindungan dari berbagai keburukan, termasuk emosi negatif.
Para ulama menganjurkan Surah Al-Falaq dibaca setelah Salat Subuh, Salat Jumat, menjelang tidur, selepas Salat Asar, maupun ketika seseorang merasa gelisah, takut, atau marah.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa ukuran kekuatan seseorang bukan terletak pada kemampuan mengalahkan orang lain, melainkan pada kemampuannya mengendalikan diri ketika marah.
Pesan tersebut semakin relevan di era digital saat ini, ketika emosi dapat dengan mudah tersulut hanya melalui percakapan di media sosial atau pesan singkat.
Dengan memperbanyak doa, istighfar, membaca ta'awudz, berwudhu, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, seorang muslim diharapkan mampu menjaga ketenangan hati, memperbaiki hubungan dengan sesama, sekaligus meningkatkan kualitas keimanannya.
Sebab dalam pandangan Islam, kemenangan terbesar bukanlah menundukkan orang lain, melainkan berhasil menaklukkan amarah yang ada dalam diri sendiri.(*)
(Bangkapos.com/Zulkodri)