TRIBUNJATENG.COM - Setelah tak aktif lagi sebagai atlet nasional, kiprah taekwondoin asal Jawa Tengah, Fransisca Valentina di dunia taekwondo belum berhenti.
Mantan atlet taekwondo Jawa Tengah kelahiran Sragen, 23 Maret 1987 itu saat ini menjadi pelatih utama tim Taekwondo Jawa Tengah nomor kyorugi.
Sebagai informasi, Siska bukan sosok baru di dunia taekwondo Jawa Tengah.
Sebelum berkarir sebagai pelatih, perempuan berusia 39 tahun itu merupakan salah satu atlet terbaik yang pernah dimiliki Jateng.
Baca juga: Kronologi Puluhan Pemuda Menyerang 4 Orang di Pati, Terekam CCTV
Baca juga: Program Speling Hadir di Banyumas, Ratusan Warga Antre Periksa Kesehatan Gratis
Sepanjang kariernya, ia berhasil meraih tiga medali emas PON secara beruntun, termasuk emas pada PON XVI Palembang 2004. Di tingkat nasional, ia juga menjadi juara Kejurnas LG Cup 2005.
Sementara di level internasional, Siska meraih medali perak ATF 2004 di Yogyakarta, juara Hwarang Festival 2005, medali perunggu Asian Games 2010 Guangzhou, medali perunggu SEA Games XXIII Filipina, medali perak SEA Games XXV Laos, serta medali emas SEA Games XXVI saat Indonesia menjadi tuan rumah.
Sebagai mantan atlet, dia memiliki mimpi besar, yakni berharap muncul generasi baru dari Jawa Tengah yang mampu berbicara lebih jauh, bahkan mencatat prestasi lebih tinggi dibanding pencapaiannya. Terutama pada nomor kyorugi.
"Mengapa saya menjadi pelatih, karena saya ingin membagikan pengalaman yang saya dapatkan semasa menjadi atlet, untuk dibagikan kepada adik-adik saya. Tentu saya berharap kembali ada Fransisca Valentina yang dulu bahkan melebihi prestasi saya (kategori kyorugi--red)," ujarnya.
Adapun sebagai pelatih Jawa Tengah, ia mulai menangani tim kyorugi Jateng sejak 2022, termasuk mempersiapkan atlet menghadapi babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON).
Karier kepelatihannya juga berlanjut ke level nasional setelah mendapat kesempatan menjadi bagian dari pelatih Timnas Taekwondo Indonesia pada periode 2023 hingga 2025.
Setelahnya ia kembali sebagai pelatih Jawa Tengah.
Salah satu pencapaiannya yakni membawa kontingen taekwondo Jateng meraih gelar juara umum pada PON Beladiri Kudus tahun lalu.
Di bagian lain, ia menyebut saat ini Pengprov TI Jateng juga mulai mempersiapkan skuad terbaik untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) NTT-NTB 2028.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memanfaatkan Gubernur Jateng Cup Taekwondo pada Minggi 28 Juni 2026 lalu sebagai ajang menjaring atlet-atlet potensial.
Menurut Siska, kejuaraan tersebut menjadi wadah penting untuk menemukan bibit-bibit baru yang berpotensi menjadi tulang punggung Taekwondo Jawa Tengah pada PON mendatang.
"Potensinya sangat bagus, apalagi dengan adanya event seperti ini. Banyak atlet-atlet potensial yang berhasil kami temukan. Dari hasil pantauan kemarin, ada beberapa atlet yang benar-benar berada di atas rata-rata," katanya.
"Kalau tidak ada event seperti ini, kami tidak akan bisa menemukan bibit-bibit atlet tersebut. Jadi ini sangat luar biasa. Harapan saya ke depan, event seperti ini bisa lebih sering diselenggarakan agar semakin banyak atlet potensial yang terjaring," ujar Siska.
Ia menjelaskan, tim pelatih tidak hanya menilai hasil pertandingan, tetapi juga melihat kualitas teknik, kondisi fisik, hingga antropometri atau postur tubuh atlet.
Penilaian tersebut dilakukan karena perkembangan taekwondo modern menuntut karakteristik fisik yang sesuai dengan kebutuhan pertandingan saat ini.
"Dalam proses seleksi, tentu kami melihat kualitas permainan atlet. Selain itu, kami juga memperhatikan aspek antropometri atau postur tubuh mereka. Perkembangan taekwondo saat ini menuntut atlet dengan karakteristik fisik tertentu, sehingga kami harus menyesuaikan dengan perkembangan olahraga taekwondo modern," katanya.
Dari hasil pemantauan selama kejuaraan, Siska mengungkapkan sudah ada sejumlah atlet yang masuk dalam radar tim pelatih.
"Dari hasil pemantauan kemarin, sudah ada beberapa atlet yang sesuai dengan kriteria yang kami inginkan, baik dari segi teknik, kondisi fisik, maupun antropometrinya," ungkapnya. (*)