Ekonom Bandingkan RI dan Vietnam yang Kini Negara Menengah Atas
GH News July 05, 2026 12:08 AM
Jakarta -

Keseluruhan keadaan ekonomi Indonesia dinilai dapat diprediksi atau bahkan dipotret dari satu indikator saja, yakni data PMI (Purchasing Managers' Index) manufaktur yang menurun.

Angka PMI merupakan indikasi sektor industri masuk zona merah pada level indeks di bawah 50. Menurut Didik J Rachbini, Ekonom INDEF yang juga Rektor Universitas Paramadina, meskipun ekonomi tumbuh 5,61% kuartal yang lalu tetapi ini dorongan sektor negara di balik sektor industri yang terus menurun.

"Data PMI yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Berbeda dengan Vietnam yang pertumbuhan ekonominya mencapai 8% faktor pendukungnya tidak lain adalah sektor industri, yang dikembangkan 2-3 dekade terakhir ini," Vietnam Didik dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/7/2026).

Vietnam membuat kebijakan ramah investasi dan membangun sektor industri sehingga ekonominya bertransformasi menjadi negara industri baru. Hasilnya terlihat sekarang di mana pada Juli 2026 Bank Dunia menetapkan Vietnam sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income country).

Vietnam dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi mempunyai pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita mencapai sekitar US$ 4.970. Pencapaian ini sudah melampaui ambang batas US$ 4.636 sebagai negara berpendapatan menengah atas.

Kondisi Indonesia

Sementara, menurut Didik, sektor Industri Indonesia sudah lama terombang-ambing tidak mempunyai pijakan kebijakan yang jelas. Data PMI manufaktur yang menurun ke zona kontraksi ini memang buah dari kebijakan yang absen terhadap sektor industri dan investasi.

Selain absen kebijakan industri, dunia usaha menghadapi tekanan biaya yang karena faktor geopolitik global dan faktor domestik. Dunia usaha tidak akan berinvestasi selama tidak ada kebijakan yang jelas, hambatan birokrasi yang ruwet dan insentif yang tidak memadai untuk menjadikan industri tumbuh pesat.

"Ada juga faktor daya beli masyarakat yang menurun tetapi itu terjadi karena sektor industri mengkerut dan ekonomi secara keseluruhan tidak cukup menyediakan kesempatan kerja produktif," tuturnya.

Karena itu, masalah ini seperti lingkaran setan sehingga upaya memutusnya tidak lain adalah transformasi struktur industri, deregulasi dan debirokratisasi agar dunia usaha utamanya industri berkembang.

Praktek kebijakan terbaik sudah dijalankan pemerintah pada tahun 1980-an dan 1990-an, yang menghasilkan ekonomi tumbuh 7-8% dan sektor industri tumbuh 10-12%. Tetapi kebijakan seperti ini tidak atau belum mampu dijalankan kembali.

"Kebijakan seperti inilah yang dijalankan oleh Vietnam sehingga sekarang sudah melompat menjadi negara industri berpendapatan menengah atas. Kita tidak pernah secara konsisten menjalankan kebijakan transformasi struktural dan deregulasi seperti itu lagi sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia berhenti di tingkat moderat 5 persen tanpa dukungan sektor industri yang kuat," bebernya.

Jika diteliti tingkat pertumbuhan tiap kuartal dari masing-masing sektor, maka sektor industri mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Ini menandakan alarm bahasa, persis sama dengan indikasi data PMI yang menurun pada saat ini.

Kondisi di Vietnam

Sementara itu Vietnam sebaliknya, membuat kebijakan transformasi struktur ekonomi dengan strategi industri "Masuk dulu ke rantai produksi global, baru naik kelas secara bertahap."

Strategi industri Vietnam adalah strategi outward looking, persis sama dengan yang dilakukan Indonesia pada tahun 1980-an. Tahapannya adalah menarik FDI, yang berkualitas. Berbeda dengan Indonesia yang menarik investasi tidak berkualitas, seperti restoran, jasa perdagangan, pengemasan, dan lain-lain.

"Di Vietnam investasi diarahkan ke pasar ekspor tetapi mengembangkan industri domestik. Yang paling penting adalah proses transfer teknologi dan pengembangan inovasi di alam kebijakan tersebut," terang Didik.

Menurutnya, Indonesia sekarang kalah dengan "anak bawang" (Vietnam) yang tahun 1970-an rakyatnya masih keleleran mengungsi di pulau Galang dan Rempang.

Jika tidak ada kebijakan untuk membangkitkan industri secara masif dan tidak memperbaiki iklim usaha, maka Indonesia bisa menjadi negara sakit di ASEAN.

Sebaliknya, kini Vietnam selain menjadi negara berpendapatan menengah atas, juga mulai memasuki fase yang disebut beberapa pengamat sebagai "Đổi Mới 2.0", yaitu transisi dari ekonomi berbasis upah murah menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi dengan nilai tambah industri yang tinggi.

"Berbeda dengan Indonesia, dalam waktu yang tidak lama dan dengan tingkat pertumbuhan 8 persen, negara ini bisa melewati jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap)," tutup Didik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.