TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) Prof. H Gusti Hardiansyah menegaskan Kalimantan Barat memiliki kawasan yang layak diusulkan sebagai Calon Cagar Biosfer UNESCO.
Tiga kawasan yang disebut adalah Selat Karimata, Taman Nasional Gunung Palung, dan Hutan Lindung Mendawak.
“Kawasan itu yakni Selat Karimata, Taman Nasional Gunung Palong dan Hutan Lindung Mendawak,” ujar Guru Besar Fakultas Kehutanan Untan ini, Sabtu 4 Juli 2026.
Menurutnya, cagar biosfer dikelola melalui sistem zonasi yang terdiri dari tiga bagian, Area Inti sebagai kawasan lindung ketat untuk melestarikan keanekaragaman hayati, Zona Penyangga untuk penelitian, pendidikan, dan pemanfaatan ramah lingkungan, serta Area Transisi yang menjadi ruang masyarakat tinggal dan mengembangkan ekonomi berkelanjutan.
Ia menekankan, potensi cagar biosfer di Kalbar bukan hanya soal konservasi, tetapi juga berdampak pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
"Selat Karimata, Taman Nasional Gunung Palung, dan Hutan Lindung Mendawak bahkan berkontribusi terhadap peningkatan IPM Provinsi Kalbar,” jelasnya, Sabtu 4 Juli 2026.
Ia mengingatkan, status cagar biosfer bukan sekadar label internasional.
“Label tidak memberi makan masyarakat. Nilai sejati cagar biosfer justru terletak pada kemampuannya menjadi platform pembangunan manusia berbasis lanskap,” ujarnya.
• Gubernur Kalbar Beberkan Hasil Koordinasi dengan PLN Terkait Pemadaman Listrik Massal
Dalam konteks pembangunan nasional era Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gusti menekankan Kalbar tidak boleh dipandang sebagai halaman belakang Indonesia.
Lanjutnya pada tahun yang sama, IPM Indonesia mencapai 75,90*, meningkat dari 75,02*pada tahun sebelumnya.
Artinya, Kalimantan Barat sudah bergerak maju, tetapi masih harus berlari lebih cepat agar tidak tertinggal dari capaian nasional.
"Kalimantan Barat adalah beranda ekologis republik: menyimpan hutan tropis, gambut, mangrove, sungai besar, biodiversitas, pangan, energi, dan karbon masa depan. Namun, di sisi pembangunan manusia, tetapi pekerjaan rumahnya masih nyata. BPS mencatat IPM Kalimantan Barat tahun 2025 mencapai 72,09, naik 0,90 poin atau 1,26 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 71,19." Katanya
“Angka itu patut disyukuri, tetapi belum cukup untuk membuat kita berpuas diri. Setiap angka dalam IPM menyimpan wajah manusia: anak desa yang ingin sekolah lebih lama, ibu yang ingin udara bebas asap, petani hutan yang ingin pendapatan layak, dan pemuda kampung yang ingin bekerja tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya,” jelasnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa peningkatan IPM di bawah kepemimpinan Gubernur H Ria Norsan dan Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan harus diterjemahkan menjadi kerja lintas sektor, wilayah, dan lanskap.
• Sampai Kapan Pemadaman Listrik Bergilir di Kalbar? Ini Estimasi Waktu Perbaikan dari PLN Berikit
Selat Karimata
Perairan strategis yang menghubungkan Laut China Selatan dengan Laut Jawa, berada di Kabupaten Kayong Utara, sekitar 100 km dari Ketapang.
Taman Nasional Gunung Palung
Kawasan konservasi seluas 108.044 hektare, habitat utama Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), dengan ekosistem lengkap dari mangrove hingga hutan pegunungan 1.116 mdpl.
Hutan Lindung Mendawak
Lanskap gambut seluas 500.000 hektare di Kubu Raya, Ketapang, Sanggau, dan Kayong Utara.
Menyimpan cadangan air lebih besar dari Waduk Jatiluhur, sekaligus benteng ekologi Kalbar.
(*)