Festival Gunung Slamet 9 Digelar: Dongkrak Ekonomi Lereng Gunung, Warga Berebut Air Tuk Sikopyah
Rustam Aji July 05, 2026 08:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA – Pemerintah Kabupaten Purbalingga membidik perputaran ekonomi yang lebih besar dalam gelaran Festival Gunung Slamet (FGS) #9 yang berlangsung selama tiga hari, 3-5 Juli 2026. Event tahunan yang dipusatkan di kompleks wisata D'Las Serang, Kecamatan Karangreja ini ditargetkan mampu melampaui rekor tahun lalu yang mencatat 50 ribu pengunjung dengan omzet mencapai Rp3,5 miliar.

Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, menegaskan bahwa FGS bukan sekadar panggung pelestarian budaya ritual adat, melainkan instrumen penting untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat, khususnya bagi para petani sayur yang menjadi mayoritas penduduk di Desa Serang.

"Tahun ini kita berharap jumlah pengunjung lebih banyak sehingga dampak ekonominya semakin besar. Harapannya para petani sayur yang menjadi mayoritas mata pencaharian warga Desa Serang juga semakin sejahtera," ujar Bupati Fahmi saat menghadiri hari kedua Festival Gunung Slamet 2026, Sabtu (4/7/2026).

Pada hari kedua festival tersebut, serangkaian ritual adat digelar, mulai dari prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah, penyatuan air suci, kirab 16 gunungan sayuran, hingga tradisi makan bersama kuliner khas Nasi 3G. Menurut Fahmi, rangkaian acara ini mencerminkan kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur masyarakat lereng gunung.

Baca juga: Hilang Usai Pamit Salat Jumat,Bocah Berkebutuhan Khusus di Brebes Ditemukan Tewas di Saluran Irigasi

Simbol Kelestarian dan Berkah Ekonomi Petani

Rangkaian hari kedua FGS diawali dengan prosesi sakral pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah di Dusun Kaliurip. Tokoh adat mengambil air yang kemudian dituangkan ke dalam 99 lodong bambu dan satu Kendi Pratolo. Air tersebut kemudian diarak oleh pemuda-pemudi berbusana adat menuju lokasi utama wisata D'Las Serang.

FESTIVAL GUNUNG SLAMET - Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, beserta jajaran menghadiri prosesi penyatuan air Tuk Sikopyah pada Festival Gunung Slamet #9 di D'Las Serang, Sabtu (4/7/2026). Tradisi ini melibatkan 99 lodong bambu yang dibawa pemuda setempat sebagai simbol doa dan syukur warga. (Foto: Ist. Pemkab Purbalingga)
FESTIVAL GUNUNG SLAMET - Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, beserta jajaran menghadiri prosesi penyatuan air Tuk Sikopyah pada Festival Gunung Slamet #9 di D'Las Serang, Sabtu (4/7/2026). Tradisi ini melibatkan 99 lodong bambu yang dibawa pemuda setempat sebagai simbol doa dan syukur warga. (Foto: Ist. Pemkab Purbalingga) (Tribun Banyumas)

Tidak hanya air, kirab budaya ini juga dimeriahkan oleh 16 gunungan hasil bumi berupa buah dan sayuran hasil panen masyarakat dari delapan RW di Desa Serang. Kehadiran gunungan ini menjadi lambang syukur sekaligus promosi potensi pertanian lokal yang menjadi motor penggerak ekonomi Purbalingga di sektor agrowisata.

Puncak prosesi budaya ditandai dengan penyatuan air dari puluhan lodong bambu ke dalam satu wadah besar oleh Bupati Fahmi, Wakil Bupati Dimas Prasetyahani, serta sejumlah pejabat kementerian dan provinsi yang hadir. Setelah didoakan oleh sesepuh adat, gong ditabuh dan warga langsung berebut gunungan hasil bumi serta air suci yang diyakini membawa berkah.

Acara kemudian ditutup dengan makan bersama Nasi 3G, kuliner ikonik setempat yang terdiri dari nasi jagung, tumis pepaya (gandul), tempe goreng (gundil), dan ikan asin (gereh).

Baca juga: Sindiran MBG Versi Warga Barutikung Semarang: Lawan Ketimpangan Lahan dan Ancaman Penggusuran

Kaderisasi Budaya dan Hikmah Bencana

Pranata Acara Festival Gunung Slamet #9, Tuwuh Permanajati, menjelaskan bahwa pelibatan aktif generasi muda dalam prosesi ini merupakan langkah strategis agar budaya lokal tetap lestari di tengah modernisasi.

Tuwuh juga membagikan cerita bahwa lokasi mata air Tuk Sikopyah sempat sedikit bergeser akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Namun, fenomena alam tersebut justru membawa berkah tersendiri bagi warga dan kelangsungan festival.

"Ini menjadi hikmah dari bencana alam. Jalur mata airnya tetap sama di bawah Watu Langgar, namun posisinya saat ini justru menjadi lebih mudah dijangkau dan diakses oleh masyarakat," jelas Tuwuh.

Ia menambahkan, filosofi penyatuan air dalam festival ini mengirimkan pesan kuat bagi kemajuan ekonomi Purbalingga. "Sekecil apa pun doa dan ikhtiar masyarakat, ketika dipersatukan akan menjadi kekuatan besar untuk kemajuan bersama," pungkasnya. (jti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.