Rusia 'Kalah', 40.000 Tentara Tewas dalam Sebulan, Laju Serangan di Ukraina Melambat
Ansari Hasyim July 05, 2026 10:03 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Rusia dilaporkan mengalami kerugian besar di medan perang Ukraina sepanjang Juni 2026. Menurut militer Ukraina, hampir 40.000 personel Rusia tewas atau menjadi korban dalam satu bulan, sementara laju perebutan wilayah terus melambat.

Data yang dikutip dari Institute for the Study of War (ISW) menyebutkan Rusia hanya mampu memperluas penguasaan wilayah dengan kecepatan sekitar 1,03 kilometer persegi per hari pada Juni. Angka itu turun drastis dibandingkan rata-rata 16,6 kilometer persegi per hari pada paruh pertama 2025.

ISW menilai perlambatan tersebut menunjukkan semakin beratnya upaya Rusia untuk mencapai target militernya, termasuk merebut seluruh wilayah Donetsk yang masih dikuasai Ukraina.

Bahkan, menurut perhitungan lembaga tersebut, jika laju saat ini terus berlanjut, Rusia membutuhkan sekitar 14 tahun untuk menguasai sisa wilayah Donetsk.

Baca juga: Rusia Hujani Ukraina dengan 500 Drone dan 74 Rudal, Serangan Terbesar Sejak Invasi

Apabila infiltrasi yang belum menghasilkan penguasaan wilayah permanen dikeluarkan dari perhitungan dan keberhasilan serangan balasan Ukraina diperhitungkan, keuntungan bersih Rusia selama enam bulan pertama 2026 hanya sekitar 97 kilometer persegi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan keberhasilan negaranya menahan laju pasukan Rusia merupakan hasil peningkatan produksi drone serta pengembangan rudal jarak jauh buatan dalam negeri.

Hasil serangan drone naga Ukraina membakar parit hutan tempat persembunyian tentara Rusia
Hasil serangan drone naga Ukraina membakar parit hutan tempat persembunyian tentara Rusia (arstechnica)

Menurut Zelenskyy, Ukraina kini menerapkan strategi menyerang jalur logistik Rusia dengan menghantam gudang amunisi, depot bahan bakar, konvoi pasokan, hingga jembatan yang menjadi jalur distribusi utama.

Pada 25 Juni, Zelenskyy juga mengumumkan kampanye serangan jarak menengah dan jauh selama 40 hari terhadap target-target strategis di wilayah Rusia.

ISW mencatat jumlah serangan terhadap fasilitas logistik Rusia meningkat dari 210 serangan pada Mei menjadi 303 serangan sepanjang Juni.

Dalam dua hari, yakni 1–2 Juli, Ukraina juga mengklaim menghancurkan 12 gardu listrik di Crimea sebagai bagian dari upaya melemahkan kemampuan militer Rusia di semenanjung tersebut.

Komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina, Robert "Magyar" Brovdi, menyebut unit drone Ukraina menyerang sasaran Rusia setiap 52 detik selama Juni.

Ia mengklaim lebih dari 50.000 target militer Rusia berhasil dihancurkan atau dirusak sepanjang bulan tersebut.

Korban Rusia Meningkat

Militer Ukraina memperkirakan Rusia mengalami 39.490 korban hanya pada Juni 2026. Jumlah itu disebut jauh melampaui kemampuan perekrutan tentara baru Rusia yang diperkirakan hanya sekitar 24.000 hingga 30.000 personel per bulan.

ISW juga menghitung bahwa pada Juni, Rusia harus kehilangan sekitar 1.298 personel untuk setiap kilometer persegi wilayah yang berhasil direbut. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Zelenskyy menyebut total korban Rusia sejak perang dimulai telah mencapai sekitar 1,4 juta orang, mengutip estimasi yang dipublikasikan Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Rusia Tetap Dorong Negosiasi

Di tengah tekanan di medan perang, Rusia menyatakan tetap terbuka terhadap mediasi Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan proposal yang pernah dibahas bersama Amerika Serikat masih dapat menjadi dasar penyelesaian konflik.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menyatakan Moskow tetap terbuka terhadap proses perdamaian.

Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin mengaku telah menolak beberapa usulan gencatan senjata dari Ukraina. Menurutnya, operasi militer Rusia masih memberikan tekanan besar terhadap Kyiv.

Ekonomi Rusia Ikut Tertekan

Selain menghadapi tantangan di medan perang, Rusia juga menghadapi tekanan ekonomi.

Komisaris Presiden Ukraina untuk Kebijakan Sanksi, Vladyslav Vlasyuk, mengatakan pendapatan minyak Rusia pada Januari–Mei 2026 turun sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan itu dikaitkan dengan serangan Ukraina terhadap terminal minyak dan infrastruktur energi Rusia yang mengganggu proses ekspor.

Sejumlah wilayah Rusia juga dilaporkan mengalami kekurangan bahan bakar sepanjang Juni. Pemerintah Rusia membantah terjadi krisis, namun mengakui sistem distribusi sedang mengalami penyesuaian.

Untuk menjaga pasokan domestik, Rusia memperpanjang larangan ekspor solar dan mulai meningkatkan impor produk minyak olahan dari sejumlah negara, termasuk India.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.