TRIBUNNEWSMAKER.COM – Kasus dugaan penyiksaan terhadap seorang perempuan berinisial MAN yang diduga dilakukan oleh oknum anggota kepolisian di Kota Cirebon, Jawa Barat, terus menjadi sorotan publik.
Di tengah bergulirnya proses hukum, ibu korban, Sri Haryati, mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya sudah lama menyimpan kecurigaan terhadap sosok oknum polisi yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Menurut Sri, sejak awal ia memiliki firasat buruk setiap kali putrinya berhubungan dengan pria tersebut, meski saat itu belum memiliki bukti maupun alasan yang jelas untuk mengungkapkan kekhawatirannya.
Perasaan tidak tenang itu, kata dia, semakin kuat ketika melihat perubahan sikap dan kondisi putrinya dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, Sri mengaku tidak pernah membayangkan bahwa firasat tersebut akan berujung pada dugaan tindak penyiksaan yang kini menyita perhatian masyarakat luas.
Korban disebut mengalami berbagai bentuk kekerasan selama berada dalam penguasaan terduga pelaku, mulai dari kekerasan fisik hingga psikis.
Bahkan, dalam pengakuannya, korban juga menyebut adanya dugaan tindakan lain yang semakin memperberat kasus tersebut dan kini tengah didalami oleh penyidik.
Kesaksian sang ibu pun menjadi salah satu bagian yang turut menyita perhatian karena menggambarkan kegelisahan yang telah dirasakannya jauh sebelum kasus ini mencuat ke publik.
Lantas, seperti apa pengakuan lengkap Sri Haryati mengenai firasat buruk yang disebut telah lama ia rasakan terhadap oknum polisi tersebut?
Baca juga: Respon Ono Surono soal Dugaan Penyiksaan Wanita oleh Oknum Polisi di Cirebon: Polri Harus Transparan
Air mata Sri Haryati tak terbendung saat menceritakan kondisi putrinya, MAN (30), warga Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, yang disebut mengalami trauma berat setelah serangkaian dugaan kekerasan yang kini dilaporkannya ke Bareskrim Polri.
Di kantor kuasa hukum perwakilan Hotman 911 di kawasan Pancuran, Kota Cirebon, Jawa Barat, Jumat (3/7/2026) petang, Sri beberapa kali terisak ketika mengenang perubahan yang dialami putrinya.
Baginya, MAN yang dulu dikenal sehat dan penuh semangat kini berubah menjadi sosok yang kerap diliputi ketakutan dan kesedihan.
"Setimpal hukumannya lah. Lihat anak saya begini ya dia harus rasain juga lah. Seberat-beratnya. Karena anak saya yang tidak bersalah jadi korban dia," ujar Sri, sambil menahan tangis.
Menurut Sri, dirinya tidak pernah membayangkan putrinya akan berada dalam kondisi seperti sekarang.
Sebagai seorang ibu, ia mengaku lebih memilih menanggung rasa sakit fisik daripada harus melihat penderitaan yang dialami anaknya.
"Saya enggak menyangka, Mas. Masa anak saya begini saya enggak mau. Sakit hatinya, Mas. Mending badan ibu dipukuli ketimbang hati. Enggak bisa dijelaskan, sakit pisan," ucapnya.
Sri mengaku sempat memiliki firasat ada sesuatu yang tidak beres dalam hubungan putrinya dengan pria yang kini dilaporkan ke polisi.
Namun saat itu ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ia hanya merasa heran karena pria tersebut disebut sering menghindari pertemuan dengannya ketika berada di Tegal.
"Kalau ke rumah saya tuh enggak sering tatapan muka. Menghindar terus. Kalau saya tidur dia baru pulang, kalau saya bangun dia sudah enggak ada. Jadi kayak siluman," jelas dia.
Kecurigaan Sri semakin bertambah setelah mengetahui putrinya menjalani pernikahan siri tanpa sepengetahuan keluarga.
Menurut dia, tidak ada satu pun anggota keluarga yang hadir dalam proses tersebut.
"Itu enggak ngasih tahu kakak-kakaknya, Mas. Orang lain semua, temannya dia semua. Saya juga kaget," katanya.
Momen yang paling membekas dalam ingatan Sri adalah ketika pertama kali melihat kondisi putrinya setelah mengalami luka serius.
Ia mengaku hampir pingsan saat melihat kondisi MAN.
"Ya Allah, saya tuh enggak tega melihat. Saya udah pengen pingsan. Enggak menyangka. Bajunya nempel ke kulit, Mas. Telanjang, Mas," ujarnya, dengan mata berkaca-kaca.
Menurut Sri, saat itu putrinya justru berusaha menenangkan dirinya yang terus menangis.
"'Mama jangan menangis,' katanya. Ya menangis, anak saya kayak gini masa enggak menangis," ucap Sri.
Trauma yang dialami MAN, kata Sri, bahkan sempat membuat putrinya kehilangan harapan hidup.
Dengan suara bergetar, Sri menceritakan salah satu percakapan yang tidak pernah bisa ia lupakan.
"Dia pernah bilang, 'Mama punya suntikan buat MAN aja? Buat suntikan mati.' Saya bilang, 'Kamu enggak kasihan sama Syafah? Syafah masih ingin sesosok seorang ibu'," jelas dia.
Kini, di tengah proses hukum yang sedang berjalan, Sri berharap putrinya bisa kembali bangkit menjalani hidup.
Ia juga berharap kasus yang dilaporkan dapat diproses secara adil dan memberikan efek jera.
"Saya cuma ingin anak saya semangat lagi. Tapi untuk pelakunya, saya ingin dihukum seberat-beratnya," katanya.
Dalam wawancara dengan media, MAN mengaku mengalami berbagai bentuk kekerasan sejak 2023.
"Kejadiannya ya yang aku alami, aku mengalami penyiksaan, terus sampai penyiraman air keras," ujar MAN.
Ia juga mengaku pernah mengalami pemukulan, intimidasi, hingga ancaman penyebaran video asusila.
Menurut pengakuannya, dugaan penyiraman air keras terjadi pada September 2025.
MAN juga mengaku anaknya yang kini berusia empat tahun ikut menyaksikan sebagian peristiwa yang dialaminya.
"Menyaksikan," kata MAN saat ditanya apakah anaknya melihat langsung kejadian tersebut.
Kasus tersebut kini ditangani Bareskrim Polri setelah laporan dibuat pada 2 Juli 2026.
Selain proses pidana, pemeriksaan etik dan disiplin terhadap Aiptu N juga dilakukan oleh Bidang Propam Polda Jawa Tengah.
Polda Jawa Tengah menyatakan Aiptu N telah ditahan untuk kepentingan pemeriksaan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada putusan pengadilan yang menyatakan Aiptu N bersalah.
Seluruh tuduhan dan pengakuan yang disampaikan korban masih dalam proses penyelidikan dan pembuktian oleh aparat penegak hukum.
(TribunNewsmaker.com/TribunJabar)