Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Kelurahan Bahu, Kecamatan Malalayang merupakan salah satu kampung nelayan di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Terdapat puluhan kepala keluarga yang berprofesi sebagai nelayan.
Para nelayan ini sebagian besar berdomisili di lingkungan 1 Bahu.
Permukiman ini berada di sisi Jalan RW Mongisidi dan berdampingan dengan Sungai Bahu yang bermuara di Teluk Manado.
Lokasinya berjarak sekitar 4 kilometer dari Kantor Wali Kota Manado atau sekitar 10-15 menit perjalanan dengan kendaraan, serta sekitar 5 kilometer dari Bandara Internasional Sam Ratulangi dengan waktu tempuh sekitar 20-25 menit, tergantung kondisi lalu lintas.
Sehari-hari, para nelayan beraktivitas di tambatan perahu yang ada di salah satu sisi Sungai Bahu.
Area ini selalu ramai subuh hingga pagi ketika nelayan turun melaut.
Begitu juga petang hingga hampir tengah malam, saat persiapan melaut.
Ketika cuaca tidak bersahabat, nelayan tidak melaut.
Semua perahu diamankan ke tempat tambatan yang seadanya.
Sejauh ini, tambahan perahu ini satu-satunya pilihan.
Sudah berpuluh tahun para nelayan Bahu menambatkan perahu di area yang sebenarnya ceruk di bantaran sungai.
Kalau diperhatikan, sebenarnya tempat tersebut kurang ideal sebagai tambatan. Pasalnya, perahu dijejalkan di situ.
Berdesakan, tidak teratur.
Ketua Kelompok Nelayan Goropa Bahu, Dantje Paiman mengungkapkan, mereka tak punya pilihan.
"Ya yang ada cuma ini. Kalau mau bikin, anggaran besar," katanya, Minggu 5 Juli 2026 pagi.
Ia baru pulang melaut ketika ditemui. Hasil laut yang diperoleh baru saja diambil pengepul. "Tidak banyak. Cuma (ikan) Deho yang banyak," katanya.
Ia mengungkapkan, mereka sejatinya berharap pemerintah bisa membangun tambatan perahu tepat di sisi muara sungai.
Titik di maksud, tepat di depan Restoran Big Fish.
"Selama ini, kalau barat, semua perahu pacal (tumpuk) di sini. Kalau ada tambatan, lebih aman," katanya. Bahkan, tidak jarang nelayan terpaksa menaikkan perahu ke darat.
Ia juga bilang, tambatan perahu saat ini kurang ideal sebab ketika pulang melaut, perahu nelayan harus berhadapan dengan arus sungai yang bertemu dengan gelombang dari teluk.
Bukan sekali dua perahu nelayan yang rusak.
Paling sering bahateng atau sama-sema (penyeimbang) patah.
Ketika perahu oleng atau terbalik, mesin motor tempel terendam. Kerap, hasil tangkapan hanyut terbawa arus. Nelayan rugi dobel.
Dantje bilang, pihaknya sudah beberapa kali menyampaikan kebutuhan itu ke pemerintah.
Aspirasi pernah disampaikan ke Gubernur Olly Dondokambey beberapa tahun lalu.
Begitu juga ke Wali Kota Manado Andrei Angouw.
"Ya tapi sampai sekarang begini-begini saja," katanya lagi.
Katanya, tambatan perahu yang dibutuhkan standar saja. Panjang ke arah laut 70 meter dan lebarnya 50 meter. Itu nantinya sudah sangat membantu bagi 70-an nelayan Bahu.
"Tidak perlu besar. Itu sudah cukup untuk melindungi perahu ketika musim angin barat," kata pria yang sudah 40 tahun lebih jadi nelayan. (ndo)