Istilah '' atau wajah karbohidrat belakangan ramai diperbincangkan di media sosial China. Tren ini muncul setelah sejumlah kreator konten mengklaim bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan berkarbohidrat seperti nasi, mi, atau roti kukus dapat membuat wajah tampak lebih bengkak, kulit kusam, berjerawat, hingga garis rahang terlihat kurang tegas.
Bahkan, ada pula pengguna media sosial yang mengunggah foto sebelum dan sesudah mengurangi konsumsi karbohidrat. Mereka mengaku bentuk wajah menjadi lebih tirus dan tegas setelah menjalani pola makan rendah karbohidrat.
Akibat tren tersebut, makanan pokok seperti nasi, mi, dan roti kukus mulai dikaitkan dengan penampilan yang dianggap kurang menarik hingga dinilai sebagai tanda kurang disiplin dalam menjaga pola makan.
Lantas, benarkah makan karbohidrat dapat memengaruhi penampilan dan kesehatan?
Dikutip dari , istilah '' merujuk pada anggapan bahwa konsumsi karbohidrat dapat menyebabkan berbagai perubahan pada wajah, seperti wajah sembap, kulit kendur atau kusam, muncul jerawat, hingga garis rahang yang tampak kurang tegas.
Namun, Cui Yongqiang, profesor kedokteran integratif dari , mengatakan tidak ada alasan untuk langsung mengaitkan konsumsi makanan bertepung dengan perubahan penampilan seseorang.
Faktanya, makanan berkarbohidrat merupakan bagian utama dari pola makan sehari-hari masyarakat. Karbohidrat menjadi sumber energi sekaligus menyediakan berbagai nutrisi penting bagi tubuh.
Menurut Zhu Yi, profesor madya di , anggapan bahwa karbohidrat membuat seseorang menjadi kurang menarik atau tidak sehat tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Ia menjelaskan, pola makan seimbang harus mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang sesuai. Tidak ada makanan yang secara alami membuat seseorang menjadi 'jelek'. Yang justru berbahaya adalah pola makan yang tidak seimbang dan kecemasan akibat tren di media sosial.
Diet Rendah Karbohidrat Berlebihan Bisa Berdampak Buruk
Para ahli juga mengingatkan bahwa tren '' berpotensi membahayakan kesehatan fisik maupun mental.
Jika seseorang menghindari karbohidrat dalam jangka panjang demi menurunkan berat badan atau terlihat lebih muda, ia berisiko mengalami kelelahan, mudah marah, suasana hati yang buruk, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius.
Kurangnya asupan karbohidrat dapat menyebabkan tubuh kekurangan energi sehingga mengganggu fungsi organ dan otak. Karena itu, membatasi karbohidrat secara ketat dalam waktu lama bukanlah cara yang aman maupun berkelanjutan untuk menjaga penampilan ataupun kesehatan.
Jangan Jadikan Karbohidrat Musuh
Di sisi lain, para ahli menilai mengaitkan semangkuk nasi atau roti kukus dengan standar kecantikan hanya akan memicu kecemasan di masyarakat.
Mereka menekankan kecantikan tidak memiliki satu standar yang berlaku untuk semua orang. Kesehatan, rasa percaya diri, sikap positif, dan keunikan setiap individu juga merupakan bagian dari kecantikan.
Dengan menerima diri sendiri dan menghargai perbedaan setiap orang, seseorang dapat terhindar dari kecemasan yang tidak perlu akibat tekanan tren di media sosial.
Pilih Karbohidrat yang Lebih Sehat
Meski demikian, ahli juga mengingatkan bahwa pola makan sehat bukan berarti menghilangkan karbohidrat sepenuhnya.
Mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat olahan, seperti nasi putih dan tepung terigu dalam jumlah berlebihan, memang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Sebagai gantinya, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi biji-bijian utuh () seperti oat dan quinoa, kacang-kacangan, serta umbi-umbian seperti ubi jalar dan talas.
Mengombinasikan berbagai sumber karbohidrat tersebut dapat meningkatkan asupan serat sekaligus membantu memperlambat kenaikan kadar gula darah.
Selain itu, menjaga pola makan seimbang, tidur yang cukup, rutin berolahraga, dan memiliki pola pikir yang positif tetap menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan.





