Renungan Harian Katolik Minggu 5 Juli 2026: Menjadi Orang Kecil di Hadapan Allah 
Dion DB Putra July 05, 2026 12:19 PM

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakulktas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Tahun 538 SM setelah kembali dari Pembuangan di Babel, Bangsa Israel berhadapan dengan tantangan untuk membangun kembali bait Allah dan kota-kota mereka yang telah hancur berantakan. Mereka kecewa dan putus asa. 

Maka tampillah Zakharia (520-518) yang mengejar dan memberi semangat pada bangsa Israel. 

Lebih dari itu ia juga menubuatkan kedatangan seorang Raja damai yang datang tanpa simbol-simbol kekuasaan yang megah.  

“Lihat, Rajamu datang kepadamu; Ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai” (Zakharia. 9:9). 

Baca juga: Opini: Menerjemahkan Berjalan Bersama Menjadi Aksi Nyata

Raja ini datang tanpa senjata. Karena Ia datang bukan untuk menaklukkan manusia, melainkan untuk menyelamatkan mereka dengan merebut hati umatNya. 

Gambaran Allah seperti ini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Dan kita bahkan merayakan figur Raja yang lembut hati ini pada perayaan Minggu Palma, di awal Pekan Suci.  

Allah mengambil rupa seorang Raja yang lembut dan rendah hati. Karena Ia ingin dicintai oleh umatNya. Dan hanya mereka yang sanggup menjadi seperti seorang anak kecil yang akan mengenal, menerima dan mencintai-Nya. 

Tapi rupanya tidak banyak orang mengenal rahasia ini. Hanya orang-orang kecil yang mengenalNya.   

Tidak heran dalam Injil, kita mendengar berbagai kisah tentang “orang - orang kecil” yang datang pada Yesus : Pemungut cukai, orang sakit, orang kusta, pelacur orang lumpuh dst. 

Mengapa hanya “orang kecil” yang mampu menerima Yesus sebagai Tuhan? Karena mereka sadar akan kelemahan diri mereka. 

Tidak ada yang perlu disembunyikan pada Yesus. Mereka tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri. 

Mereka sadar bahwa hidup memiliki keterbatasan dan bahwa tanpa Tuhan mereka tidak mampu memikul beban kehidupan. 

Yesus menyadari hal ini. Maka Ia mengucapkan doa yang sangat indah kepada Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa... sebab semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat. 11:25). 

Orang kecil yang dimaksud Yesus adalah mereka yang memiliki hati seorang anak kecil: rendah hati, percaya, terbuka, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah.  

Kepada mereka inilah Yesus mengulurkan tangan pertolongan-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Ini sebuah undangan yang sangat menghibur. 

Tapi dalam ajakan ini, Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa salib, sebaliknya Ia berjanji untuk berjalan bersama kita, memikul beban bersama kita, dan memberikan ketenangan bagi jiwa kita.  

Sebab mereka yang rela berlutut di hadapan Tuhan, akan sanggup berdiri tegar di hadapan semua kesulitan. Sebab, lagi kata-Nya, “Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat. 11:29).

Kita hanya akan sanggup mendekati Tuhan, Raja yang lemah lembut itu jika kita menjadi seperti seorang anak kecil di hadapan-Nya. 

Santo Paulus berbicara dari pengalaman hidupnya dengan mengingatkan bahwa menjadi kecil itu berarti hidup dalam Roh Kristus. 

“Jika memang Roh Allah diam di dalam kamu... barangsiapa tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus” (Rm. 8:9). 

Roh Kuduslah yang mengubah hati kita untuk percaya dan menjadi seperti seorang anak, melepaskan kesombongan, dan menyerahkan hidup kepada Kristus. 

Sebaliknya, bila kita terus hidup menurut keinginan daging, dengan terus  mengandalkan diri sendiri, dan menutup diri terhadap pertolongan Roh Kudus ynag menggerakkan hati kita, maka kita sulit mengalami damai yang ditawarkan Tuhan.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita bukan hanya mengagumi Yesus sebagai Raja yang lemah lembut, tetapi juga datang kepada-Nya dengan hati seorang anak kecil; yang tidak malu meminta pertolongan kepada ayahnya, anak kecil yang memohon hati yang sederhana dan terbuka terhadap karya Roh Kudus agar mampu mengenali Raja yang datang dengan kelembutan dan menemukan kelegaan sejati dalam pelukan kasih Kristus. 

Merenungkan dinamika hubungan kasih Kristus dan manusia yang mencariNya, Luigi Giussani, seorang Imam dan Teolog Katolik mengingatkan: Il vero protagonista della storia è il mendicante: Cristo mendicante del cuore dell'uomo e il cuore dell'uomo mendicante di Cristo. 

Pelaku sejarah (Keselamatan) sesungguhnya adalah pengemis: Kristus mengemis hati manusia dan Manusia yang mendambakan cinta Kristus.   

Sejarah dunia mungkin mengenang para raja, panglima, dan penguasa sebagai tokoh-tokoh besar. 

Namun yang dipandang oleh Tuhan Yesus adalah mereka yang menyadari bahwa dirinya membutuhkan Allah. 

Hanya orang yang datang kepada Kristus sebagai seorang “pengemis rahmat” akan pulang dengan hati yang dipenuhi damai dan sukacita. 

Orang kecil yang dipuji Yesus adalah mereka yang mengetahui satu hal yang paling penting: tanpa Allah mereka tidak memiliki apa-apa, tetapi bersama Allah mereka memperoleh segala-galanya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.