Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari
TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Suasana di Kampung Sanoba, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire di Provinsi Papua Tengah seketika hening.
Di tengah terik matahari, gema doa dan riuh tepuk tangan berbaur dengan isak haru yang tertahan.
Ini menjadi catatan sejarah baru bagi masyarakat Auye saat Bupati Nabire, Mesak Magai, meresmikan Gedung Asrama Anak Auye.
Sebuah bangunan yang bukan sekadar dinding dan atap, melainkan rumah bagi sejuta harapan anak-anak pedalaman yang merindukan masa depan.
Suku Auye selama ini hidup terisolasi oleh bentang alam Papua yang tangguh dan keras.
Hidup berpindah-pindah membuat anak-anak mereka sulit menyentuh bangku sekolah, seperti sebagian besar suku-suku asli tanah Papua pada umumnya.
Namun, keteguhan seorang hamba Tuhan, Pendeta John Bane, yang telah 20 tahun melayani dengan apa adanya, perlahan membuka jalan terjal itu.
Bupati Mesak Magai mengatakan, setelah ia dilantik pada November 2021, langkah pertamanya adalah mencari Pendeta John untuk mendengar langsung potret pilu Suku Auye.
"Kita sudah mengalami dulu betapa susahnya ingin bersekolah, untuk itu sekarang saatnya kita memberikan pendidikan yang layak. Mereka pantas mendapatkan pendidikan yang sama seperti anak-anak saya," kata Mesak kepada awak media, termasuk Trubun-Papua.com, Minggu, (5/7/2026).
Perjuangan bertahun-tahun itu mulai perlahan-lahan berbuah manis.
Dari suku yang tadinya terasing, kini telah lahir dua hingga tiga sarjana, bahkan ada yang sudah menyelesaikan magister (S2).
Untuk menjaga nyala api itu, pemerintah daerah bergerak cepat.
Melalui dinas pendidikan, para sarjana perdana Suku Auye langsung diberdayakan menjadi tenaga kontrak di Kampung Taumi.
Asrama yang mulai dibangun tahun 2025 ini nantinya akan dibina langsung oleh Pendeta Jhon Bane, sosok yang sudah sangat memahami karakter anak-anak Auye.
Tak berhenti di situ, Mesak pun berjanji akan menambah fasilitas bangunan dan mengalokasikan satu unit bus sekolah kecil melalui dana Otsus untuk mengatasi jarak sekolah yang jauh.
Melihat anak-anak Auye yang mulai beradaptasi dengan kehidupan kota dan membaur bersama suku-suku lain di Nabire, secercah optimisme meluap di hati sang bupati.
Bagi Mesak, investasi terbaik sebuah daerah bukanlah pada seberapa megah infrastrukturnya, melainkan pada manusianya.
"Hanya dengan pendidikanlah kita bisa menggapai semuanya. Pendidikan penting bagi setiap anak tanpa terkecuali. Tidak ada yang bisa mengubah nasib seseorang, keluarga, dan kampung halaman, kecuali pendidikan," ujarnya.
Mesak berharap, kiranya mereka yang tinggal di asrama tersebut dapat menjaga dan merawat gedung ini, serta terus meningkatkan semangat belajar untuk menggapai masa depan yang lebih baik.(*)