POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Masyarakat Kabupaten Belitung Timur (Beltim) saat ini sedang dirundung duka.
Satu di antara ulama dan tokoh agama Beltim, Ustadz Kyai Ahmad Mahfudz atau yang dikenal sebagai Ustadz Gobot, berpulang ke rahmatullah.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) sekaligus Pembina Majelis Ulama Indonesia (MUI) Beltim tersebut mengembuskan nafas terakhir pada Sabtu (4/7/2026) sekitar pukul 22.00 WIB di kediamannya yang berada di Lamongan, Jawa Timur.
Berdasarkan informasi yang diterima Posbelitung.co, Ustadz Ahmad meninggal dunia pada usia 45 tahun.
Almarhum berpulang setelah berjuang melawan penyakit diabetes yang dideritanya.
Kepergian ini menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Almarhum pergi dengan meninggalkan seorang istri, Karina Mazroatul Ulya beserta dua orang anak perempuan.
Adapun pihak keluarga menyampaikan bahwa jenazah Ustadz Ahmad akan dikebumikan di tempat pemakaman umum yang berada di Lamongan, Jawa Timur.
Mengingat lokasi pemakaman yang berada di luar pulau, Sekretaris Umum MUI Belitung Timur, Ustadz Rio mengajak seluruh masyarakat dan para pengurus organisasi yang mengenal almarhum untuk mendirikan salat gaib.
"Saya harapkan kepada pengurus MUI yang menjadi sahabat Ustadz Mahfudz dapat melakukan salat gaib sebagai wujud penghargaan kita ke beliau," ujar Ustadz Rio, Minggu (5/7/2026).
Di mata para sahabat dan rekan, almarhum dikenal sebagai orang yang berdedikasi tinggi dan tanpa pamrih dalam mengurus umat.
Ustadz Rio mengatakan, sebelum kondisi kesehatannya menurun, almarhum hampir setiap hari selalu menyempatkan diri untuk hadir dan menghabiskan waktunya di Kantor MUI Belitung Timur yang berada di depan Bank Mandiri Kecamatan Manggar.
Rasa kehilangan juga turut dirasakan oleh Sekretaris MUI Belitung Timur lainnya, Ekocahyo Heppy Sulistio.
Ia membenarkan bahwa dedikasi Ustadz Ahmad di Beltim sangatlah panjang.
"Kita berduka mendalam atas berpulangnya beliau. Almarhum seringkali mewakili MUI dalam berbagai kegiatan kenegaraan maupun pemerintahan daerah," ucap Ustadz Ekocahyo.
Lebih lanjut, Ustadz Ekocahyo menyebut kepergian almarhum membuat Beltim kehilangan satu di antara ulama yang alim dan di satu sisi menguasai literatur keagamaan klasik juga.
"Kita benar-benar kehilangan sosok Kyai yang paham kitab kuning. Keahlian fikih dan keilmuan beliau selama ini menjadi rujukan penting bagi kami," ungkapnya.
Kini, almarhum telah tiada. Kiprah dan ilmu yang pernah diajarkannya akan selalu melekat di hati segenap umat Islam di Kabupaten Belitung Timur.
(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)