TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Ratusan pecinta motor antik dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan Bali memadati Lapangan Tuksongo, Borobudur, Kabupaten Magelang, dalam gelaran Pestaporantique yang menjadi puncak peringatan Coral Jubilee 35 Tahun Magelang Motor Antique Club (MACMAG).
Tak kurang dari 500 motor antik berbagai merek dan tahun produksi turut meramaikan kegiatan tersebut.
Mulai dari motor keluaran tahun 1927 hingga berbagai koleksi langka seperti Bsa, norton, ajs, jawa, zundapp, dkw, dan motor klasik lain Motor eropa, amerika dan jepang dipamerkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan sejarah otomotif sekaligus jejak peninggalan era kolonial yang masih terawat di Magelang.
Ketua Panitia Pestaporantique, Mustamim, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar ajang berkumpul bagi para pecinta motor antik, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah kepada masyarakat.
"Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan bahwa Magelang memiliki banyak peninggalan sejarah, termasuk kendaraan-kendaraan antik yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Karena itu kami memilih Borobudur sebagai lokasi kegiatan agar nilai sejarahnya semakin kuat," ujarnya.
Menurut Mustamim, peserta hadir secara sukarela setelah mengetahui informasi kegiatan melalui media sosial. Mereka datang dari berbagai kota di Jawa, Bali dan Sumatera untuk bersilaturahmi sekaligus bertukar pengalaman mengenai perawatan dan pelestarian motor antik.
Baca juga: Guru RA dan TK di Kulon Progo Didorong Kuasai AI untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran
Beragam kegiatan turut memeriahkan Pestaporantique, mulai dari bazar klithikan, pameran kendaraan klasik, hingga lomba balap motor paling pelan yang menjadi hiburan tersendiri bagi pengunjung. Selain itu, penampilan band-band lokal dari komunitas musik Magelang semakin menambah semarak suasana.
Tak hanya menjadi magnet bagi komunitas otomotif, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Banyak peserta memilih menginap di kawasan Borobudur sehingga tingkat hunian homestay meningkat, sementara pelaku UMKM turut merasakan manfaat dari meningkatnya aktivitas belanja para peserta dan wisatawan.
Mustamim mengungkapkan, Pestaporantique merupakan penyelenggaraan perdana dengan skala besar yang diharapkan dapat menjadi agenda tahunan.
"Kami berharap ke depan kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin sebagai ajang kopdar nasional pecinta motor antik. Semakin banyak peserta yang hadir, tentu akan semakin meriah sekaligus memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat dan pariwisata Magelang," katanya.
Sementara itu, Edi, anggota komunitas MACMAG yang berhasil menjadi juara lomba balap motor antik paling pelan, mengaku senang dapat mengikuti perlombaan yang menguji keseimbangan dan penguasaan kendaraan tersebut.
Ia mengatakan tidak melakukan persiapan khusus sebelum mengikuti lomba karena sejak awal hanya berniat memeriahkan acara. Namun, pengalamannya yang telah lama mengendarai motor antik menjadi modal utama hingga akhirnya berhasil menjadi yang terbaik.
"Tidak ada persiapan khusus. Saya memang sudah menyatu dengan motor yang saya gunakan, jadi lebih mudah mengendalikan saat lomba. Yang terpenting bisa ikut meramaikan acara dan bertemu dengan teman-teman sesama pecinta motor antik," ujarnya.
Melalui Pestaporantique, komunitas motor antik berharap warisan otomotif klasik tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu menjadi daya tarik wisata berbasis sejarah yang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal di kawasan Borobudur dan Kabupaten Magelang. (yrp)