TRIBUNJATENG.COM - Sosok Muhammad Farellevi Al Fasahbari (18) tak pernah menyangka akan mendapat skor Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika tertinggi se-Jawa Tengah.
Pasalnya, Siswa SMAN 1 Klaten itu tidak pernah ikut bimbingan belajar tambahan di luar sekolah.
Namun, anak tunggal dari pasangan Muh Sobari (54) dan Ariyani Cahyawati (38) itu meraih skor 91,03.
Baca juga: APIK Raih Penghargaan Cita Loka Fest Berkat Promosi Wisata Klaten Berbasis Digital
Levi menerapkan sistem belajar mandiri di rumah.
"Tidak nyangka karena TKA juga baru pertama kali (ikut), sangat tidak nyangka. Yang pertama kali ngasih tahu kepala sekolah kamu nilai tertinggi Matematika," kata Levi, Sabtu (4/7/2026) malam.
Levi menyiapkan waktu belajar sekitar dua bulan efektif untuk persiapan ujian TKA Matematika.
"Waktu belajar untuk TKA-nya itu hampir dua bulan kalau efektifnya. Saya belajarnya betul-betul di rumah cuma latihan-latihan soal aja.
Levi tidak bisa belajar mendadak sehari sebelum ujian.
Menurut Levi, dirinya setiap hari bangun pagi-pagi sekitar pukul 03.00 WIB untuk belajar dan istirahat melaksanakan shalat Subuh dilanjutkan belajar lagi hingga pukul 04.30 WIB.
"Saya menerapkan metode belajar konsisten setiap hari. Saya nggak bisa yang begadang belajar dari H-1 sebelum ujian. Jadi saya belajarnya itu setiap pagi bangun jam 3 terus ibadah lalu belajar mungkin sampai jam setengah 5," ungkap dia.
Sementara di sekolah, kata Levi dirinya mengikuti pembelajaran seperti biasa. Justru, Levi banyak menghabiskan waktu belajar untuk persiapan ujian TKA Matematika di rumah.
"Ya udah, belajarnya cuma itu di rumah. Tapi setiap hari gitu. Kalau di sekolah cuma mengikuti pembelajaran. Jadi belajarnya memang setiap hari tapi tidak begitu over," kata dia.
Levi juga mengatakan, memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memecahkan apabila menemukan ada soal latihan yang sulit.
Levi mengatakan, alasannya tidak ikut bimbel karena merasa belum membutuhkan. Terlebih biaya untuk ikut bimbel cukup mahal.
Oleh karena itu, Levi memilih untuk menerapkan sistem belajar mandiri di rumah dengan caranya sandiri.
"Kelas X itu sempat dikasih saran sama kakak kelas kalau kamu belum merasa butuh bimbel ya nggak usah. Karena ketika kita bimbel itu merasa belajar di bimbel dan kita tidak belajar di rumah.
Apalagi di bimbel kita nggak bisa request materi apa. Mungkin nggak cocok di saya. Apalagi kalau bimbel lumayan mahal ya," kata Levi.
Keberhasilannya meraih skor TKA Matematika tertinggi membantu Levi dalam proses Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dari awal masuk SMA, dirinya punya keinginan setelah lulus bisa melanjutkan kuliah di ITB.
"Karena melihat ITB potensialnya besar dan saya condong ke hal yang eksak. Saya memang tertariknya ITB. Tapi belum tahu jurusannya apa waktu awal masuk SMA," ucap dia.
Levi mengungkapkan, bahwa belajar bukan sebuah paksaan. Tapi sebuah kesadaran untuk meraih masa depan yang diinginkan.
"Belajar itu bukan sebuah paksaan gitu. Karena ketika kita mengasumsikan belajar sebuah paksaan itu tidak bisa berkembang.
Apalagi orangtua tidak bisa memantau kita terus menerus. Jadi belajar sebuah kesadaran akan masa depan kita," pesan Levi. (*)
Sumber: kompas.com