TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Proses sistem penerimaan murid baru (SPMB) tahun ajaran baru 2026/2027 masih berlangsung. Di tengah perjalanan itu, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana juga tengah menyoroti atau memantau sekolah yang minim siswa untuk dijadikan bahan evaluasi.
Apalagi tahun 2025, sedikitnya ada tiga sekolah yang sudah diregrouping atau digabung dengan sekolah lainnya karena minimnya penerimaan siswa di Jembrana, Bali.
Menurut data yang berhasil diperoleh, sekolah yang diregrouping adalah SDN 5 Penyaringan. Sekolah ini digabung ke SDN 2 Penyaringan.
Kemudian SDN 3 Penyaringan ke SDN 4 Tegalcangkring, serta SDN 3 Yehembang Kauh ke SDN 1 Yehembang Kauh.
Baca juga: Penutupan SPMB Tingkat SMP Tahun Ajaran 2026/2027: Pendaftaran Tahap 5 Berakhir Hari ini
"Saat ini kami masih menunggu proses pendaftaran siswa yang masih berlangsung," kata Kabid Pembinaan SD, Disdikpora Jembrana, I Nyoman Koriawan saat dikonfirmasi pada Kamis 2 Juli 2026.
Koriawan menyebutkan, ketika seluruh tahapan pendaftaran selesai baru akan mengetahui sekolah mana saja yang kekurangan siswa atau bahkan justru kelebihan siswa.
Tentunya, sekolah yang minim siswa menjadi bahan evaluasi ke depannya. Salah satunya masuk dalam rencana regrouping.
"Salah satu syarat akan dievaluasi adalah minim siswa dalam tiga tahun terakhir. Misalnya SDN 5 Penyaringan yang sudah diregrouping tahun lalu," ungkapnya.
"Di sana, tahun ajaran baru kemarin tak dapat siswa, dan tiga tahun sebelumnya memang minim siswa. Selain itu, tahun lalu juga sudah tidak ada anak usia sekolah di sekitar sekolah tersebut," imbuhnya.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga menyebutkan ada sejumlah sekolah yang masih dalam pantauan atau evaluasi.
Salah satunya adalah SDN 5 Batuagung. Sekolah ini awalnya direncanakan digabung dengan sekolah terdekat lainnya.
Namun baru tahap awal, dan pemerintah sepakat dengan tokoh masyarakat setempat untuk memberikan waktu ke masyarakat untuk melanjutkan proses belajar di sekolah tersebut sementara.
"Kemarin memang sudah sosialisasi awal. Saat itu memang tokoh masyarakat setempat meminta untuk menunda sementara rencana tersebut (penggabungan sekolah)," jelas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra saat dikonfirmasi sebelumnya.
Menurutnya, kesepakatan menunda sudah dibahas dengan tokoh masyarakat setempat.
Sepanjang masyarakat setempat bersedia untuk menjamin kelangsungan pembelajaran tersebut terutama soal jumlah siswa, tentunya rencana regrouping bakal menjadi kajian lanjutan.
"Sepanjang komitmen tokoh masyarakat di desa tersebut sama dengan kita yaitu mencarikan murid untuk sekolah tersebut. Karena memang di beberapa sekolah kita lihat siswanya sekolah di lintas wilayah," ungkap Anom.
Dia menyebutkan, jadi banyak masyarakat misalnya dari Batuagung sekolahnya di Kelurahan Dauhwaru.
Padahal secara potensi atau jumlah siswa di sekitar sekolah yang akan diregrouping tersebut masih ada dan banyak.
Mungkin karena jaraknya sedikit jauh, sehingga mereka memilih yang lebih dekat dengan rumahnya.
"Jadi paling minimal ada di atas 10 orang siswa. Mereka juga bersedia membantu kita, sehingga nanti agar siswanya yang diterima jumlahnya minimal sekali. Jika sama sekali tidak ada siswa di tahun ajaran baru akan menjadi pertimbangan," imbuhnya.
Meskipun begitu, kata dia, pihaknya tetap melakukan evaluasi menyeluruh, minimal selama tiga tahun berturut, terkait penyebab keterisian siswa terus menurun. Itu apakah karena memang potensi atau jumlah siswa yang memang sedikit bahkan tidak ada, ataukah siswa sekitar yang cenderung sekolah ke luar wilayah atau bahkan ke sekolah swasta.
"Intinya kita pelajari juga (penyebab). Tapi hasil komunikasi kemarin, tokoh masyarakat sudah disepakati untuk diberikan waktu dulu (sebelum diregrouping)," tandasnya.