Pasangan Seniman di Yogyakarta Bikin Instalasi Seni Hasil Elaborasi Bangunan Hotel Dampak Gempa 2006
Yoseph Hary W July 05, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pasangan seniman Yogyakarta, Putud Utama dan Rara Kuastra, mengelaborasikan historis sebuah rumah menjadi karya instalasi seni yang menakjubkan.

Sembilan karyanya kini dipamerkan di Hotel Paku Mas berkat kolaborasi dengan wadah seni kolektif TEMPA.

Salah satu karyanya berupa lukisan kontemporer bernuansa nature terlihat. Beberapa dedauanan terlihat segar dengan paduan warna yang menyala.

Karya tersebut merupakan bentuk elaborasi dari kenangan Putud dan Rara dalam sebuah rumah yang pernah terekam di ingatan.

Mereka memulai pameran itu dengan tajuk Jejak Rumah dan Memori.

“Kami menggambar satu per satu elemen, kemudian disusun menjadi rangkaian yang dapat menceritakan sesuatu. Benang merahnya adalah tentang rumah, ruang personal, dan bagaimana kami memandang rumah dalam berbagai persepsi,” kata Putud, seusai opening pameran, Jumat (3/7/2026).

Pameran ini merupakan awal dari sebuah perwujudan karya yang akan ditampilkan oleh kedua pasangan suami istri ini.

Jejak historis bangunan terdampak gempa

Mereka akan menampilkan karya seni berdasarkan jejak historis salah satu sudut bangunan Hotel Paku Mas ketika terkena gempa bumi 2006.

Bangunan itu tetap dibiarkan oleh pemilik hotel sebab menyimpan nilai historis yang penting hingga saat ini.

Dua seniman ini akan menyelami nilai-nilai historis tersebut dan memuwujudkannya melalui sebuah karya instalasi seni.

“Kami akan merespons bagian depan hotel yang sebenarnya memiliki satu bekas set atau jejak bangunan dari tahun 2006 yang terkena gempa. Bagi kami berdua, hal itu menarik untuk direspons karena sejalan dengan proses berkarya kami yang membahas sejarah personal, sejarah kecil, dan ruang-ruang keseharian,” ungkap Putud.

Putud meyampaikan karya tentang historis gempa 2006 ini akan dirilis sekitar dua bulan medatang.

Sementara Rara menambahkan, melalui pendekatan visual pop surrealism, TEMPA menghadirkan karya-karya yang terasa akrab sekaligus menyimpan lapisan makna yang dalam.

"Pengunjung diajak berhenti sejenak untuk mengingat kembali hubungan mereka dengan rumah, dengan masa lalu, dan dengan ruang-ruang yang pernah memberi mereka rasa aman," paparnya.

Di tengah Yogyakarta yang setiap pertengahan tahun berubah menjadi panggung besar seni melalui berbagai agenda pameran dan festival, kolaborasi ini menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Hotel tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat singgah. Ia berubah menjadi ruang budaya, tempat perjumpaan, dan tempat memori dirawat bersama.

Sebab, pada akhirnya, rumah memang tidak selalu berdinding. Kadang ia hadir dalam sebuah hotel yang mengingat nama tamunya.

Kadang ia tinggal dalam retakan bangunan yang memilih untuk tidak melupakan sejarahnya.

"Dan kadang, rumah hadir dalam sebuah karya seni yang membuat seseorang berhenti sejenak dan merasakannya," ujarnya.

Terasa di rumah sendiri

Menariknya, gagasan tentang rumah itu ternyata memiliki irisan yang kuat dengan identitas Paku Mas Hotel. 

Selama bertahun-tahun, hotel yang kini menjadi Official Partner ArtJog 2026 ini mengaku mendapatkan kesan yang hampir seragam dari para tamunya, yakni suasana yang terasa seperti rumah sendiri ketika berada di Yogyakarta.

Karena pengalaman itulah, sejak 2015 hotel tersebut menggunakan tagline "Rumah Anda di Jogja."

"Kami banyak mendapatkan cerita dari tamu-tamu yang kembali lagi karena suasananya seperti rumah," ungkap owner Paku Mas Hotel, Leobert Sundriyo.

Kesamaan cara pandang itulah yang kemudian melahirkan kolaborasi antara ruang perhotelan dan seni rupa, termasuk dalam pengembangan proyek instalasi bekas gempa 2006 di hotel tersebut.

“Kami ingin mengingat peristiwa gempa di Jogja itu melalui instalasi di lobi yang tengah dirancang TEMPA," terang Leobert. (hda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.