TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Krisis air bersih akibat kekeringan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai meningkat.
Hingga akhir Juni 2026, tercatat tiga kabupaten/kota telah resmi menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan.
Sementara Pemerintah Provinsi NTB saat ini tengah dalam proses penetapan status serupa guna mempercepat penanganan di tingkat wilayah.
Data hasil monitoring BPBD NTB per 30 Juni 2026 menunjukkan dampak kekeringan telah menyentuh 24 kecamatan dan 57 desa di seluruh NTB.
Baca juga: Prakiraan Cuaca NTB Senin 6 Juli 2026: Suhu Dingin di Pagi Hari, Siang Panas Terik
Sebanyak 42.639 jiwa dari 13.908 Kepala Keluarga (KK) dilaporkan mulai terdampak krisis air.
Sebagai langkah mitigasi darurat, sebanyak 41 tangki air bersih telah didistribusikan ke titik-titik terdampak untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Kondisi ini diperparah rendahnya intensitas curah hujan sepanjang dasarian II Juni 2026, yang secara umum berada pada kategori rendah (0–50 mm/dasarian).
Meski sempat terjadi hujan dengan intensitas 127 mm di Pemenang Timur, secara umum wilayah NTB mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi yang mengkhawatirkan.
Kabupaten Bima mencatatkan HTH terpanjang, tepatnya di Stasiun Meteorologi M. Salahuddin, yang mencapai 35 hari berturut-turut tanpa hujan.
Durasi ini masuk dalam kategori "Sangat Panjang" (31–60 hari), yang memperkuat sinyal ancaman kekeringan meteorologis di wilayah timur tersebut.
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis pada Level Waspada untuk sejumlah wilayah berikut:
Kondisi udara yang kering dan panas ini berpotensi mempercepat penguapan sumber air permukaan dan memperburuk dampak kekeringan yang sedang terjadi.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menjaga kesehatan di tengah cuaca ekstrem, serta bijak dalam penggunaan air bersih.
Pantauan berkala melalui informasi resmi BMKG dan BPBD sangat disarankan guna mengantisipasi kerugian lebih lanjut dalam perencanaan kegiatan masyarakat ke depan.
(*)