Proyek Saluran Besar Dimulai, Pemkot Surabaya Target Hilangkan 120 Titik Genangan di 2026
Wiwit Purwanto July 05, 2026 08:05 PM

 

SURYA.CO.ID SURABAYA – Memasuki pertengahan 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggeber pembangunan proyek pengendalian banjir di sejumlah titik secara bersamaan. Pengerjaan saluran drainase berskala besar itu mulai berdampak pada aktivitas masyarakat.

Di sejumlah ruas jalan, proyek menyebabkan kemacetan akibat penyempitan badan jalan. Risiko kecelakaan juga meningkat dan bahkan sempat menelan korban jiwa.

Selain itu, hujan deras yang mengguyur Surabaya selama lebih dari tiga jam pada akhir Juni lalu memicu banjir di sejumlah kawasan. Kondisi tersebut diperparah oleh beberapa saluran yang masih ditutup sementara selama proses pembangunan.

Meski demikian, Pemkot Surabaya memastikan dampak tersebut hanya bersifat sementara. Ditargetkan selesai sebelum puncak musim penghujan datang akhir tahun, pembangunan saluran tetap dikebut sebagai bagian dari upaya mengatasi persoalan banjir yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.

Program Prioritas Pemkot Untuk Mengurangi Titik Genangan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan pembangunan saluran tahun ini menjadi salah satu program prioritas Pemkot untuk mengurangi titik genangan. Menurutnya, proyek tersebut merupakan bagian dari penanganan banjir yang dilakukan secara bertahap dan saling terintegrasi di berbagai wilayah.

Baca juga: DPRD Surabaya Bongkar Celah Proyek Gorong-Gorong Maut, Pengamanan Wajib Setiap Meter

"Proyek ini sudah mulai dilakukan. Bahkan ada yang sudah berjalan satu bulan, ada yang dua bulan, ada juga yang tiga bulan. Lama pengerjaannya berbeda-beda tergantung panjang saluran, metode pekerjaan, serta lokasi yang dikerjakan. Semua disesuaikan dengan perencanaan dan dokumen pelaksanaan masing-masing proyek," ujarnya.

Berdasarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Surabaya 2026, pos anggaran pengendalian genangan mencapai sekitar 1,1 triliun. Angka ini setara 8 persen dari total belanja APBD Surabaya yang mencapai Rp12,73 triliun tahun depan.

Dari daftar proyek fisik terbesar dalam RUP 2026 terlihat anggaran pembangunan drainase diwujudkan melalui proyek saluran, rumah pompa termasuk pengadaan pompa, hingga bozem.

Sementara dalam APBD 2026, seluruh belanja sektor drainase mencapai sekitar Rp1,1 triliun, yang tidak hanya mencakup pembangunan baru, tetapi juga rehabilitasi, operasi dan pemeliharaan, drainase lingkungan, serta pembinaan teknis.

Anggaran pengendalian genangan tersebut meningkat sekitar 22 persen, dari sekitar Rp900 miliar pada 2025 menjadi sekitar Rp1,1 triliun pada 2026. Kenaikan cukup signifikan pada sub anggaran pembangunan sistem drainase yang meningkat 103 persen (Rp379 miliar menjadi Rp770 miliar pada 2026).

Seluruh Proyek Saling Terhubung Untuk Memperbaiki Sistem Drainase Kota

Dinas Sumber Daya Air Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya telah memiliki sejumlah rencana pengerjaan proyek pengentasan genangan di beberapa wilayah. Hal ini menyangkut dengan membuat saluran baru, saluran penyimpanan, rumah pompa, hingga bozem.

Wali Kota Eri menegaskan pembangunan tidak hanya difokuskan di satu kawasan. Seluruh proyek saling terhubung untuk memperbaiki sistem drainase kota.

"Yang besar ada, tapi yang lainnya juga banyak. Jadi tidak hanya di satu wilayah saja," kata mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya tersebut.

Berdasarkan data Pemkot Surabaya, terdapat belasan proyek drainase prioritas yang mulai dikerjakan tahun ini. Sebagian di antaranya bahkan telah mencapai progres sekitar 30 hingga 35 persen pada semester pertama 2026.

"Rata-rata sudah berjalan. Terutama yang berada di kawasan Jemur hingga Trenggilis," kata Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, saat dikonfirmasi terpisah.

Adi menjelaskan, tidak seluruh proyek memiliki durasi pengerjaan yang sama. Empat di antaranya merupakan proyek multiyears yang ditargetkan rampung pada 2027.

Proyek tersebut meliputi pembangunan saluran Diversi Jalan Raya Pakal senilai Rp190 miliar, pembangunan saluran Avoor Wonorejo senilai Rp75,9 miliar, serta pekerjaan di kawasan Banyu Urip dan Penjaringan Sari. 

Seluruhnya memiliki durasi kontrak sekitar 14 hingga 15 bulan karena skala pekerjaannya lebih besar dibandingkan paket lainnya.

Sementara itu, 14 proyek lainnya ditargetkan selesai pada tahun ini sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat. Secara keseluruhan, Pemkot mengalokasikan anggaran sekitar Rp718,1 miliar untuk 18 paket pembangunan saluran tersebut.

Percepatan pembangunan drainase ini menjadi bagian dari target penanganan genangan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

"Kalau seluruh pengerjaan ini selesai, termasuk yang selesai pada 2027, target kami tahun 2026 bisa mengurangi sekitar 120 titik genangan," ujar Adi.

Ia menjelaskan, pada 2020 Surabaya masih memiliki sekitar 1.015 titik genangan. Hingga 2025, Pemkot telah berhasil menangani lebih dari 440 titik melalui pembangunan saluran, rumah pompa, bozem, serta berbagai infrastruktur pengendali banjir lainnya.

Dengan tambahan target pengurangan 120 titik pada tahun ini, jumlah titik genangan yang berhasil ditangani diperkirakan mencapai sekitar 560 titik atau lebih dari separuh total titik genangan yang pernah terdata.

"Kami harapkan pada 2028 seluruh 1.015 titik genangan yang pernah terdata sudah bisa tertangani," jelasnya.

Di sisi lain, Adi mengakui pembangunan saluran berskala besar memang menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat. Penyempitan badan jalan selama proyek berlangsung berpotensi memicu kemacetan sehingga pihaknya terus berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengatur rekayasa lalu lintas.

"Kami memahami ada dampak berupa kemacetan selama pekerjaan berlangsung. Itu menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari, tetapi kami akan terus berupaya meminimalkan gangguan terhadap masyarakat," katanya.

Ia menambahkan, saluran yang masih dalam proses pembangunan juga dapat menghambat aliran air sementara saat hujan turun sehingga memicu genangan di beberapa lokasi. Karena itu, kontraktor diminta menjaga kelancaran aliran air selama proses konstruksi berlangsung.

Adi juga mengingatkan bahwa keberhasilan pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur.

Partisipasi masyarakat tetap dibutuhkan, terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air.

"Penyebab banjir bukan hanya karena curah hujan yang tinggi. Kalau saluran tersumbat sampah, aliran air juga akan terhambat dan akhirnya memicu genangan. Karena itu kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga saluran agar tetap bersih," tegasnya. 

Beberapa Pengerjaan Proyek Drainase di Surabaya Tahun 2026 (sebagian hingga 2027)

  • Diversi Jl. Raya Pakal – Rp190,0 miliar
  • Avoor Wonorejo – Rp75,9 miliar
  • Avoor Jemursari–Sarono Jiwo – Rp45,3 miliar
  • Jl. Margorejo – Rp23,0 miliar
  • Jl. Babatan Unesa – Rp22,4 miliar
  • Jl. Tanjungsari – Rp21,4 miliar
  • Jl. Simo Mulyo – Rp17,3 miliar
  • Jl. Tenggumung Wetan–Kedung Mangu – Rp16,9 miliar
  • Banyu Urip – Rp16,9 miliar
  • Jl. Kendangsari Raya–Tenggilis – Rp14,9 miliar
  • Darmo Satelit Utara – Rp13,6 miliar
  • Ketintang Madya–Boezem Ketintang – Rp12,9 miliar
  • Jl. Moestopo – Rp10,7 miliar
  • Saluran Injoko – Rp9,9 miliar
  • Rungkut Menanggal Harapan – Rp8,0 miliar
  • Jl. Tambak Mayor – Rp7,0 miliar

JUMLAH: Rp506,1 miliar

 

Proyek Rumah Pompa & Penambahan Pompa

  • Rumah Pompa dan Saluran Nginden Bethany – Rp66,8 miliar
  • Rumah Pompa Wonorejo 2 Baru – Rp65,2 miliar
  • Rumah Pompa dan Saluran Panjang Jiwo – Rp39,7 miliar
  • Rumah Pompa Booster dan Saluran Kebonagung–Jemur Andayani – Rp26,6 miliar
  • Rumah Pompa Teluk Bayur–Teluk Betung – Rp13,0 miliar
  • Rumah Pompa Boezem Tanjungsari – Rp13,0 miliar
  • Rumah Pompa Margomulyo – Rp10,4 miliar
  • Kelengkapan Rumah Pompa Dharmahusada – Rp9,5 miliar
  • Rumah Pompa Tambak Mayor – Rp8,8 miliar
  • Rumah Pompa Tambak Segaran – Rp7,7 miliar

JUMLAH: Rp260,7 miliar

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.