Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda terus berfluktuasi.
Saat ini Gunung Anak Krakatau juga masih berstatus Level III (Siaga).
Andi Suardi, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, mengatakan, dalam pantauan terbaru, Minggu (5/7/2026), terlihat kecenderungan penurunan aktivitas erupsi dan kegempaan.
Namun, pihaknya belum dapat memastikan apakah aktivitas vulkanik akan terus menurun.
"Erupsi dan gempa sudah mulai menurun meskipun belum bisa dipastikan aman. Aktivitasnya masih fluktuatif. Kami masih melihat perkembangan ke depan apakah akan naik lagi atau turun. Yang jelas, sejak pagi hingga siang ini ada kecenderungan menurun dan mudah-mudahan tren itu terus berlanjut," kata Andi, Minggu.
Meski demikian, Andi memastikan kondisi di kawasan pesisir sekitar Gunung Anak Krakatau masih aman dan masyarakat tetap dapat beraktivitas seperti biasa.
Menurutnya, hingga saat ini tidak ada fenomena mencurigakan yang terlihat secara visual maupun adanya pengungsian warga akibat aktivitas gunung api tersebut.
"Kalau secara visual di kawasan pesisir aman, tidak ada hal-hal yang aneh. Masyarakat di sekitar pesisir silakan beraktivitas seperti biasa. Yang kami larang hanya mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," jelas dia lagi.
Ia menambahkan, petugas di Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau juga tetap menjalankan pemantauan secara normal.
Andi mengatakan, larangan memasuki radius 3 kilometer terutama ditujukan untuk menghindari risiko terhadap nelayan maupun wisatawan yang beraktivitas di sekitar gunung.
"Kadang ada nelayan mencari ikan di sekitar situ, kami halau. Begitu juga kalau ada wisatawan. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," katanya.
Ia juga menjelaskan, laporan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau diperbarui secara berkala setiap enam jam oleh Pos Pengamatan dan dapat diakses melalui sistem informasi resmi PVMBG.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, erupsi terjadi pada Sabtu (4/7) pukul 20.52 WIB. Tinggi kolom abu tidak teramati, namun erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi sekitar 25 detik.
Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga). PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Diminta Waspada
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Bakauheni menerbitkan pengumuman kewaspadaan bagi seluruh aktivitas pelayaran di perairan Selat Sunda setelah status aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) meningkat menjadi Level III (Siaga).
Dalam pengumuman tertanggal 4 Juli 2026 tersebut, semua kapal yang melintas di Selat Sunda diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi letusan gunung api, mulai dari lontaran material vulkanik, hujan abu, hingga gangguan terhadap keselamatan navigasi.
Tak hanya itu, KSOP menegaskan, semua kapal dilarang mendekati kawasan dalam radius lima kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau selama status Level III masih diberlakukan sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Meski menerbitkan imbauan kewaspadaan, Kepala KSOP Kelas IV Bakauheni Suratno memastikan operasional penyeberangan lintas Bakauheni-Merak hingga Sabtu (5/7/2026) masih berlangsung aman dan lancar.
"Untuk saat ini jalur Bakauheni masih aman. Aktivitas pelayaran penyeberangan masih berjalan normal," kata Suratno, Minggu (5/7/2026).
Menurut dia, hingga siang hari ini, 28 kapal masih melayani penyeberangan melalui tujuh dermaga yang beroperasi di Pelabuhan Bakauheni. "Sampai siang ini pergerakan kapal masih normal dengan 28 kapal dan tujuh dermaga yang beroperasi," ujarnya.
Suratno mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Selain melakukan pemantauan melalui wilayah kerja KSOP di Pulau Sebesi, pihaknya mengacu pada informasi resmi dari Kementerian ESDM melalui PVMBG yang memiliki peralatan pemantauan aktivitas vulkanik.
"Kami juga mengikuti informasi resmi dari Kementerian ESDM sebagai dasar dalam memantau kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau," katanya.
Meski kondisi pelayaran masih kondusif, seluruh operator kapal dan nakhoda diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan serta selalu mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah.
Dalam pengumuman resminya, KSOP juga meminta kapal nelayan tradisional maupun kapal wisata yang beroperasi di wilayah Lampung Selatan, terutama di sekitar Kepulauan Sebesi, Sebuku, dan kawasan sekitarnya, agar meningkatkan kewaspadaan serta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau demi keselamatan pelayaran.
Selain memperhatikan kondisi cuaca dan arah penyebaran abu vulkanik, setiap nakhoda diwajibkan memantau informasi terbaru dari PVMBG, BMKG, maupun instansi terkait.
Apabila ditemukan indikasi bahaya yang berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran, nakhoda diminta segera melakukan manuver penghindaran dan melaporkannya kepada vessel traffic service (VTS), Stasiun Radio Pantai, atau Syahbandar terdekat.
Peningkatan status Gunung Anak Krakatau menjadi Level III (Siaga) menandakan aktivitas vulkanik mengalami peningkatan sehingga potensi erupsi masih dapat terjadi.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)