INFLASI Bali Naik Terpengaruh Hari Besar Keagamaan & Penyesuaian BBM, Simak Data Lengkapnya!
Anak Agung Seri Kusniarti July 05, 2026 10:03 PM

TRIBUN-BALI.COM - Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 Juli 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,71 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan Mei sebesar 0,42 persen (mtm).

Inflasi bulanan Provinsi Bali, dipengaruhi oleh permintaan barang/jasa akibat perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) non subsidi.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,99 persen (yoy) pada Mei 2026 menjadi 3,27 persen (yoy), masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen serta berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen.

 

Baca juga: BURU Rumah Subsidi & Komersil di Living World Mall, BRI REI Bali Expo 4-12 Juli 2026, Banyak Promo!

Baca juga: THE Greatest Showcase Satukan Mermaid dari 7 Negara di Bali

  

Secara spasial, 4 (empat) kabupaten/kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,92 persen (mtm) atau 3,43 persen (yoy).

Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,75 persen (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,46 persen (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,69 persen (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,80 persen (yoy).

Dan selanjutnya Kabupaten Buleleng, yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,46 persen (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,26 persen (yoy).

Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Juni 2026 bersumber dari kenaikan harga bensin, bawang merah, bawang putih, wortel, dan buncis. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, sawi hijau, cabai rawit, angkutan udara, dan telur ayam ras. 

Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1 persen.

Ke depan, beberapa resiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino moderat yang memengaruhi produksi pertanian, serta potensi peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor. 

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Adapun langkah-langkah implementasinya di antaranya melalui intensifikasi operasi pasar murah, pemantauan harga secara berkala, monitoring serta sidak distribusi LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antar daerah melalui Perumda Pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 persen±1 persen. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.