Pupuk Subsidi Lebih Murah, tetapi Petani Kepahiang Mengaku Masih Harus Berebut Stok di Kios
Ricky Jenihansen July 05, 2026 09:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Petani di Desa Pematang Donok, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang, mengaku terbantu dengan turunnya harga pupuk subsidi pada tahun 2026.

Namun, di sisi lain, mereka masih menghadapi kendala terkait ketersediaan dan jadwal penyaluran pupuk yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan musim tanam.

Harga Pupuk Turun, Kuota Sesuai Usulan

Ketua salah satu Kelompok Tani (Poktan) di Desa Pematang Donok, Hengki Pratama (28), mengatakan kelompok tani yang dibinanya beranggotakan sekitar 15 petani dengan komoditas yang beragam, mulai dari kopi, palawija, padi, hingga cabai.

"Kelompok tani di sini lebih dari tiga, sementara yang berada di bawah naungan saya sekitar 15 orang petani di Desa Pematang Donok yang terdiri dari petani kopi, palawija, padi dan cabai," ujar Hengki.

Menurutnya, alokasi pupuk subsidi yang diterima kelompok tani pada tahun ini berjalan lancar dan sesuai dengan usulan dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Ia menyebut kuota pupuk subsidi tahun ini mencapai sekitar 1,9 ton.

Jumlah tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya karena pada tahun lalu masih terdapat sisa pupuk yang belum terserap.

"Kalau untuk pupuk subsidi lancar sesuai dengan usulan tahun ini 2 ton kurang sedikit, dan usulan tahun ini lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya karena tahun kemarin ada sisa berlebih," katanya.

Selain itu, petani juga merasakan manfaat dari turunnya harga pupuk subsidi.

Untuk pupuk NPK, misalnya, harga yang sebelumnya mencapai Rp145 ribu per karung ukuran 50 kilogram kini turun menjadi Rp92 ribu.

"Alhamdulillah untuk harga pupuk subsidi menurun dari tahun sebelumnya. Untuk NPK dari Rp145 ribu menjadi Rp92.000 per karung 50 kilogram," ungkap Hengki.

Petani Keluhkan Jadwal Penyaluran dan Ketersediaan Stok

Meski demikian, Hengki mengaku masih ada persoalan yang kerap dihadapi petani, yakni jadwal penyaluran pupuk yang terkadang tidak bertepatan dengan waktu tanam.

Menurutnya, sistem distribusi pupuk subsidi dilakukan melalui kios yang melayani banyak kelompok tani.

Dalam praktiknya, petani yang lebih dahulu datang berpeluang mendapatkan pupuk lebih cepat, sedangkan yang terlambat harus menunggu pasokan berikutnya.

"Cuma memang ada kendala jadwal penyaluran yang kadang belum sesuai dengan waktu penanaman. Sistem penyalurannya biasanya satu tahun tiga kali dan petani yang datang mengambil ke kios yang menaungi banyak kelompok tani, jadi siapa cepat dia dapat," jelas Hengki.

Ia menjelaskan, pihak kelompok tani juga tidak mengetahui secara pasti kapan pupuk akan kembali tersedia di kios.

Informasi biasanya baru diterima setelah pihak kios mendapatkan pasokan.

"Untuk jadwal pasti pupuk masuk kami kurang paham. Kami dihubungi pihak kios saat pupuk sudah masuk dan jumlah pupuk yang masuk per tahunnya sesuai dengan usulan RDKK kami," jelasnya.

Dari total alokasi yang diusulkan, kelompok tani yang dipimpinnya sejauh ini telah menebus sekitar 500 kilogram pupuk subsidi.

"Pupuk yang sudah kami tebus sekitar 500 kilogram dari usulan dan masih ada petani kami yang membutuhkan dan mencari pupuk namun sudah habis di kios, terutama petani padi yang jadwal tanamnya setahun bisa tiga kali," katanya.

Hengki berharap ke depan distribusi pupuk subsidi dapat dilakukan lebih terjadwal dan ketersediaannya tetap terjaga saat dibutuhkan petani.

"Harapannya kalau bisa pupuk selalu tersedia saat para petani membutuhkan dan kita tahu jadwal masuknya agar dapat menyesuaikan jadwal tanam," harap Hengki.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.