TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO- Ku terima pesan Whatsapp pagi tadi.
“Assww. Selamat Siang Pak Akbar. Saya, Ronald Ngantung.
Anda masih ingat di harian Pedoman Rakyat Makassar? Apa kabar Anda?
Baca juga: Nelayan di Bahu Manado Butuh Tambatan Baru, Perahu Selalu Menumpuk
Semoga sehat, kuat dan terus sukses. Selamat bekerja Pak Akbar Faisal."
Pak Ronald kristen taat. Terakhir kami bertemu kembali sekitar 7 tahun lalu.
Di Makassar.
Pak Ronald kembali lagi ke Makassar setelah pensiun dari dunia pers khususnya dari Koran Sinar Harapan yang lalu berubah nama dan manajemen menjadi Suara Pembaruan.
Pak Ronald Ngantung orang Manado.
Tapi bertumbuh kembang di Makassar.
Saya mengenal beberapa tokoh nasional yang lebih bangga menyebut diri orang Makassar ketimbang suku aslinya.
Saya mengobrol dalam bahasa Makassar dengan Jenderal George Toisutta (alm) yang mantan Kasad TNI AD.
George orang Ambon yang tumbuh besar di Makassar.
Jenderal Pol Gories Mere yang melegenda namanya dalam penanganan terorisme sering menceritakan kisahnya yang hampir jadi pastor sesuai rencananya usai menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMA Rajawali Makassar.
Dan masih banyak nama lain lagi.
Tak yakin dengan masa depan di Makassar, saya memutuskan ke Jakarta usai lulus kuliah.
Dua rencana. Jadi seniman di Taman Ismail Marzuki (TIM), atau, meneruskan menjadi wartawan.
Setahun lebih menjadi wartawan di Harian Pedoman Rakyat, terbesar di Indonesia timur.
Bergaji Rp 300 ribu per bulan, kusimpulkan itu bukan awal masa depan yang menjanjikan.
Era 70an hingga awal tahun 2000an, ada tiga koran besar setelah masa kejayaan koran-koran awal revolusi berakhir.
Kompas, Surabaya Post dan Pedoman Rakyat.
Tiga pemilik koran ini saling menghormati dan mendukung satu sama lain.
Pak Jacob Utama (Kompas), Ibu Toety Azis (Surabaya Post) dan Pak L.E Manuhua (Pedoman Rakyat).
Surabaya Post akhirnya musnah di hadapan Jawa Pos, dan, Pedoman Rakyat mati oleh Harian Fajar yang saat itu merupakan bagian dan imperium koran Jawa pos. Kompas susah payah bertahan kini.
Beruntung mereka punya Tribun News Group yang makin kuat dalam media digital.
Tentang kedekatan ketiga pemilik koran legenda itu ada cerita.
Ibu Toety Azis dengan nada mendesak memberi Pak LE Manuhua sejumlah uang yang sebenarnya tak dibutuhkan lelaki berpostur tinggi asal Ambon ini.
Tapi Toety Azis yang memang kaya raya dari koran miliknya tak ingin ditolak.
Begitulah kedekatan mereka.
Kudengar hal sama juga dilakukan Ibu Toety kepada Javob Utama.
Padahal Kompas lebih besar dan tentu saja lebih kaya dari Surabaya Post.
Berbekal selembar surat dari Dahlan Abubakar, wartawan senior Pedoman Rakyat tempatku menerima gaji pertama sebagai jurnalis, Saya ke Jakarta.
Tujuan awal mencari Pak Ronald Ngantung.
Harus ada tempat tinggal sementara atau harus menggelandang di Jakarta.
Setidaknya ada tempat untuk tidur dan menyimpan tas barang saya.
Selembar sarung, 3 potong celana, 5 baju dan selembar jaket berikut fotocopy ijazah.
Beberapa kali saya harus was-was saat banjir di kali yang tak jauh dari rumah Pak Ronald.
Sejujurnya saya tak terlalu kenal dengan Pak Ronald kala itu.
Beliau sudah meninggalkan Makassar dan Pedoman Rakyat saat saya masuk koran Pedoman Rakyat.
Ketemu. Beliau sekaligus memberi tumpangan di rumahnya di tepi Kali di Cawang Bawah.
Keluarga Pak Ronald penuh keceriaan. Heboh, tepatnya.
Anaknya kalau gak salah 6 atau 7 orang.
Semua perempuan. Anda bisa membayangkannya. Ibu Ronald sangat hangat.
Masakan Manado menjadi menu keluarga.
Saya tentu saja juga ikut menikmatinya. Gratis.
Dan, saya lalu berjalan kemana-mana hingga masuk ke politik.
Ini catatan yang tak penting bagi orang lain. Tapi saya merasa harus menulis seperti ini.
Ada orang baik seperti Pak Ronald Ngantung dengan senyum ramahnya yang tulus tak berubah saat kutemui awal di Jakarta 35 tahun lalu.
Juga saat kami bertemu 7 tahun lalu itu.
Saya yakin Anda juga pernah bertemu orang baik seperti Pak Ronald.
Maka ingat dan tuliskanlah. Kita harus mulai lagi membiasakan mengingat kebaikan orang.
Medsos tak menyediakan ruang yang cukup untuk itu.
Mark Zuckerberg telah meminta maaf atas kerusakan sosial yang ditimbulkan oleh platform ciptaannya.
Dan, untuk Pak Ronald Ngantung, telah kuceritakan kebaikan Bapak kepada anak-anakku. Terima kasih Pak. (Akbar Faizal)