Investigasi Media Israel: Klaim Penghancuran Total Rudal Iran Tak Sejalan Laporan Intelijen
TRIBUNNEWS.COM - Sebuah investigasi jurnalistik yang diterbitkan surat kabar Israel, Yediot Aharonot menuding adanya skandal propaganda yang dilakukan pemerintah Israel terhadap serangan ke Iran.
Media itu menyebut, kampanye disinformasi ini melibatkan kalangan politik Israel, dengan dugaan keterlibatan unsur militer dan aparat keamanan Israel.
Baca juga: Salvo Rudal Iran Lumpuhkan Radar Strategis AR-327 Bahrain, Sistem Pertahanan Terpadu AS Keok?
Menurut laporan, kampanye ini dimaksudkan untuk membentuk narasi kalau operasi militer terhadap Iran berhasil menghancurkan ancaman nuklir dan rudal negara tersebut.
Dalam laporannya, Yediot Aharonot menyebut narasi resmi yang disampaikan pemerintah Israel tidak sepenuhnya sejalan dengan penilaian internal lembaga intelijen mengenai dampak sebenarnya dari serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Menurut investigasi tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan kalau fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan telah dihancurkan secara menyeluruh sehingga ancaman nuklir Iran hilang untuk jangka panjang.
Namun, laporan itu mengklaim penilaian internal dari lembaga intelijen Israel maupun Amerika Serikat justru menunjukkan kerusakan yang terjadi belum mencapai tingkat "penghancuran total".
Investigasi menyebut fasilitas-fasilitas tersebut mengalami kerusakan signifikan, tetapi masih menyisakan kemampuan yang memungkinkan program nuklir Iran kembali berjalan.
Laporan juga menuduh kantor Perdana Menteri Israel berupaya mendorong sejumlah pejabat intelijen senior agar menandatangani dokumen yang mendukung narasi tersebut.
Menurut investigasi, para pejabat terkait menolak karena menilai isi dokumen tidak sesuai dengan hasil analisis profesional.
Yediot Aharonot selanjutnya mengklaim tekanan kemudian dialihkan kepada Komisi Energi Atom Israel, yang akhirnya menerbitkan dokumen yang menyebut fasilitas pengayaan uranium Iran tidak lagi dapat digunakan dan program nuklirnya mundur selama bertahun-tahun.
Namun investigasi menilai kesimpulan tersebut mengabaikan fakta bahwa sebagian bahan fisil disebut masih tersimpan di bunker bawah tanah yang tidak hancur dalam serangan.
Berdasarkan penilaian yang dikutip laporan tersebut, kemampuan nuklir Iran kemungkinan hanya mengalami kemunduran selama beberapa bulan, bukan puluhan tahun.
Selain program nuklir, laporan juga mempertanyakan klaim bahwa Israel telah menghilangkan ancaman rudal balistik Iran.
Investigasi menyebut serangan udara hanya menghancurkan sekitar sepertiga persediaan rudal dan sebagian fasilitas peluncur, sementara infrastruktur produksi utama tetap bertahan sehingga Iran dinilai masih memiliki kemampuan memproduksi dan mengembangkan rudal balistik.
Laporan juga mengklaim penilaian intelijen Israel dan Amerika saat itu tidak menemukan bukti bahwa Iran telah mengaktifkan tim khusus untuk memproduksi senjata nuklir maupun adanya perintah langsung dari pemimpin tertinggi Iran untuk membuat bom atom.
Investigasi turut menuduh militer Israel menyembunyikan hasil battle damage assessment (BDA) yang dilakukan setelah operasi militer.
Evaluasi tersebut, menurut laporan, menunjukkan bahwa target-target nuklir Iran belum sepenuhnya dihancurkan.
Laporan juga menyatakan klaim mengenai penghancuran kemampuan ilmiah Iran dinilai berlebihan.
Narasi resmi disebut menggambarkan seluruh ilmuwan penting program nuklir telah dieliminasi, padahal laporan intelijen yang dikutip hanya menyebut sembilan ilmuwan tewas, termasuk empat ilmuwan senior, dari ratusan tenaga ahli yang terlibat dalam program tersebut.
Investigasi juga menyoroti perubahan tujuan operasi militer pada awal 2026, ketika Netanyahu disebut menambahkan target pergantian rezim di Iran.
Menurut laporan, Intelijen Militer Israel dan Mossad telah memperingatkan bahwa tujuan tersebut sulit dicapai.
Meski demikian, sasaran itu tetap dimasukkan ke dalam strategi politik dengan istilah yang lebih lunak, yakni "menciptakan kondisi bagi perubahan rezim".
Investigasi menyimpulkan target tersebut tidak tercapai dan justru menghasilkan pemerintahan Iran yang, menurut laporan, lebih keras dibanding sebelumnya.
Menanggapi investigasi media tersebut, Kantor Perdana Menteri Israel, Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dan Komisi Energi Atom Israel membantah seluruh tuduhan.
Mereka menegaskan operasi militer terhadap Iran merupakan keberhasilan strategis yang telah melemahkan kemampuan nuklir maupun rudal Teheran.
Komisi Energi Atom juga menyatakan dokumen yang diterbitkannya disusun berdasarkan penilaian profesional.
Meski demikian, investigasi Yediot Aharonot menutup laporannya dengan peringatan bahwa penggunaan lembaga profesional untuk mendukung narasi politik berpotensi melemahkan kualitas pengambilan keputusan keamanan nasional di masa depan.
(oln/khbrn/YA/*)