SRIPOKU.COM - Sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka wajib mengetahui bahwa dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), terdapat beberapa materi penting yang harus diberikan atau dipelajari oleh peserta didik baru.
Sebagai informasi, pelaksanaan MPLS dilakukan selama 3 hari pada minggu pertama awal tahun pelajaran.
Kegiatan ini wajib dilaksanakan pada hari sekolah dan di dalam jam pelajaran. Adapun penyelenggara teknis kegiatan MPLS adalah Guru, yang dapat dibantu oleh siswa (seperti Pengurus OSIS).
Baca juga: Materi MPLS Pengenalan Kegiatan Kesiswaan Intrakurikuler OSIS Jenjang SMP Hingga SMA/SMK Tahun 2026
Bagi sekolah yang melaksanakan kegiatan MPLS namun ternyata belum memiliki persiapan matang terkait materi yang selaras dengan Kurikulum Merdeka atau Sekolah Penggerak, tidak perlu khawatir.
Dikutip dari buku saku pelaksanaan MPLS untuk sekolah pengguna Kurikulum Merdeka maupun Sekolah Penggerak, ada 9 materi inti yang harus diberikan kepada calon peserta didik baru, di antaranya:
Pengertian & Pentingnya Pendidikan Karakter
Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda negara kita.
Krisis tersebut antara lain berupa:
Fenomena di atas telah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.
Oleh karena itu, di sinilah letak betapa pentingnya pendidikan karakter ditanamkan sejak dini, termasuk pada momen MPLS.
Menurut pakar pendidikan Thomas Lickona, karakter berkaitan erat dengan tiga komponen utama:
Berdasarkan ketiga komponen ini, dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan nyata-nyata melakukan perbuatan kebaikan tersebut.
Memahami Sistem Pendidikan Karakter: Budi Pekerti Plus
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa keterlibatan ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan berjalan efektif.
Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas secara emosi. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. Anak akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal yang wajib dikenalkan kepada siswa baru saat MPLS:
Kesembilan pilar karakter tersebut diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode Knowing the good, Feeling/Loving the good, dan Acting the good.
Dasar pendidikan karakter ini sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age). Usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 persen variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30?rikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 % sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.
Dari data ini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga sebagai lingkungan pertama bagi pertumbuhan anak. Namun, bagi sebagian keluarga, proses pendidikan karakter yang sistematis sangat sulit diterapkan secara mandiri, terutama bagi orang tua yang terjebak pada rutinitas kerja yang padat.
Oleh karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga wajib diberikan secara kuat saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru (dipercaya dan dicontoh), dipertaruhkan karena guru adalah ujung tombak yang berhadapan langsung dengan peserta didik di kelas.
Apakah pendidikan karakter berpengaruh terhadap keberhasilan akademik? Jawabannya adalah ya.
Ringkasan penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh buletin Character Educator oleh Character Education Partnership.
Berdasarkan studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St. Louis, menunjukkan adanya peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter secara konsisten.
Kelas-kelas yang terlibat secara komprehensif menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang biasanya menghambat keberhasilan akademik.
Dalam buku Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) juga disebutkan bahwa sederet faktor risiko penyebab kegagalan anak di sekolah ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak (IQ), melainkan pada karakter, yaitu:
Hal ini sejalan dengan pendapat Daniel Goleman bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ), dan hanya 20 persen yang ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ).
Remaja yang berkarakter kuat akan lebih mudah mengontrol emosinya dan otomatis terhindar dari masalah makro remaja seperti kenakalan remaja, tawuran, narkoba, minuman keras (miras), hingga perilaku seks bebas.
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea telah membuktikan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun sistematis sejak pendidikan dasar berdampak sangat positif pada pencapaian akademis mereka.
Seiring gencarnya sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter pada momen MPLS Kurikulum Merdeka TA 2026/2027 ini, diharapkan setiap satuan pendidikan dapat segera mengimplementasikannya secara maksimal.
Tujuannya jelas, agar nantinya lahir generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter luhur sesuai nilai bangsa dan agama.***