Empat Jenis Penguasa
Irfani Rahman July 06, 2026 07:51 AM

Oleh: Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- MINGGU lalu, Senin, 29 Juni 2026, Kompas mengumumkan dua tokoh yang diberi penghargaan sebagai “cendekiawan berdedikasi 2026”, yaitu Chatib Basri dan Alissa Wahid.

Ketika diwawancara, Chatib Basri antara lain mengatakan bahwa dia mau menulis di media massa karena dapat menyampaikan pesan kepada publik dan bisa memengaruhi penentu kebijakan. 

Di sisi lain,  Alissa Wahid mengutip ayahnya, Gus Dur, yang mengatakan, “Bangsa kita disibukkan dengan kekuasaan, bukan kepemimpinan. Kita salah membaca kepemimpinan sebagai kekuasaan”.

Pernyataan dua tokoh tersebut antara lain menunjukkan bahwa cendekiawan sesungguhnya adalah pemimpin, meskipun tidak menduduki jabatan di dalam negara.

Pemimpin berarti orang yang menunjukkan arah ke mana kita sebaiknya melangkah, mampu mengidentifikasi masalah dalam kehidupan bersama, dan mengusahakan solusinya.

Justru karena tidak berada dalam lingkaran kekuasaan negara, mereka bisa dianggap sebagai sosok pemimpin yang independen. Mungkin karena itu, judul Kompas edisi tersebut agak bombastis: “Menjaga Pendar Lilin di Tengah Badai…”.

Dalam alam demokrasi, orang yang dianggap pemimpin tentu sangat luas. Di tataran negara, ada pemimpin di eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Di masyarakat sipil, selain cendekiawan dan tokoh agama, ada pemimpin organisasi, masyarakat adat, kaum buruh, sastrawan, wartawan, hingga mahasiswa.

Sesuai dengan kedudukan dan peran masing-masing, mereka adalah pemimpin bagi para pengikutnya. Sebagai pemimpin, dalam batas tertentu, mereka tentu memiliki kuasa atas para pengikut tersebut dan terhubung dengan para pemimpin lain yang juga memegang kuasa.

Masalah kekuasaan dan kepemimpinan sesungguhnya setua umat manusia itu sendiri. Karena itu, tidak sedikit pemikiran yang muncul tentang masalah ini, yang dapat menjadi cermin bagi manusia sepanjang masa.

Salah satu yang menarik adalah berasal dari tradisi Cina, yakni kitab Tao Te Ching yang diperkirakan ditulis pada abad ke-5 atau ke-6 sebelum masehi. Pada 2025 lalu, Seyyed Hossein Nasr, tokoh Muslim yang sangat senior, orang Iran dan tinggal di Amerika, menerbitkan terjemahan Inggris dan komentar atas kitab ini yang diberi judul A Sufi Commentary on the Tao Te Ching.

Dalam bab ke-17, kitab Tao Te Ching menyebutkan empat jenis penguasa. Pertama, penguasa yang paling hebat adalah rakyat merasakan kehadirannya tetapi tidak merasa diintervensi olehnya.

Rakyat merasa seolah semua hal diselesaikan oleh rakyat sendiri. Nasr mengumpamakannya dengan lampu yang menerangi kegelapan. Cahaya lampu dapat dirasakan, tetapi orang merasa bebas beraktivitas tanpa diatur oleh cahaya.

Kedua, penguasa yang turun tangan mengatasi masalah-masalah di masyarakat secara baik dan adil. Dialah penguasa yang dicintai dan dipuji oleh rakyat.Ketiga dan yang keempat adalah penguasa yang buruk.

Yang ketiga adalah penguasa yang menebarkan rasa takut di masyarakat melalui ancaman atau tindak kekerasan, agar rakyat patuh dan tunduk kepadanya. Jika penguasa yang kedua dicintai, maka yang ketiga ini ditakuti.

Yang keempat adalah penguasa yang dibenci, tidak dihormati dan diabaikan. Inilah yang terburuk dari semuanya. Terakhir ini, komentar Nasr, adalah penguasa yang kehilangan kepercayaan dari rakyatnya. Kepercayaan itu luntur karena sang penguasa seringkali tidak jujur alias bohong.

Empat jenis penguasa yang digambarkan oleh Tao Te Ching di atas kiranya menunjukkan bagaimana kepemimpinan atau cara seseorang memimpin. Paling ideal dan sangat sulit ditiru adalah yang pertama.

Ini hanya bisa dilakoni oleh orang yang amat bijak. Nasr berkomentar, “Jika si penguasa itu tenang dan tertata, lalu mengungkapkan kata-kata yang berbobot, tugasnya akan tuntas”. Kemudian, rakyat akan berkata, “Segala yang telah kami kerjakan, kami kerjakan secara alamiah, oleh kami sendiri”. Sang pemimpin tak tampil ke depan. Ia laksana garam yang terasa asin tetapi tak kelihatan.

Di zaman media sosial yang amat visual ini, sungguh sulit menjadi penguasa dengan kepemimpinan seperti di atas. Mungkin lebih menarik adalah pemimpin yang peka dan responsif terhadap masalah yang sedang dihadapi rakyat dan mengupayakan solusinya.

Tentu banyak penguasa yang ingin dicintai rakyat. Hanya saja, rakyat itu banyak dan bermacam-macam. Manakah rakyat yang dibelanya, yang kuat atau yang lemah? Beranikah dia berlaku adil, meskipun melawan yang kuat? Mungkin kebanyakan penguasa lebih memilih yang kuat, agar kekuasaannya aman.

Jika demikian, maka secara perlahan dia akan menjadi penguasa yang ketiga dan keempat, yakni yang ditakuti dan kemudian tidak dihormati. Ketika seorang penguasa memihak pada yang kuat, maka yang lemah akan ditekan, diancam dan ditindas.

Kepemimpinannya menjadi otoriter, tak mau mendengarkan atau pura-pura tidak mendengar suara orang kecil.

Lambat laun, dia dipuja-puji oleh para penjilat di sekelilingnya, tetapi dibenci oleh mayoritas rakyat yang lemah. Kepercayaan rakyat pun akhirnya terkikis. Dia tak lagi dianggap sebagai pemimpin. Dia hanya penguasa.

Gambaran sederhana di atas, sekali lagi, tidak hanya berlaku untuk kalangan eksekutif, tetapi juga legislatif dan yudikatif. Tidak hanya mengenai para pemimpin organisasi, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat seperti cendekiawan, ulama, seniman, sastrawan, wartawan, bahkan mahasiswa.

Karena itu, kita patut bertanya, termasuk jenis yang manakah mayoritas para pemimpin di negeri ini? Mana yang lebih banyak, orang yang berkuasa untuk memimpin perubahan di masyarakat agar menjadi lebih baik, atau orang yang tamak akan harta dan kuasa tetapi miskin tanggung jawab? (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.