TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG - Musim panen udang rebon di Teluk Karang, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, kembali membawa berkah bagi nelayan setempat.
Sejak pertengahan Juni 2026, hasil tangkapan udang rebon mulai berlimpah dan menjadi sumber tambahan penghasilan warga.
Dengan menggunakan alat tangkap tradisional berupa pencauk dan galah panjang yang dipasang jaring, nelayan turun melaut sejak pagi hingga siang hari.
Hasil tangkapan bervariasi, mulai dari 8 kilogram hingga tembus 20 kilogram sekali melaut.
Udang rebon segar kemudian dijemur untuk dikeringkan, karena udang rebon kering memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Salah satunya Heri, warga Teluk Karang ini sejak awal musim panen udang rebon sudah aktif turun melaut. Ia menangkap udang rebon untuk dijual ke pengepul.
"Sudah mulai banyak sih nelayan-nelayan yang sudah mencari bubuk ini," kata Heri.
• Nelayan Teluk Karang Singkawang Dulang Rupiah, Udang Kering Tembus Rp50 Ribu Per Kilo
Heri mengatakan, hasil tangkapannya rata-rata mencapai belasan kilogram bahkan tembus 20 kilogram udang rebon basah.
Hasil tangkapan lalu dijemur untuk dikeringkan sehingga kadar air berkurang. Udang rebon kering memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Kalau ini kan kita untuk jemur, kita jual kering. Kita jual kering, nanti ada cangkau yang ambil, agen yang ambil keringan nya," jelasnya.
Dia menyebut, sejauh ini dirinya hanya menjual udang rebon kering. Sehingga belum ada stok untuk mengolah udang rebon menjadi belacan atau terasi.
"Kalau saat ini sih kita belum bikin terasi sendiri lah. Masih kita jual, kita cari modal dulu," ungkapnya.
Dia mengatakan, harga udang rebon segar saat ini 20 ribu Rupiah per kilogram. Namun bila konsumen ingin diantar sampai rumah maka udang rebon dijual 25 ribu Rupiah.
"Kalau untuk harganya sekarang bubuk yang segar kayak ini berapa, kalau untuk basahnya kita jual di sini kalau di laut ini 20 ribu per kilogram," ucapnya.
"Kalau kita antar ke rumah itu biasanya kita 25 ribu. Antar langsung," imbuhnya.
Sementara harga udang rebon kering dijual 50 ribu per kilogram. Harganya lebih tinggi karena sudah menjadi bubuk siap olah.
"Kalau untuk yang sudah kering kan biasanya ada yang beli keringnya, itu per kilonya 50 ribu. Per kilonya itu 50 ribu kita siap giling," tegasnya.
Dia menyebutkan, untuk harga terasi produksi rumahan warga Teluk Karang dijual sekitar 100 hingga 120 ribu tergantung kualitas.
"Kalau terasi saat ini sih masih harga normal sih. Masih 110 ribu, 100 ribu. Paling mahal itu 120 ribu . Kalau paling murah mulai itu 100 ribu," ungkapnya.
• Berkah Musim Bubuk, Nelayan Tradisional Teluk Karang Singkawang Tangkap 20 Kg Udang Rebon Sehari
Heri memilih menjual kering hasil tangkapan udang rebon usai melaut Minggu pagi. Sebelum sampai ke tangan pembeli udang rebon dijemur di bawah terik matahari seharian.
"Ini hasil tangkapan pagi ini kita jemur untuk jual kering. Ini kalau jual keringnya tadi ditimbang sekitar 8 kilo setengah, 4 kilo jadinya. Iya 4 kilo keringnya. Jadi setengahnya menyusut," katanya.
Dia mengatakan, bagi nelayan ukuran udang rebon yang besar lebih menguntungkan dari segi pemasukan hasil penjualan.
"Makin besar bubuknya itu makin bagus. Makin kita dapat hasil berat, dapat hasilnya uang banyak," katanya.
Lebih jauh, proses menangkap udang rebon belum mengalami hambatan dan kendala. Hanya saja nelayan sangat dipengaruhi faktor kecepatan angin.
Dia bilang, apabila kondisi angin cukup kencang membuat perahu akan terus bergerak sehingga menyulitkan nelayan menangkap bubuk.
"Kalau untuk kendala sih kita angin sih. Karena selatannya kan kuat lah selatannya aja itu. Jadi jangkar itu mundur terus. Jadi bergerak perahunya. Jadi kita itu nggak sedikit-sedikit kita maju lagi. Lempar jangkar lagi gitu," katanya.
Namun, menurut dia justru cuaca panas itu cuaca yang paling ditunggu nelayan.
"Kalau cuaca panas itu alhamdulillah kita bersyukur. Kalau cuacanya panas. Karena kalau bubuk ini kan kalau makin panas kan kita bersyukur. Kalau susah itu hujan itu susah kali kita," katanya.
Cuaca panas terik memudahkan nelayan menangkap bubuk, di samping itu cuaca panas mendukung proses jemur udang rebon semakin cepat kering.
"Karena kalau hujan kita mau jemurnya susah. Kalau mau jual kan. Apalagi kalau udah melimpah, susah sekali," katanya.
(*)